PENIGKATAN GIZI

Peningkatan Kesadaran Gizi Ibu dan Balita; Sosialisasi PP Muslimat NU dan Yaici di Palembang Sumatera Selatan

Dra.Hj.Khofifah Indar Parawansa, M.Si.

Mengarungi Kisah Inspiratif Hj Khofifah Indar Parawansa

MANASIK HAJI

Pembelajaran Manasik Haji Kecil TKTA Tarbiyatul Athfal41 Semarang pada Tgl.8 Oktober 2015 di Islamic Center Semarang

Pelatihan Penguatan Keaswajaan Da’iyah Muslimat NU

Penguatan Keaswajaan Bagi Da’iyah Muslimat NU DKI Jakarta

Ketua NU Kota Semarang

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, Dr. KH. Anasom MHum

Sabtu, 09 April 2016

Ini Ciri Rumah Ideal bagi Pemilik Anak Usia Dini

Jakarta - Apa yang menjadi pertimbangan utama Anda saat membeli rumah baru? Jarak dengan pusat kota, dengan jalan tol, atau  kantor? Seberapa besar Anda mempertimbangkan faktor kebutuhan anak saat hendak membeli rumah?

Terkadang, orang tua tanpa sengaja menomorduakan kebutuhan anak-anak pada saat membeli rumah. Padahal, anak dan orang tua memiliki kebutuhan psikologis yang berbeda. Ada hal-hal yang harus Anda perhatikan saat membeli rumah agar proses tumbuh kembang anak, baik fisik maupun mental, bisa berjalan dengan sempurna. Apa saja?

Menurut motivator pendidikan kreatif, Rahmi Dahnan, Psi, seperti dikutip dari www.rumah.com, agar proses tumbuh kembang anak dapat berlangsung dengan baik, orang tua harus menyediakan lingkungan yang baik. Tidak masalah apakah Anda tinggal di apartemen atau di rumah tapak, yang terpenting perhatikan faktor-faktor berikut:

1. Perhatikan karakter tetangga

Anak-anak harus bergaul dengan sebayanya. Mereka perlu bermain sekaligus bersosialisasi. Jika lingkungan perumahan lebih banyak dihuni oleh warga pensiunan, misalnya, anak-anak akan kekurangan teman untuk bermain dan bersosialisasi.

2. Taman atau Playground

Playground menjadi sarana sosialisasi anak-anak. Mereka bisa bergaul dengan teman sebayanya. Di sini mereka belajar berinteraksi, belajar bersosialisasi. Anak-anak belajar antri, belajar berbagi.

Pentingnya belajar bersosialisasi di antaranya agar anak tidak menjadi korban bully. Dengan bersosialisasi, anak-anak belajar menempatkan diri, belajar berkawan. Jika tidak, anak-anak akan menjadi tidak percaya diri. Anak-anak yang tidak percaya diri terlihat dari gerak tubuhnya dan membuatnya jadi sasaran pelaku bullying. Selain itu, sosialisasi membuat anak memiliki semangat berkompetisi.

Jika lingkungan cluster yang menjadi incaran tidak menyediakan taman bermain, setidaknya harus ada taman umum dalam jarak yang cukup terjangkau.

3. Ruang terbuka

Ruang terbuka diperlukan karena usia kanak-kanak adalah usia di mana mereka sedang aktif bergerak. Anak-anak harus punya ruang untuk berlari-lari, bermain sepeda, dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan ini akan merangsang saraf motorik anak-anak.

4. Dekat dengan sekolah dengan kurikulum yang tepat

Rahmi menuturkan, sekolah yang bagus adalah sekolah yang memiliki kurikulum pembentukan watak, Misalnya, sekolah yang membiasakan murid-muridnya belajar mengantri, sholat jamaah, mengunjungi panti asuhan.

Kebanyakan orang menilai sebuah sekolah dari kurikulum akademiknya. Padahal, akademik lebih tepat dikembangkan di usia yang lebih tinggi. Pada usia dini, anak-anak lebih baik dididik soal karakter.

Kedekatan rumah dengan sekolah harus menjadi pertimbangan. Sekolah yang jauh membutuhkan waktu tempuh yang lama, membuat anak kelelahan dalam perjalanan. Selain itu, jarak rumah yang dekat dengan sekolah memudahkan orang tua untuk mengawasi anak-anaknya.

5. Keamanan

Anak-anak membutuhkan banyak kegiatan di luar ruang, terutama di lingkungan perumahan. Mereka akan berlari-lari, bersepeda, petak-umpet, dan lain-lain. Sebagai orang tua, adalah tanggung jawab Anda untuk selalu mengawasi mereka. Namun lingkungan perumahan juga harus memiliki sistem keamanan yang baik untuk meningkatkan keamanan di lingkungan.

Tidak hanya peralatan canggih yang menjadi syarat, seperti CCTV, tetapi juga aspek sumber daya manusianya. Anda harus kenal betul dengan petugas keamanan di lingkungan, begitupula para petugas harus kenal betul dengan warganya.

Dengan demikian, petugas keamanan bisa langsung tanggap saat anak-anak mulai meninggalkan kawasan perumahan ataupun saat ada orang asing mulai berinteraksi dengan anak-anak Anda.

6. Kenyamanan di dalam rumah

Setelah Anda mendapatkan hunian yang ideal secara fisik, yang terakhir dan yang paling utama yang harus Anda sadari adalah kenyamanan saat menghuninya. Rumah adalah tempat anak ‘kembali’. Di rumah, anak-anak harus merasa nyaman, bebas dari rasa tertekan. Di rumah, orang tua juga harus membiasakan anak bersosialisasi, seperti berbagi, mengantre, dan sebagainya


sumber:http://properti.liputan6.com/read/2375748/ini-ciri-rumah-ideal-bagi-pemilik-anak-usia-dini

Selasa, 29 Maret 2016

Sosialisasi Kerja Sama Program PAUD: "Informasi yang Utuh sangat Dibutuhkan"

Puluhan penyelenggara Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) PAUD di wilayah timur Indonesia antusias mengikuti Sosialisasi Kerja Sama Program PAUD dan Dikmas di Hotel Lor In New Kuta, Bali. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Ditjen PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini berlangsung sejak 16 s.d. 18 Maret, ini juga diikuti oleh perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi, dan Dinas Pendidikan kabupaten/kota.

Menurut Kepala Bagian Umum dan Kerja Sama Ditjen PAUD dan Dikmas Triana Januari, kegiatan ini bertujuan untuk menjawab kendala yang kerap dialami para penyelenggara SPK PAUD terkait pelaksanaan Permendikbud No.31 Tahun 2014 Tentang Kerja Sama dan Pengelolaan Pendidikan oleh Lembaga Asing dengan Lembaga Pendidikan di Indonesia. “Masih banyak kendala yang dirasakan oleh penyelenggara SPK PAUD, terutama terkait perizinan,” ujar Triana saat membacakan laporan kegiatan.

Triana menyebutkan, beberapa kendala terkait perizinan itu di antaranya adalah rekomendasi pendirian sekolah dari dinas kabupaten/kota, dan izin mempekerjakan tenaga kerja asing dan peserta didik asing dari Ditjen PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Triana menegaskan, Ditjen PAUD dan Dikmas telah menetapkan standar pelayanan proses perizinan tersebut. “Jika berkas pengajuan sudah lengkap, maksimal tujuh hari kerja, proses harus sudah selesai. Namun sayangnya, seringkali berkas pengajuan yang masuk belum lengkap,” ungkapnya.

Triana menambahkan, salah satu penyebab hal tersebut karena sebagian penyelenggara SPK PAUD kurang memahami persyaratan untuk memeroleh rekomendasi dari dinas setempat. “Hal ini disebabkan masih kurangnya informasi yang utuh tentang Permendikbud No.31 Tahun 2014,” ujarnya. Menyikapi hal tersebut, Kemdikbud sebagai regulator SPK berupaya menyosialisasikan Permendikbud ini kepada unsur Dinas Pendidikan kabupaten/kota dan penyelenggara SPK PAUD di seluruh Indonesia.

Melalui sosialisasi ini, para pelaku SPK PAUD diharapkan dapat memahami proses, mekanisme, dan tata cara pengajuan izin pendirian satuan pendidikan kerja sama, juga izin mempekerjakan tenaga kerja asing dan izin belajar peserta didik asing sesuai Permendikbud No.31 Tahun 2014. “Ini menjadi bagian dari upaya kita dalam rangka memberikan informasi yang utuh mengenai regulasi SPK PAUD,” tegas Triana. (Tim Warta/KS/Bali2016)


sumber:https://paudni.kemdikbud.go.id/berita/8309.html

Geliat Direktorat Pendidikan Keluarga dan OASE KK

Jakarta, PAUD dan Dikmas. Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga (Ditbindikkel), Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas), bersama dengan Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE KK) menggelar Seminar Pendidikan Keluarga Duta OASE Cinta. Minggu (6/3)

Saat menyampaikan laporan kegiatan dihadapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan dan peserta seminar, selaku Direktur Jenderal PAUD dan Dikmas, Harris menyampaikan tujan dan tema seminar yang mengusung mengoptimalkan pelibatan publik melalui keluarga, satuan pendidikan dan masyarakat dalam menumbuhkan budi pekerti dan budaya prestasi.

Kegiatan yang dilaksanakan sejak tanggal 6 s/d 8 Maret ini dihadiri oleh 620 peserta terdiri dari Pengurus-pengurus  Dharma Wanita dari tingkat Pusat, Kemdikbud, Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota serta delapan UPT Ditjen Paud dan Dikmas.

Seminar Pendidikan tersebut menyajikan materi antara lain: mengatasi bahaya kekerasan dan pornografi, komunkasi yang efektif untuk membangun karakter anak dan mengasuh anak dengan cinta, serta seminar ini tidak hanya sekedar membekali peserta dengan ilmu pendidikan keluarga namun juga mengukuhkan para peserta sebagai duta oase cinta.


Dirjen juga mengajak para duta oase cinta menerapkan program pendidikan keluarga didaerahnya masing-masing, serta seluruh peserta seminar untuk terlibat aktif dalam laman sahabat keluarga yang menyuguhkan tips pendidikan keluarga, kisah keluarga hebat dan sekolah keren serta dongeng-dongeng , vidio, lagu-lagu dan berbagai fitur lainnya, termasuk forum sahabat keluarga


Semuanya kami siapkan berbagai sumber daya yang kami miliki untuk masyarakat guna mendidik anak Indonesia yang tangguh, sebagaimana para orang tua inginkan, berkarakter dan juga berprestasi.

Termasuk melibatkan publik dalam hal ini para penulis untuk memamerkan buku-buku yang bertemakan pendidikan keluarga sebagai jendela informasi bagi para peserta yang disajikan di pameran didepan ruang sidang, ujar haris menutup laporannya. (M. Husnul Farizi, Pri/KS)

sumber :https://paudni.kemdikbud.go.id/berita/8269.html

SPK PAUD harus Penuhi Lima Kewajiban

Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bukan cuma menyangkut persaingan ekonomi. Era perdagangan bebas kawasan Asia Tenggara ini juga mendorong tenaga asing membanjiri Indonesia. Akibatnya banyak anak-anak dari tenaga asing ini yang harus sekolah. Kondisi ini memicu menjamurnya lembaga pendidikan asing di Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat, hingga tahun 2015 sedikitnya ada 147 SPK PAUD yang tersebar di seluruh Indonesia.


Hal tersebut disampaikan Sekretaris Ditjen PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Wartanto saat membuka Sosialisasi Kerja Sama Program PAUD dan Dikmas di Bali, 16 Maret 2016. Kondisi inilah yang mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan regulasi melalui Permendikbud Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Kerja Sama Penyelenggaraan dan Pengelolaan Pendidikan oleh Lembaga Pendidikan Asing dengan Lembaga Pendidikan di Indonesia (Satuan Pendidikan Kerja Sama/SPK). “Melalui regulasi ini kami berupaya memberikan payung hukum bagi SPK,” ungkapnya.
Dalam Permendikbud ini, seperti diutarakan Wartanto, terdapat lima kewajiban yang harus dipenuhi oleh SPK PAUD. Kewajiban pertama adalah memiliki izin operasional. Ia mengingatkan, agar setiap SPK PAUD wajib memiliki izin operasional.


“Izin ini ada pada kami. Penyelenggara SPK tidak usah takut dipersulit. Kami berupaya memberikan pelayanan yang mudah dan cepat asalkan semua berkas persyaratan sudah lengkap,” tegas Wartanto. Kewajiban kedua, melaksanakan kurikulum pendidikan nasional. Hal ini penting karena pendidikan adalah proses dan anak PAUD adalah aset yang paling berharga. Untuk itulah pemerintah Indonesia menerapkan kurikulum sebagai perangkat untuk membentuk pribadi anak khususnya yang menjadi warga negara Indonesia. Lebih lanjut Wartanto menegaskan, setiap SPK PAUD wajib melaksanakan kurikulum pendidikan nasional ditambah kurikulum SPK. Kurikulum tersebut harus mengenalkan budaya dan bahasa Indonesia. “Terutama bagi peserta didik WNI, SPK PAUD wajib mengajarkan pendidikan agama, Pancasila dan kewarganegaraan,” ujarnya.


Kewajiban berikutnya adalah sadar lingkungan. Wartanto mengingatkan, SPK jangan menjadi satuan pendidikan ekslusif yang tidak peduli pada lingkungan sekitar. Bentuk sadar lingkungan itu misalnya dengan menghargai keragaman budaya Indonesia. Wartanto mencontohkan, SPK PAUD dapat berpartisipasi pada hari besar nasional. Ketika ada kegiatan 17 Agustusan misalnya, SPK hendaknya ikut memeriahkan. Ini bentuk kesadaran terhadap lingkungan sekitar.
“Bila ini dilakukan, maka dengan sendirinya masyarakat dapat merasakan manfaat keberadaan SPK sehingga menganggap SPK bagian dari lingkungan mereka,” tegasnya. Sejalan dengan misi Kemdikbud, sekolah adalah taman yang menyenangkan bagi peserta didik. Terkait hal ini SPK wajib menjadi wilayah yang terbebas dari bullying dan pengaruh negatif lainnya. SPK harus bebas dari kekerasan, pengaruh negatif seperti pornografi narkoba, pelecehan, dan perkelahian. “SPK juga harus melakukan penyaringan untuk memastikan pendidik yang ditugaskan adalah orang yang memiliki kompetensi dan bebas dari pengaruh narkoba,” tegasnya.


Sesuai amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, setiap penyelenggaraan pendidikan wajib memenuhi Delapan Standar Pendidikan Nasional yang meliputi standar isi, proses, penilaian, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, serta pengelolaan. Dalam hal ini SPK PAUD selain wajib memenuhi akreditasi sebagai SPK juga wajib memenuhi akreditasi yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal (BAN PNF). Lima kewajiban itu menjadi kunci. Kalau lima kewajiban itu dilaksanakan di SPK, maka tidak akan ada lagi masalah-masalah sosial. Masyarakat akan dapat merasakan manfaat keberadaaan SPK,” ujar Wartanto. (Tim Warta/KS/Bali_2016)

sumber:https://paudni.kemdikbud.go.id/berita/8299.html

Kamis, 03 Maret 2016

Menemani Anak dalam Pengembangan Minat dan Bakatnya

Ada dua istilah yang sering didengar dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan anak yakni minat dan bakat. Keduanya sering disalahartikan. Minat merujuk pada preferensi seseorang mengenai hal-hal yang disukainya. Misalnya ada orang yang suka bekerja di luar ruangan namun sebagian lain ada yang lebih suka bekerja di dalam ruangan. Ada yang suka bekerja dengan manusia lain namun ada yang lebih menikmati mengotak-atik mesin.

Sementara itu, bakat berhubungan dengan kemampuan yang dimiliki seseorang di area tertentu. Ada orang yang lebih mampu bekerja dengan angka sedangkan yang lain memiliki kemampuan yang baik dalam bahasa. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa baik minat dan bakat mengarahkan seseorang pada suatu aktivitas tertentu. Perbedaannya, minat lebih didasarkan pada kesukaan sedangkan bakat didasarkan pada kemampuan.

Akan sangat ideal jika keduanya mengarah pada satu aktivitas yang sama. Misalnya seseorang yang memiliki minat bekerja bersama orang lain sekaligus berbakat menjadi seorang negosiator. Sebaliknya akan ada masalah jika seseorang berminat pada satu hal namun tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk melakukannya. Demikian juga jika dia berbakat untuk melakukan sesuatu namun sebenarnya dia tidak memiliki minat terhadap hal tersebut.


sumber:http://health.liputan6.com/read/2322548/menemani-anak-dalam-pengembangan-minat-dan-bakatnya

5 Ini Hal yang Anak Pelajari dari Orangtua Mereka

Anak merupakan peniru yang baik saat melihat bagaimana kebiasaan orang tua mereka. Tanpa disadari, mental anak-anak tumbuh dan berkembang dari bagaimana perilaku Anda sebagai orang tua di hadapan mereka.

Tak jarang orang tua memaksakan kehendak dan pemikirannya pada anak, sedangkan hal tersebut tidak sejalan dengan apa yang mereka lakukan. Seperti dilansir dari Time.com pada Minggu baru-baru ini, mengungkapkan apa yang anak pelajari dari orang tua untuk pembentukan dan perkembangan mental mereka.

Liputan6.com merangkun beberapa hal yang anak ingat dan pelajari dari Anda sebagai modal pembentukan karakternya kelak.

1. Ketika anak Anda merasa aman

Terkadang anak-anak seringkali memiliki imajinasi yang berlebih, entah itu monster atau mimpi buruk lainnya. Buatlah anak merasa aman dengan kehadiran Anda. Dengan demikian, anak selalu ingat bagaimana Anda melindunginya.

2. Ketika anak Anda mendapat perhatian penuh

Tanpa Anda sendiri anak-anak mampu mengukur seberapa besar perhatian yang diberikan orang tua kepadanya. Perhatian yang penuh akan membentuk karakter anak ketika dewasa kelak. Perhatian yang cukup akan membantu perkembangan mentalnya dalam menghadapi masalah.

3. Ketika Anda sedang berinteraksi dengan suami/istri

Bagaimana hubungan antara suami dan istri juga menjadi salah satu role model yang dilihat anak dalam membentuk kepribadiannya. Interaksi dan perlakuan yang Anda dan pasangan lakukan satu sama lain akan menjadi contoh baginya.

4. Pondasi dan dasar yang kuat

Ketika Anda mengutarakan persetujuan dan larangan anak seperti halnya semen yang basah, pondasi dan prinsip mereka terbentuk melalui didikan Anda. Mereka harus diberikan informasi jelas apa yang tidak dan boleh dilakukan. Selain itu, penanaman nilai disiplin menjadi poin penting dalam mendidik anak.

5. Tradisi keluarga

Anak- anak mencintai sesuatu dengan cara yang spontan. Mereka juga memiliki kebutuhan yang mendalam untuk dapat memprediksi. Mereka mempelajari kebiasaan yang keluarganya lakukan, seperti traveling di akhir pekan atau makan malam bersama. Oleh karena itu, sebagai orang tua, Anda bisa mulai membentuk kebiasaan yang nantinya akan jadi tradisi keluarga.


sumber :liputan6.com

Saat Anak Mencari Idola

Idola adalah sosok yang dikagumi dan hendak ditiru segala perilakunya. Faktanya, individu dari usia anak-anak bahkan sampai dewasa, banyak yang mengidolakan sosok tertentu dalam kehidupannya. Mulai sosok di dunia nyata seperti orangtua, guru, pahlawan, tokoh agama, hingga sosok fiktif seperti tokoh-tokoh dalam film dan cerita fiksi.

Pencarian sosok idola pada umumnya dimulai semenjak individu berusia kanak-kanak. Sosok idola pertama biasanya adalah figur terdekat yakni orangtua atau pengasuhnya. Pada anak yang lebih usianya lebih dewasa, tokoh idola bergeser ke figur yang berada di luar keluarga termasuk juga tokoh-tokoh fiktif misalnya superhero. Bagi seorang anak, idola berperan penting dalam perkembangan dirinya. Lewat jendela mata tokoh idolanya, anak akan melihat dunia di sekitarnya. Tidak berhenti sampai di situ, anak-anak bahkan akan berpenampilan dan berperilaku secara serupa dengan tokoh idolanya.

Memiliki idola sebenarnya dapat mendorong remaja berkembang secara positif. Jika sang idola, misalnya saja, adalah sosok yang suka menolong, para remaja yang mengidolakannya dapat terdorong untuk melakukan perilaku serupa. Masalahnya, tidak semua sosok idola adalah sosok yang ideal. Bagi mereka yang berada di usia remaja, pemilihan idola seringkali tidak menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang adaptif secara sosial. Banyak remaja yang mengidolakan tokoh-tokoh yang di mata masyarakat justru merupakan tokoh yang pandangan dan perilakunya dianggap negatif. Misalnya saja pecandu narkoba bahkan pelaku tindak kriminal.

Hal ini terjadi karena remaja memiliki pertimbangan yang khas dalam memilih idola. Pertimbangan-pertimbangan tersebut seringkali tidak menghiraukan kepatutan moral dan sosial. Yang penting sang idola secara tampak mata memiliki karakteristik yang diakui dan dikagumi oleh lingkungan sekitarnya. Hal ini tentu saja akan berpotensi mempengaruhi para remaja tersebut untuk berperilaku secara tidak adaptif pula.

Oleh karenanya, penting bagi para orangtua untuk mengambil peran saat anak-anak mereka mencari tokoh-tokoh yang menjadi idolanya. Orangtua memang tidak dapat menentukan sepenuhnya bagaimana anak mencari idola. Akan tetapi, dengan mengajak diskusi dan memberikan pertimbangan, orangtua bisa saja mempengaruhi anak-anaknya dalam memilih sosok yang diidolakannya.



sumber:http://health.liputan6.com/read/2447415/saat-anak-mencari-idola

Sabtu, 20 Februari 2016

Anggaran Kemdikbud harus Tepat Jumlah dan Tepat sasaran

Para pelaku pendidikan, mulai dari pusat hingga daerah harus bersama-sama menanamkan kejujuran dan berkomitmen untuk menegaskan bahwa Kemdikbud merupakan wilayah bebas dari korupsi. Untuk  meuwujudkan komitmen tersebut, setiap individu dituntut bekerja dengan penuh dedikasi, tanpa pamrih, dan anti gratifikasi.

Demikian pesan Sekrtetaris Jenderal (Sekjen) PAUD dan Dikmas Kemdikbud, yang disampaikan Agus Pranoto, Kabag Perencanaan Setdirjen PAUD pada saat menutup Rapat Kerja Nasional (Rakornas) PAUD dan Dikmas Angkatan III di Hotel Grand City, Makassar, (17/2).

Setelah mengikuti rakornas, para peserta diharapkan segera mensosialisasikan kebijakan, program, dan anggaran kepada daerah di wilayah kerjanya masing-masing. Soal anggaran, Wartanto berpesan agar hendaknya anggaran digunakan dengan tepat jumlah dan tepat sasaran, “Harus sesuai dengan harapan masyarakat,” tandasnya.

Para peserta rapat juga harus meningkatkan koordinasi dengan para pelaku pendidikan lainnya. Dia melanjutkan, kabupaten/ kota harus segera memperjuangkan program SKB agar  segera menjadi satuan pendidikan.

Rapat Kerja Nasional (Rakornas) PAUD dan Dikmas dilakasanakan di tiga regional. Angkatan pertama dan kedua dilaksanakan di Medan dan Surabaya. Sedangkan angkatan ketiga dilaksanakan di Makassar sejak 15-17 Pebruari. Sedianya Rakornas Makassar ditutup oleh Sekjen, namun yang bersangkutan berhalangan hadir karena harus mempersiapkan diri menghadapi Rembuknas di Bogor pada 21 Pebruari mendatang.(mahmudah/KS)


sumber lebih lnjut:http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/8199.html

Mutu Kursus dan Pelatihan akan Digenjot

Memasuki 2016, Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan (Ditbinsuslat) Ditjen PAUD dan Dikmas telah merancang sejumlah strategi untuk meningkatkan mutu pembelajaran di bidang kursus dan pelatihan. Untuk mewujudkannya, direktorat yang dipimpin Yusuf Muhyidin ini melakukan perluasan akses.

Pada Rapat Kerja Nasional (Rakornas) PAUD dan Dikmas Angkatan III di Hotel Grand City, Makassar (16/2), Yusuf menjelaskan bahwa pihaknya menyediakan layanan program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK). Program ini disasar untuk 90 ribu orang. Selain itu, Ditbinsuslat juga menyediakan layanan program Pendidikan Kecakapan Kewirausahaan (PKW) untuk 30 ribu orang, dan menyediakan program kursus dan pelatihan untuk daerah 3T.

“Kita juga menyiapkan bantuan untuk sarana dan prasarana LKP. Ada 100 lembaga yang akan menerima bantuan,” ujarnya. Selain itu, imbuh Yusuf, pihaknya akan membentuk dan membina 263 tempat uji kompetensi (TUK), dan meningkatkan sarana dan prasarana satuan pendidikan SKB menjadi kursus dan pelatihan rujukan, “Ada lima lembaga yang akan menjadi sasaran,” lanjutnya.

Pengembangan SKL dan kurikulm berbasis KKNI dan penyediaan bahan ajar kursus dan pelatihan dalam bentuk cetak dan audio visual, juga sudah diprogramkan. Ada pula program persiapan akreditasi melalui evaluasi kinerja lembaga. Program ini akan melibatkan 2.500 LKP. “Kita pun akan melakukan pemagangan peserta didik kursus dan pelatihan sebanyak 1.000 orang, dan publikasi kursus dan pelatihan, serta penyiapan  mengikuti Kompetisi Word Skill,” terang Yusuf.

Yusuf berharap agar program-program yang dicanangkan pada 2016 ini bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dia optimistis upaya peningkatan mutu kursus dan pelatihan akan berdampak positif kepada mutu peserta didik. (Tim Warta/KS)

lebih lanjut sumber:http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/8179.html

Mendikbud Sidak Renovasi TPA Mekar Asih

Jakarta, PAUD dan Dikmas. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies R Baswedan, melakukan inspeksi mendadak (sidak) renovasi Taman Penitipan Anak (TPA) Mekar Asih Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), usai acara pembekalan dan Pelepasan Pengajar Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA) ke luar negeri. Selasa (16/2)

Sidak ini dilakukan sebagai salah satu bentuk pengawasan kesiapan bangunan TPA usai direnovasi diakhir tahun 2015, sehingga bisa diketahui sarana dan fasilitas penunjang kegiatan apa saja yang harus diperbaiki dan dilengkapi, agar sesuai dengan kebutuhan dan tidak membahayakan anak-anak yang menggunakan fasiltas TPA.

Sehari sebelumnya (senin 15 Febuari 2016) Fery Farhati Baswedan selaku Pembina Darma Wanita Persatuan Kemendikbud, bersama dengan Ketua Darma Wanita dan beberapa pengurus, serta perwakilan pejabat Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas) tinjau renovasi TPA yang sudah mencapai 100% tersebut.

TPA yang berdiri sejak tahun 1995 atas prakarsa Ketua Unit Darma Wanita Depdikbud masa bakti 1993-1998, Atie Wardiman Djojonegoro, merupakan sarana pemenuhan kebutuhan para karyawan dan karyawati Kemdikbud yang mempunyai anak usia dini, akan pendidikan, perawatan, pengasuhan, pemberian kasih sayang dan perlindungan saat orang tuanya bekerja. Sekaligus sebagai percontohan dan rujukan bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan, serta masyarakat ketika menyelenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). (M. Husnul Farizi/KS

sumber:http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/8159.html

Sabtu, 13 Februari 2016

Pendidikan Islam Indonesia Terbesar di Dunia

Sebagai negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbanyak di dunia, Indonesia juga memiliki lembaga pendidikan Islam terbesar di dunia. Kementerian Agama (Kemenag) RI mencatat, hingga saat ini jumlah lembaga pendidikan Islam di Indonesia mencapai 300.270 lembaga.

Menteri Agama RI, Lukman Hakim Syaifuddin, mengungkapkan, keberadaan lembaga pendidikan Islam tersebut tidak terlepas dari peran alim ulama yang berada di tengah masyarakat. Selain itu, lembaga Islam tersebut juga mampu menciptakan dan mengokohkan karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab dan bertoleransi tinggi.

"Sampai saat ini jumlah lembaga pendidikan Islam sebanyak 300.270 lembaga, mulai dari Raudlatul Athfal (setara TK) hingga perguruan tinggi (PT). Termasuk di antaranya sebanyak 27.290 Ponpes yang tersebar di seluruh tanah air," kata Lukman Hakim Syaifuddin saat menghadiri haul ke 34 KH Abdul Hamid (Mbah Hamid) di Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Kebonsari, Kota Pasuruan.

Menurut Menag, dari sebanyak 300.270 lembaga pendidikan Islam di Indonesia, di antaranya meliputi 675 PT termasuk 55 PT berstatus negeri. Madrasah dari berbagai tingkatan mulai dari Diniyah hingga Aliyah sebanyak 75.199 lembaga. Lembaga pendidikan Islam tersebut menampung siswa dan mahasiswa yang berada di dalamnya sebanyak 24.126.727 jiwa.

"Para siswa dan mahasiswa ini merupakan potensi dan tantangan untuk membangun karakter Bangsa Indonesia yang kuat. Hal ini tidak terlepas dari peran para alim ulama dan para pengasuh Ponpes di Indonesia, terutama menciptakan santri yang berkemampuan dengan dilandasi keimanan serta ketaqwaan," tandas Lukman Hakim.

Dengan peran ulama, lanjut Lukman Hakim akan bisa menciptakan dan mengokohkan karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berkepribadian dan memiliki toleransi yang tinggi. Namun tetap memiliki kemampuan serta keunggulan di bidang keilmuan.

Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur, Syaifullah Yusuf menyampaikan, Pemprov Jawa Timur (Jatim) telah memberikan perhatian yang besar untuk pengembangan dan peningkatan kualitas lembaga pendidikan Islam. Sejumlah program dijalankan, seperti dengan bea-siswa santri hingga menyekolahkan tenaga pengajar di madrasah-madrasah.

“Pemprov Jatim berkeinginan untuk mencetak santri yang hafal Alquran, ahli matematika dan ahli di bidang keilmuan lainnya. Keselarasan program pendidikan dari Kemenag hingga pemerintah daerah akan semakin memperkokoh dalam membangun karakter bangsa," kata Gus Ipul

Peran Keluarga Tingkatkan Prestasi Anak

Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga memiliki strategi dalam menjalankan kinerjanya pada 2016 ini. Diharapkan strategi yang telah disusun tersebut mampu menciptakan kinerja Direktorat Pendidikan Keluarga semakin ideal. Hal itu diungkapkan Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga, Sukiman pada Rapat Koordinasi Nasional Ditjen PAUD dan Dikmas di Hotel Mercure, Surabaya, Jawa Timur (10/2).

Sukiman menjelaskan, strategi yang dicanangkan yakni upaya memperkuat peran keluarga dalam mendukung pendidikan anak-anaknya. Keluarga adalah wahana pendidikan yang pertama dan utama. Keterlibatan keluarga dalam mendukung pendidikan anaknya diyakini akan meningkatkan prestasi belajar dan kesuksesan pendidikan anak.

“Sebagai ekosistem yang terdekat dengan anak, keluarga merupakan lingkungan paling berpengaruh dalam membentuk kepribadian dan budaya anak,” terangnya.

Hal lain yang akan dilakukan adalah mendukung institusi pendidikan dan lingkungan terdekat anak di luar keluarga. Sukiman menerangkan, selain keluarga, lingkungan terdekat yang perlu penguatan yakni satuan pendidikan, tempat penyaluran hobi seperti klub olah raga/seni, dan tempat bergaul. “Dukungan lingkungan ini sangat penting bagi pendidikan dan perkembangan anak,” tandasnya.

Sukiman juga menekankan tentang pentingnya penyebarluasan praktik-praktik pendidikan dan pengasuhan yang baik. Praktik-praktik baik ini perlu disebarluaskan agar menjadi contoh dan rujukan bagi sesama orang tua, masyarakat, atau lembaga pendidikan sejenis.

“Peningkatkan kesadaran dan pengetahuan lingkungan terdekat anak sangat penting dalam mendukung keberhasilan pendidikan mereka,” seru dia.

Selain itu, strategi yang tak kalah penting adalah mengurangi kesenjangan memeroleh praktik pendidikan dan  pengasuhan yang baik antardaerah, status sosial-ekonomi, dan gender. Kesenjangan memperoleh praktik pendidikan dan pengasuhan yang baik dapat disebabkan oleh faktor geografis, sosial-ekonomi, atau gender.

Tujuan pembinaan pendidikan keluarga bukan untuk melakukan penyeragaman, melainkan tetap menghargai keberagaman budaya untuk memperkaya dan berkontribusi pada perbaikan. “Pemerintah perlu menyebarluaskan praktik baik untuk dapat dijadikan contoh agar mengurangi kesenjangan antardaerah dan antarkelompok masyarakat,” terangnya.

Dia menambahkan, penguatan kerja sama dengan kementerian/lembaga terkait pun tak boleh dikesampingkan. Berbagai program pengembangan keluarga selama ini sudah banyak dilakukan oleh  lembaga pemerintahan dan non-pemerintah, sehingga perlu berkolaborasi untuk saling memperkuat. “Instansi yang perlu didorong antara lain Kementerian Agama untuk mengoordiknasikan pendidikan pranikah bagi calon pengantin/calon orang tua,” katanya.

Terakhir, mendukung inisiatif daerah dalam meningkatkan peran  keluarga dan masyarakat. “Pada era otonomi daerah ini program-program pembangunan tak mungkin dapat berjalan tanpa dukungan pemerintah daerah. Inisiatif pemerintah daerah dalam melakukan pembinaan kepada keluarga perlu terus didukung dan diperkuat. Praktik baik tersebut dapat menjadi contoh bagi daerah lain yang belum berinisiatif,” ujar Sukiman.* (Tim Warta/KS/Sby)


sumber:http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/8059.html

Dirjen PAUD dan Dikmas Tekankan Tujuh Nilai Luhur

Ada tujuh nilai luhur yang harus dipegang dalam upaya meningkatkan kinerja di lingkungan Direktorat Jenderal (Ditjen) PAUD dan Dikmas, Kemdikbud. Jika pihak-pihak yang berkompeten melaksanakan ketujuh nilai luhur tersebut dengan sungguh-sungguh, maka Ditjen PAUD dan Dikmas menjadi lembaga yang dibanggakan publik.Demikian diungkapkan Direktur Jenderal PAUD dan Dikmas Harris Iskandar dalam sambutannya seusai acara Penandatangan Perjanjian Kinerja 2016, di Hotel Mercure, Surabaya (10/2). Acara tersebut merupakan bagian dari Rakornas PAUD dan Dikmas angkatan kedua yang diselenggarakan pada 9-12 Februari 2016.


Dikatakan Harris, nilai luhur pertama yang mesti ditumbuhkan adalah integritas. Menurutnya, integritas adalah harga mati. “Integritas itu lebih dari sekadar jujur. Integritas berarti kita konsisten,” ujarnya. Dia melanjutkan, dalam setiap melakukan pekerjaan, harus selalu dibarengi integritas yang tinggi. Nilai luhur selanjutnya adalah kreatifitas dan inovasi. “Jangan pernah berhenti mengasah kreatifitas,” pesannya. Selain itu, yang tak kalah penting adalah semangat berinisiatif. Dikatakan Harris, pribadi yang baik adalah pribadi yang tak melulu menunggu perintah dan bersifat pasif, “Kita harus terus berinisiatif. Malah, imbuh dia, sekarang ini sikap abai dan diam sudah bisa dimasukkan ke dalam tindak kriminal. “Misalnya, kita mendiamkan ada siswa yang memar karena dipukul guru. Nah, itu sudah termasuk kriminal,” katanya.


Nilai luhur lainnya, yakni harus selalu memosisikan diri sebagai pembelajar. “Sebagai manusia, kita tak bisa luput dari kesalahan. Kita harus menolelir kesalahan, dengan tetap mengupayakan agar kesalahan tersebut mampu diminimalisasi. Kita harus menciptakan budaya di mana kita menjadi orang pemaaf,” tandasnya. Nilai luhur lainnya, yakni meretrokasi. Pejabat yang dilantik di lingkungan Ditjen PAUD dan Dikmas sudah teruji kompetensinya karena mereka sudah mengikuti proses tahapan yang jelas dan transparan. “Mereka mengikuti, tes, wawancara, dan sebagainya sebelum menempati jabatan tertentu. Jadi, kompetensinya sudah tak perlu diragukan,” ujar Harris.


Hal lain adalah sikap perilaku aktif dan partisipatif, serta bekerja tanpa pamrih. Harris menjelaskan, setiap tugas dan pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh ikhlas. “Harus lillahita’ala, jangan sekali-kali hanya ingin mendapat perhatian dari atasan, atau hanya untuk menyenangkan atasan. Jika bekerja dengan ikhlas, dipastikan tak ada keluhan. Yang ada adalah solusi,” tandasnya.* (Tim Warta/KS/Sby)

sumber:http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/8049.html

SKB Harus Segera Menjadi Satuan Pendidikan

Pembenahan dan penataan satuan pendidikan penyelenggara program pendidikan masyarakat, mutlak harus dilakukan. Salah satu lembaga penyelenggara program pendidikan masyarakat yang mesti segera dibenahi adalah Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).

Demikian diungkapkan Sekretaris Ditjen PAUD dan Dikmas Wartanto pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Ditjen PAUD dan Dikmas di Hotel Grand Serela, Medan, Sumatera Utara (3/2). Dia menegaskan, hingga saat ini keberadaan SKB masih menyisakan persoalan. “Selama ini status SKB bukan merupakan satuan pendidikan, melainkan unit kerja/satuan kerja,” kata dia.

Dalam undang undang maupun Peraturan Pemerintah, SKB tidak termasuk satuan pendidikan. Pun dalam peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dia melanjutkan, landasan hukum SKB adalah Peraturan Daerah (Perda). Status inilah yang membuat Ditjen PAUD dan Dikmas tak dapat memberikan bantuan kepada SKB.

“Karena statusnya ini, kementerian tidak dapat melakukan pembinaan langsung kepada SKB. Bila dipaksakan untuk memberikan bantuan, kami menyalahi aturan,” terang Wartanto.

Masalah kedua, Wartanto melanjutkan, selama ini SKB melaksanakan program pendidikan. Padahal statusnya bukan satuan pendidikan. “Padahal dalam UU disebutkan, penyelenggara pendidikan adalah satuan pendidikan. Inilah salah satu alasan mengapa SKB harus berstatus satuan pendidikan,” tegasnya.

Menurut Wartanto, setelah SKB berstatus satuan pendidikan, Ditjen PAUD dan Dikmas akan membenahi standar mutu nasional agar SKB sebagai penyelenggara program dapat terakreditasi. “Target kami adalah menjadikan SKB sebagai satuan pendidikan yang terakreditasi secara nasional,” ujarnya.

Pembenahan SKB juga akan membuat lembaga ini bukan saja sebagai satuan pendidikan yang memiliki akreditasi, melainkan juga memungkinkan mereka bisa memiliki kewenangan untuk menyelenggarakan ujian sebagaimana juga dilakukan satuan pendidikan lainnya yang sudah terakreditasi.

“Selama SKB masih UPTD, kita tak bisa bergerak. Tak bisa juga kita menafikan, keberadaannya tidak jelas karena menurut UU kita hanya boleh memberikan bantuan kepada satuan pendidikan. Penjaminan mutu kepada SKB itu belum bisa,” paparnya. Dia mencatat, saat ini baru 32 SKB yang menjadi satuan pendidikan.

Persoalan lainnya yang juga harus segera dibenahi adalah masih banyaknya satuan pendidikan yang belum terakreditasi. Sebagai contoh PKBM yang terakreditasi hanya 32 (0,3%) dari 9.327 PKBM yang ada. Lembaga kursus dan pelatihan yang terakreditasi sebanyak 345 (1,7%) dari 19.325 LKP. Dan lembaga PAUD yang terakreditasi sebanyak 36.561 (19,2%) dari 190.160 lembaga.*(Tim Warta/KS)


sumber:http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/8039.html

MULTI TAB 1

Pentas Seni & Perpisahan

Pentas Seni & Perpisahan

MULTI TAB 2

Kegiatan Kartinian

Kegiatan Kartinian

MULTI TAB 3

anoman

anoman

MULTI TAB 4

perpisahan

perpisahan

MULTI TAB 5

kartinian 2

kartinian 2


MULTI TAB 6

1

Entri Populer

MULTI TAB 7

Headline

">

MULTI TAB 9

Buku Tamu

MULTI TAB 10

Daftar Blog Saya

MULTI TAB 11




 
KEMBALI KEATAS
') }else{document.write('') } }