PENIGKATAN GIZI

Peningkatan Kesadaran Gizi Ibu dan Balita; Sosialisasi PP Muslimat NU dan Yaici di Palembang Sumatera Selatan

Dra.Hj.Khofifah Indar Parawansa, M.Si.

Mengarungi Kisah Inspiratif Hj Khofifah Indar Parawansa

MANASIK HAJI

Pembelajaran Manasik Haji Kecil TKTA Tarbiyatul Athfal41 Semarang pada Tgl.8 Oktober 2015 di Islamic Center Semarang

Pelatihan Penguatan Keaswajaan Da’iyah Muslimat NU

Penguatan Keaswajaan Bagi Da’iyah Muslimat NU DKI Jakarta

Ketua NU Kota Semarang

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, Dr. KH. Anasom MHum

Jumat, 29 Januari 2016

Mengapa Anak Suka Bicara Kasar dan Kotor?

Meski tidak diajarkan di rumah, namun anak kerap berbicara kasar dan kotor. Kenapa ya? tenang bunda, hal ini dialami hampir semua anak.

Psikolog Anak dan Praktisi Theraplay, Astrid W. E. Napitupulu mengatakan, alasan utama mereka berperilaku seperti itu karena kata-kata tersebut terdengar lucu di telinga mereka. Dan lagi, bila mereka mengatakannya, anak-anak akan mendapat perhatian dan respon dari orangtua atau orang di sekitarnya.

"Anak belajar kata-kata buruk dari banyak media, seperti televisi atau bahkan dari temannya. Bagi mereka, bermain kata itu menyenangkan. Nah, sebagai orangtua, ini saatnya Anda bertanya padanya, apa arti kata-kata tersebut. Sebab bila kata-kata itu diucapkan bisa membuat orang lain sedih, terluka, marah atau tidak suka pada kita sehingga tidak boleh menyebut kata itu," kata Astrid seperti di kutip dari Liputan6.com, Sabtu (26/9/201

Astrid juga mengungkapkan, orangtua bisa mengajarkan anak untuk merespon sesuatu yang dianggap tidak baik di lingkungan. Misalnya, anak diberitahu kalai di sekitarnya ada norma, budaya Indonesia yang ramah.

"Kalau di lingkungan, lihat aturannya apa. Misalnya jangan lupa bilang tolong, jangan lupa untuk tersenyum dengan orang baru yang bertemu mama dan papa. Jadi dibalikin lagi kepekaan orangtua untuk mengajarkan anak bersosialisasi di lingkungan," pungkasnya. *


PAUD dan Dikmas Wilayah Bebas Korupsi

Jakarta, PAUD dan Dikmas. “Tingkatkan zona integritas wilayah bebas korupsi untuk meningkatkan Akuntabilitas Pemeriksaan Keuangan dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK),” ujar Sekertaris Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas) Wartanto. Rabu, (27/1)

Pada rapat yang membahas laporan keuangan Ditjen PAUD dan Dikmas tahun 2015, Wartanto menyampaikan harapannya akan pemeriksaan awal oleh BPK, tahun 2015 dapat dipertanggung jawabkan dalam pelaporan keuangan.

Laporan akuntabel dapat mengangkat dan meningkatkan capaian kinerja baik sistem pengendaliannya, kepatuhannya, juga kehandalan pengungkapannya. Serta dapat dibina dan diarahkan dari tim auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia. “Ujar Wartanto menambahkan.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas nama Direktur jenderal (Dirjen), serta para Direktur dilingkungan Direktorat Jendral Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas) tidak bisa hadir, dikarenakan menghadiri pembahasan perdagangan manusia yang dihadiri oleh 17 Menteri dan ditunjuk menjadi Ketua Tim Pencegahan.

Hadir dalam rapat tersebut, Sekretaris Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas) para Kepala Bagian, Direktorat pengelola keuangan yang ada dilingkungan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas.

Sedangkan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang hadir Subkhan Afandi sebagai Pengendali Teknis, Harris Winarto sebagai Teknis Pelaksana, beserta jajarannya. (Mahmudah Budiarti, Pri/KS)

Ditjen PAUD dan Dikmas Larang Bahan Ajar Yang Mengandung Kekerasan

Jakarta, PAUD dan Dikmas. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud), dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas), mengeluarkan surat pelarangan bahan ajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mengandung unsur kekerasan. Kamis (21/1)
Larangan tersebut tertuang dalam surat edaran Nomor 109/ C.C2/ DU/ 2016 per 21 Januari 2016, surat itu ditujukan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi, Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia yang berbunyi antara lain :
1. Anak usia dini merupakan masa yang tepat untuk pembentukan karakter dan budi pekerti. Oleh karena itu semua informasi yang diterima secara lisan, tayangan maupun tulisan seharusnya bebas dari unsur kekerasan faham kebencian, SARA dan Pornografi.
2. Berdasarkan laporan masyarakat dan kajian terhadap buku Anak Islam Suka Membaca karangan Nurani Mustain terbitan Pustaka Amanah Solo Jateng, cetakan 2013 memuat unsur-unsur tersebut diatas. Yang seharusnya tidak diperkenalkan pada anak usia dini. Hasil kajian pada intinya, kata dan kalimat yang digunakan pada buku tersebut dapat menumbuhkan rasa ingin tahu anak tentang kekerasan, Misalnya;
a. Jilid 2 halaman 28, ada caci maki
b. Jilid 3 halaman 5, di sini ada belati, halaman 9 gegana ada di mana, halaman 18 rela mati bela agama, halaman 25 apa kamikaze itu, halaman 27 bila agama kita dihina kita tiada rela, lelaki bela agama, wanita bela agama, kita semua bela agama, kita selalu sedia jaga agama kita demi Illahi semata. Kemudian di halaman 30 terdapat kata bahaya sabotase, halaman 42 laga suci di Qodisiya, halaman 45 topi baja kena peluru, halaman 46 bilamana ada resolusi, hal 50 bazoka dibawa lari.
c. Jilid 4 di halaman 5 ada kata Jihad, halaman 12 bom, halaman 15 Kafir. Lalu di halaman 2 berjihad di jalan dakwah, halaman 26 hati-hati man haj batil.
3. Mengingat hal tersebut diatas, buku-buku tersebut belum memenuhi kriteria kelayakan bahan prakeaksaraan untuk anak usia dini, sehingga tidak diperkenankan untuk digunakan sebagai bahan ajar di satuan PAUD.
Di akhir edaran itu Harris meminta Dinas Pendidkan untuk dapat menginformasikan kepada jajaran dan satuan PAUD di wilayah saudara mengenai pelarangan buku-buku sejenis yang mengandung kekerasan seperti buku berjudul "Anak Islam Suka Membaca" karangan Nurani Mustain. (M. Husnul Farizi/ KS)


sumber:http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/7899.html

Minggu, 24 Januari 2016

Ditjen PAUD dan Dikmas Edarkan Surat Pelarangan

Jakarta, PAUD dan Dikmas. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud), dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas), mengeluarkan surat pelarangan bahan ajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mengandung unsur kekerasan. Kamis (21/1)
Larangan tersebut tertuang dalam surat edaran Nomor 109/ C.C2/ DU/ 2016 per 21 Januari 2016, surat itu ditujukan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi, Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia yang berbunyi antara lain :
1. Anak usia dini merupakan masa yang tepat untuk pembentukan karakter dan budi pekerti. Oleh karena itu semua informasi yang diterima secara lisan, tayangan maupun tulisan seharusnya bebas dari unsur kekerasan faham kebencian, SARA dan Pornografi.
2. Berdasarkan laporan masyarakat dan kajian terhadap buku Anak Islam Suka Membaca karangan Nurani Mustain terbitan Pustaka Amanah Solo Jateng, cetakan 2013 memuat unsur-unsur tersebut diatas. Yang seharusnya tidak diperkenalkan pada anak usia dini. Hasil kajian pada intinya, kata dan kalimat yang digunakan pada buku tersebut dapat menumbuhkan rasa ingin tahu anak tentang kekerasan, Misalnya;
a. Jilid 2 halaman 28, ada caci maki
b. Jilid 3 halaman 5, di sini ada belati, halaman 9 gegana ada di mana, halaman 18 rela mati bela agama, halaman 25 apa kamikaze itu, halaman 27 bila agama kita dihina kita tiada rela, lelaki bela agama, wanita bela agama, kita semua bela agama, kita selalu sedia jaga agama kita demi Illahi semata. halaman 30 bahaya sabotase, halaman 42 laga suci di Qodisiya, halaman 45 topi baja kena peluru, halaman 46 bilamana ada resolusi, hal 50 bazoka dibawa lari.
c. Jilid 4, halaman 5 Jihad, halaman 12 bom, halaman 15 Kafir. Halaman 2 berjihad di jalan dakwah, halaman 26 hati-hati man haj batil.
3. Mengingat hal tersebut diatas, buku-buku tersebut belum memenuhi kriteria kelayakan bahan prakeaksaraan untuk anak usia dini. Sehingga tidak diperkenankan untuk digunakan sebagai bahan ajar di satuan PAUD.
Selanjutnya kami mohon bantuan saudara untuk dapat menginformasikan kepada jajaran dan satuan PAUD di wilayah saudara, ujar kata Dirjen Pendidikan anak usia dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat Harris Iskandar dalam surat edaran. (M. Husnul Farizi, Pri/ KS)

sumbe:http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/7899.html

Senin, 18 Januari 2016

Keluarga, Titik Pangkal Pembentukan Karakter Anak

Jakarta Wali Kota Tomohon Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Jimmy F Eman mengatakan, keluarga menjadi titik tumbuh pendidikan dan pembentukan karakter anak yang dapat menentukan jati dirinya di masa depan.

"Keluarga merupakan kelompok terkecil yang sangat memegang peranan memberikan pendidikan mendasar bagi masa depan anak-anak," kata wali kota pada rakor peningkatan kualitas anak dan perempuan di Tomohon, Minggu.

Wali Kota mengatakan, belakangan ini media menyentil kasus prostitusi, penelantaran anak serta penyalahgunaan narkoba.

Karena itu, kata dia, peran orang tua penting dalam memberikan tanggung jawab, pemahaman yang baik dan benar serta bagaimana semestinya menjalani kehidupan sehari-hari tanpa melanggar norma-norma yang berlaku umum.

"Pendidikan dan pembentukan karakter anak juga tidak bisa dipisahkan dengan pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender dan perlindungan anak. Ini satu kesatuan dalam proses pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas," katanya.

Wali Kota yang akan mengakhiri masa jabatan Januari 2015 ini menambahkan, peningkatan kualitas hidup perempuan merupakan salah satu tujuan penting dalam pembangunan berbasis gender, karena kualitas hidup perempuan yang optimal pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas generasi mendatang.

Hal ini dapat diartikan bahwa kualitas hidup perempuan sangat menentukan kondisi anak-anak yang dilahirkan terhadap tumbuh kembang anak, baik fisik maupun intelegensinya.

"Butuh sinkronisasi dan sinergi antarbidang pembangunan sehingga mampu mencapai berbagai sasaran yang diinginkan," katanya.

Sebab, kata dia, pada hakikatnya untuk mencapai keberhasilan pembangunan di setiap bidang tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait, sehingga memunculkan pembangunan yang telah tertuang dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional maupun daerah.


http://health.liputan6.com/read/2238966/keluarga-titik-pangkal-pembentukan-karakter-anak

Zaman Sudah Berubah Orangtua Masa Kini Harus Lebih Pintar

Jakarta- Orangtua harus memiliki pengetahuan yang memadai dalam bidang pengasuhan dan pendidikan anak. "Zaman kian kompleks, orangtua memiliki tanggung jawab besar untuk menghantarkan anak-anaknya dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan dan wajib memiliki pengetahuan pengasuhan dan pendidikan anak," ujar Psikolog Wiwiek Idaryati pada Pelatihan Bina Keluarga Balita di Bandung, ditulis Jumat (7/8/2015) lalu.

Menurut Wiwiek, lingkungan keluarga dan pola asuh orangtua memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak dan balita. Ia mengatakan ada tiga hal esensial yang perlu dipertimbangkan orangtua dalam mengembangkan pola asuh anak, yakni bagaimana orangtua memaksimalkan potensi yang ada dalam diri anak, bagaimana orangtua memahami kondisi anak baik secara fisik maupun psikologis, dan bagaimana orangtua membimbing anak agar dapat beradaptasi dengan lingkungannya.

"Bila tidak dibina secara maksimal, anak akan berkembang secara alamiah dengan meraba-raba nilai dari lingkungan sekitarnya," katanya. Dengan cara seperti itu, kata dia tidak dapat menentukan apakah anak akan menjadi baik atau buruk. Untuk itu, orangtua perlu memiliki wawasan bagaimana cara ideal mengasuh anak.

Pentingnya pengetahuan orangtua dalam menyiapkan generasi mendatang, kata dia juga telah disadari oleh pemerintah. Gagasan program Bina Keluarga Balita (BKB) yang tercetus sejak tahun 1980-an hadir melalui naungan lembaga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Fokusnya adalah membina para orangtua yang memiliki balita dan anak usia satu hingga lima tahun, terutama dari kalangan pra-sejahtera agar memiliki kecakapan dalam mengasuh dan membimbing anak.

"Sejak tahun 2012, BKB diprogram hadir terintegrasi dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Posyandu. Namun, keterbatasan sokongan dana dari APBN serta minimnya infrastruktur menjadikan program ini tidak berjalan efektif," kata staff Widyaiswara BKKBN Jawa Barat Aldina Kusumawardhani. Ia menyebutkan, di Jawa Barat keterbatasan dana ini mengakibatkan sulitnya membentuk tim kader yang solid dan kesulitan dalam mengelola program kerja sehari-hari.

"Padahal program ini sangat bermanfaat untuk masyarakat. Mengalokasikan dana untuk pendidikan anak dan menghasilkan orangtua hebat serta berpengetahuan sama dengan investasi bangsa jangka panjang dan diharapkan program ini tidak lagi dipandang sebelah mata," kata Aldina menambahkan


sumber:http://health.liputan6.com/read/2288395/zaman-sudah-berubah-orangtua-masa-kini-harus-lebih-pintar

Pentingnya Pendidikan Non Formal Untuk Menunjang Kreativitas Anak

Jakarta Masa depan anak menjadi hal terpenting bagi orang tua. Ketika kelak anak bisa sukses di karirnya, orang tua adalah sosok pertama yang paling bahagia. Untuk itu, berbagai persiapan pun dilakukan agar kelak anak bisa mendapatkan masa depan yang cerah.

Sejak dini, orang tua sudah pasti menyiapkan sekolah terbaik untuk bekal akademi anak. Sedangkan untuk ketangkasan dan keterampilan, orang tua juga memberikan pendidikan non formal yang terbaik. Karena kelak, orang tua ingin agar anak memiliki akademik sekaligus kreativitas yang bisa membimbingnya di dunia kerja.

Pendidikan non formal dapat disalurkan lewat lembaga pelatihan, sanggar, ataupun lembaga kursus, untuk memberikan keseimbangan otak kanan dan otak kiri yang dimiliki anak. Selain itu, pendidikan non formal juga memberikan pelatihan keterampilan yang sesuai minat anak. Jadi anak pun bisa mendapatkan pengalaman kreativitas sesuai dengan hobi yang disukai.

Mengikuti pendidikan non formal akan melatih keberanian dan kecakapan anak untuk berbicara di depan umum, karena sejak dini anak sudah dilatih untuk memperlihatkan bakat yang dipunyai. Selain itu, anak pun bisa mengembangkan daya konsentrasinya ketika sedang memperdalam bakat yang ia miliki.

Berbagai manfaat lain juga dapat diserap oleh anak ketika mengikuti pendidikan non formal, seperti mendapat teman-teman baru, melatih kemampuan untuk membagi waktu dan kemampuan, serta dapat melatih kemampuan bekerja sama. Masih banyak lagi manfaat yang bisa diserap oleh anak ketika mengikuti pendidikan non formal, sehingga persiapan yang maksimal dari orang tua juga dibutuhkan.

Awalnya, penting sekali untuk menyiapkan dana pendidikan non formal, karena perlu biaya khusus yang dialokasikan agar anak bisa ikut pelatihan, seperti les musik, olahraga, ataupun melukis dan menari. Setelah menghitung dana yang dibutuhkan, Anda juga perlu untuk memilih layanan asuransi yang bisa memastikan buah hati Anda mendapatkan pendidikan terbaik di masa depan, seperti PRUlink edu protection.

PRUlink edu protection menghadirkan potensi hasil investasi jangka panjang yang tentunya bisa dimanfaatkan untuk biaya pendidikan tinggi anak di masa depan. Nantinya, manfaat bulanan tersebut tak hanya dapat digunakan untuk pembiayaan rutin penunjang pendidikan formal, namun juga non formal, seperti les bahasa, olahraga, dan aktivitas lainnya yang berpotensi membantu anak-anak dalam mempersiapkan masa depan mereka. Sebagai asuransi jiwa terkait investasi (unit link),

Berikut adalah 5 keistimewaan PRUlink edu protection:

Melindungi anak sebagai tertanggung utama dan orang tua sebagai tertanggung tambahan dalam satu polis.

Memberikan Manfaat Bulanan berupa dana tunai sampai anak berusia 18 atau 25 tahun. Manfaat ini akan diperoleh apabila terjadi risiko terhadap diri orang tua. Manfaat bulanan tersebut merupakan keunikan solusi asuransi PRUlink edu protection yang dapat digunakan untuk membantu membiayai pengeluaran rutin penunjang pendidikan formal, seperti biaya ekstrakurikuler, kursus, dan lain sebagainya.

Setiap 3 (tiga) tahun sekali Manfaat Bulanan tersebut akan naik sebesar 15% dari nilai Manfaat Bulanan awal.

Prudential akan melanjutkan pembayaran premi polis anak sampai dengan anak berusia 18 atau 25 tahun (diberikan apabila terjadi risiko terhadap diri orang tua). Dengan demikian, maka dana investasi akan tetap berpotensi untuk berkembang sesuai dengan jenis investasi yang dipilih.

Memberikan kemudahan untuk memperoleh perlindungan yang sama bagi anak kedua (sesuai ketentuan yang berlaku di Prudential Indonesia).
Kesuksesan sang buah hati di masa depan bukanlah pilihan, untuk itu hanya pilih layanan yang mampu memberikan jaminan pendidikan di masa depan dimulai dari saat ini.


sumber:liputan6.com

Jumat, 15 Januari 2016

Banyak Kasus Kekerasan pada Anak Akibat Kelalaian Ortu

Jakarta Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten Siti Erna Nurhayati menyatakan banyak kasus kekerasan terhadap anak akibat kelalaian orang tua.
"Kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Pandeglang, sebagian besar pelecehan seksual dan itu akibat kelalaian orang tuanya," katanya di Pandeglang, Selasa.
Ia menyatakan para orang tua menitipkan anak perempuan pada orang lain karena keduanya sibuk bekerja.
"Orang yang dititipi anak itu menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya dengan melakukan pelecehan seksual," katanya.
Anggota DPRD Provinsi Banten itu juga meminta semua pihak harus peduli terhadap perlindungan dan tumbuh kembang anak.
"Banyak hal yang bisa dilakukan dalam menunjukan kepedulian terhadap anak, diantaranya dengan menciptakan suasana kondusif," katanya.
Kepedulian terhadap anak, kata dia, tidak hanya kewajiban pemerintah saja, tapi semua komponen termasuk pengusaha, tokoh agama, pemuka masyarakat serta warga.
"Mari kita bergandeng tangan dalam mewujudkan kesejahteraan anak dengan menghormati hak-hak anak serta memberikan jaminan pemenuhan anak tanpa diskriminatif," ujarnya.
Menurut dia, pemerintah, pengusaha, pendidik, pers, individu harus masuk dalam gerakan ini, kita bisa mulai dari tindakan yang kecil da sederhana, yaitu mau menjadi sahabat bagi anak-anak.

"Yang tidak juga kalah penting anak perlu diberi kebebasan tapi tetap dalam pengawasan untuk mencegah terjadi hal tak diinginkan seperti pergaulan yang salah ataupun kekerasan," katanya.

http://health.liputan6.com

Mendiknas : Ortu dan Guru Perlu Bantu Anak Cerna Peristiwa Teror

Jakarta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan orang tua dan guru perlu membantu anak mencerna peristiwa teror seperti yang terjadi di Jalan Thamrin Jakarta, Kamis (14/1/2016).
"Dalam situasi seperti ini, orang tua dan guru perlu membantu anak-anak kita mencerna dan menanggapi peristiwa teror ini," ujar Mendikbud di Jakarta, Jumat (15/1/2016).
Mendikbud meminta semua pihak membantu menyebarluaskan panduan singkat bagi para guru dan orang tua dalam membicarakan kejahatan terorisme dengan siswa dan anak-anak mereka.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) juga dalam waktu dekat akan mengeluarkan panduan singkat mengenai cara menghadapi tindakan terorisme itu.
Panduan singkat itu terdiri dari dua bentuk. Pertama panduan untuk guru dalam berbicara dengan siswa tentang kejahatan terorisme. Kedua, panduan bagi orangtua untuk bicara terorisme dengan anaknya.
Dalam panduan itu para guru diharapkan melakukan hal-hal sebagai berikut, menyediakan waktu bicara pada siswa tentang kejahatan terorisme, membahas secara singkat apa yang terjadi, memberi kesempatan siswa untuk mengungkapkan perasaannya tentang tragedi itu, mengarahkan rasa kemarahan pada sasaran yang tepat, kembali pada rutinitas normal, mengajak siswa berpikir positif, serta mengajak siswa berdiskusi dan mengapresiasi kerja para polisi, TNI dan petugas kesehatan yang melindungi, melayani dan membantu pada masa tragedi.

Bagi orangtua diharapkan dapat melakukan serangkaian hal berikut ini kepada anak-anak yakni mencari tahu apa yang mereka pahami, menghindari paparan terhadap televisi dan media sosial yang sering menampilkan gambar dan adegan mengerikan bagi kebanyakan anak, mengidentifikasi rasa takut anak yang mungkin berlebihan, membantu anak mengungkapkan perasaannya terhadap tragedi yang terjadi, menjalani kegiatan keluarga bersama secara normal, dan mengajak anak berdiskusi dan mengapresiasi kerja para polisi, TNI dan petugas kesehatan yang melindungi, melayani dan membantu pada masa tragedi.


sumber:ealth.liputan6.com/read/2412925/mendiknas-ortu-dan-guru-perlu-bantu-anak-cerna-peristiwa-teror#

Jika Semua Mau Mikir, Tidak Ada Korupsi

Jakarta, PAUD dan Dikmas. “Jika semua mau mau mikir maka tidak ada lagi korupsi, karena kalau kita berfikir sebenarnya korupsi itu tidak logis,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD) Harris Iskandar, saat memimpin rapat bersama 44 pejabat Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen PAUD dan Dikmas yang siang tadi baru di lantik. Jum’at (8/1)
Karena menurut Harris jika diumpamakan melakukan korupsi seratus maka delapanpuluhnya akan dibagikan kekiri, kanan, atas dan bawah supaya diam sehingga tinggal duapuluhnya saja yang dinikmati dari hasil korupsi.
Nah begitu ketahuan uang yang dikorupsikan sebesar 100 itu harus dikembalikan utuh ke negara, oleh sebab itu kalau semua mikir maka tidak ada lagi korupsi, ujar Harris menambahkan.
Dirjen juga mengajak para pimpinan UPT melalui pamong belajarnya, agar menggali makna dari misi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies R Baswedan mewujudkan insan, ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter yang berlandaskan gotong royong.
karena tujuannya kita bukan hanya insannya tetapi ekosistemnya hal tersebut sejalan dari tujuan pendidikan dalam UUD 1945, dimana tujuan pendidikan itu mencerdaskan kehidupan bangsa bukan mencerdaskan warga negara. Jadi warga negara cerdas dan kehidupan yang cerdas berbeda, ujar Harris menambahkan.

Selain itu Dirjen juga berpesan kepada kepala UPT tidak menerapkan sistem pendidikan yang bercermin pada sistem Industri, karena didalam sistem tersebut yang terjadi adalah keseragaman dimana seseorang menjadi tidak kreatif. (M.Husnul Farizi, Pri/KS)


SUMBER:http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/7829.html

Pendidikan Bagaikan Sistem Pertanian Organik

Jakarta, PAUD dan Dikmas. “Pendidikan ibarat sistem pertanian organik bagaimana membuat iklim yang cocok, senang belajar baik murid, warga negara juga guru, jadi tidak ada namanya penguasa. yang perlu kita kembangkan sikap pembelajar, ekologi dan masyarakat akan terbentuk dengan adanya sitim-sistim Pendidikan Nonformal. “Ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat(PAUD dan Dikmas) Harris Iskandar. Jum,at (8/1)
Ia juga mengatakan Pendidikan Nonformal adalah pendidikan masa depan karena mereka dalam belajar basisnya hanya “ semangat bukan uang ,yang membuat mereka lebih menjadi manusia yang seutuhnya mandiri dalam mengetrapkan bisnis dan usahanya dan menjadi orang sukses.
“Sistem Pendidikan yang membuat muridnya selalu ingin kembali dan betah disekolah. dalam mengenyam pendidikan. Karena ada faktor pendukungnya , guru dan kepala sekolah yang berkompeten, ekologinya cocok dimanapun dipupuk yang teratur, Ibarat taman yang menyenangkan membuat muridnya selalu pengin pulang balik kesekolah karena lingkungan yang tidak membosankan. “Ujar Harris.
“Ia juga mengatakan, Pendidikan Non Formal lebih baik dari pendidikan Formal artinya, banyak membantu yang miskin, kaum duafa basisnya semangat bukan uang. kita perlu mengadopsi dari semangat mereka, harusnya kita malu melihat semangat mereka. wajib belajar dan belajar kalau tidak sekarang kapan lagi.

Selain itu Fokus program Formal kita tujukan pembangunan dari pinggiran dan sasaran yang cocok buat pendidikan, ia menghimbau agar diingatkan dinas-dinas mengedarkan ke 190 Dapodik, kita harus kenal dengan Dinas Propinsi, Kabupaten kalau perlu kita yang buka pasword dan alamatnya. “ Ujar Harris.


sumber:http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/7839.html

Rabu, 06 Januari 2016

Delapan Jenis Kecerdasan Anak yang Perlu Dideteksi Tiap Orangtua

Orangtua mana yang tak menginginkan anaknya tumbuh menjadi individu yang cerdas dan terampil.
Tapi, apakah istilah cerdas hanya bagi anak yang selalu mendapat ranking di sekolahnya? Atau adakah penjelasan lainnya?
Kecerdasan menurut Thomas Armstrong, Ph.D, seorang ahli di bidang multiple intelligences adalah kepintaran yang tidak hanya dilihat dari segi akademis saja, melainkan juga dari keterampilan maupun bakat anak. Diakui Thomas Armstrong, setiap anak itu sebenarnya pintar, hanya saja jenis dan konsentrasi kepintarannya berbeda-beda.
"Kita bisa mengenali kepintaran anak dan menentukan cara terbaik untuk menstimulasi kepintaran tersebut dengan mengamati tingkah laku mereka," ujar Armstrong dalam acara #BedaAnakBedaPintar persembahan S-26 Procal GOLD di Bali Room, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis (1/10).

Berikut 8 jenis kecerdasan anak yang perlu orangtua ketahui
Berikut adalah 8 jenis kecerdasan anak yang perlu orangtua ketahui menurut Thomas Armstrong, Ph.D:
Word Smart
Anak dengan jenis kepintaran ini dapat dilihat dari kegemarannya yang suka membaca, menulis, berbicara dan juga mendengarkan cerita. Orang tua dapat mengajak si kecil untuk membaca buku cerita bersama-sama, melakukan percakapan maupun bermain blok yang bertuliskan kata-kata. Ini 8 jenis kecerdasan anak yang pertama.
Number Smart
Anak lebih tertarik pada angka, matematika, sains dan juga hal-hal yang berhubungan dengan logika, misalnya menanyakan "mengapa langit berwarna biru?". Orang tua dapat mengajak si kecil bermain angka-angka, mengajaknya melakukan permainan yang mengharuskan ia menghitung, seperti monopoli.
Nature Smart
Jenis kepintaran yang satu ini dapat Mama lihat dari kesukaan si kecil dengan alam, menyukai binatang, peduli dengan lingkungan alam, bahkan ia dapat menggolongkan tanaman dan mengoleksi dedaunan. Orang tua dapat mengajak si kecil untuk membuat kebun kecil di belakang rumah dan biarkan ia berkreasi apa saja yang ingin ia tanam.
Self Smart
Ia cenderung senang bermain sendiri, bahkan ia sudah tahu saat besar nanti ingin jadi apa. Tak hanya itu, ia juga memiliki rasa percaya diri yang kuat dan juga dapat mengkomunikasikan perasaannya. Orang tua dapat mengajak si kecil untuk berbicara dari hati-hati, saat ia memberitahu ingin jadi apa, dukung dan arahkan agar ia dapat meraih apa yang ia cita-citakan.

People Smart
Anak yang memiliki kepintaran jenis ini dapat terlihat saat ia suka bermain dengan teman-temannya, memiliki empati, suka memimpin dan bahkan dapat memahami perasaan orang lain. Bermain bersama di luar rumah, mengajaknya datang ke acara keluarga merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kepintarannya tersebut.
Body Smart
Dapat terlihat dari si kecil yang dapat menciptakan sesuatu dari tangannya, suka menari, berolahraga, serta menyentuh benda-benda dan mempelajarinya. Agar perkembangan kepintaran si kecil berjalan dengan optimal, orang tua dapat mengajaknya melakukan olahraga bersama atau mengajaknya menonton bioskop. ini 8 jenis kecerdasan anak yang keenam.@

Survei Membuktikan: Anak Dekat Ayah Lebih Cerdas, Pintar Bergaul, Masa Depan Cerah

Mengasuh anak yang berperilaku baik dan berprestasi, memang membutuhkan peran dan waktu yang diberikan oleh ibu.
Namun pengaruh dari figur seorang ayah dalam membimbing anak juga merupakan kunci utama dalam face tumbuh kembang anak.
Sebuah studi bahkan menyatakan bahwa kedekatan ayah pada anaknya dapat mendongkrak kecerdasan dan kesuksesan si kecil di masa depan.


Selama empat dekade penelitian dan ratusan penelitian telah membuktikan, ayah yang ikut membantu ibu mengasuh, menjaga, dan membesarkan anak memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi sekolah anak.
Selain itu, kehadiran ayah juga menentukan perkembangan pribadi serta karakter anak dalam lingkungan sosial.
Sebuah tinjauan studi yang dilakukan oleh Father Involvement Research Alliace menunjukkan bahwa bayi yang dekat dengan ayah cenderung memiliki emosi yang stabil

Saat dewasa dia lebih percaya diri, dan bersemangat dalam mengeksplorasi potensi diri untuk merealisasikan ide serta impian.
Kemudian, dalam lingkungan pergaulan, anak yang dekat dengan ayah cenderung lebih mudah bersosialisasi.

Mereka juga memiliki banyak teman karena dianggap menyenangkan.
Lalu, fakta lain yang perlu dipertimbangkan oleh para ayah agar lebih dekat dengan sang buah hati adalah anak berusia tiga tahun yang memiliki huhungan baik serta hangat dengan ayah memiliki kemampuan memecahkan masalah dan IQ lebih tinggi dari teman seusianya.

sumber:http://www.tribunnews.com/lifestyle/2015/01/04/survei-membuktikan-anak-dekat-ayah-lebih-cerdas-pintar-berga

Ada Enam Program Prioritas Kemendikbud di tahun 2016

“Pada tahun 2016 Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) telah merancang enam program prioritas pada pendidikan dan kebudayaan,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies R Baswedan, saat konferensi pers akhir tahun 2015 di Graha Utama Kemendikbud, Jakarta, (30/12/2015)

Prioritas program yang pertama adalah penguatan pelaku pendidikan dan kebudayaan dengan melakukan pemberdayaan, melalui kemitraan dan penguatan peran orang tua, serta keterlibatan masyarakat dalam aktivitas pendidikan dan kebudayaan.

Program kedua meningkatkan akses dan kualitas pendidikan dengan cara meningkatkan sarana dan prasarana, sedangkan untuk program ketiga Kemendikbud juga melakukan peningkatan akses dan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan, keempat melakukan peningkatan dan penguatan pelestarian dan diplomasi budaya.

Dan yang terakhir pada prioritas program yang kelima dan keenam peningkatan dan penguatan pengembangan, pembinaan dan perlindungan bahasa melalui pengembangan kosakata, penyebarluasan Bahasa Indonesia di luar negeri.

Serta melakukan gerakan pendidikan dan kebudayaan adalah penguatan tata kelola dan pelibatan publik, ujar Mendikbud menambahkan sambil menutup pertemuanya dengan para jurnalis yang hadir saat itu.

sumber:http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/7769.html

MULTI TAB 1

Pentas Seni & Perpisahan

Pentas Seni & Perpisahan

MULTI TAB 2

Kegiatan Kartinian

Kegiatan Kartinian

MULTI TAB 3

anoman

anoman

MULTI TAB 4

perpisahan

perpisahan

MULTI TAB 5

kartinian 2

kartinian 2


MULTI TAB 6

1

Entri Populer

MULTI TAB 7

Headline

">

MULTI TAB 9

Buku Tamu

MULTI TAB 10

Daftar Blog Saya

MULTI TAB 11




 
KEMBALI KEATAS
') }else{document.write('') } }