PENIGKATAN GIZI

Peningkatan Kesadaran Gizi Ibu dan Balita; Sosialisasi PP Muslimat NU dan Yaici di Palembang Sumatera Selatan

Dra.Hj.Khofifah Indar Parawansa, M.Si.

Mengarungi Kisah Inspiratif Hj Khofifah Indar Parawansa

MANASIK HAJI

Pembelajaran Manasik Haji Kecil TKTA Tarbiyatul Athfal41 Semarang pada Tgl.8 Oktober 2015 di Islamic Center Semarang

Pelatihan Penguatan Keaswajaan Da’iyah Muslimat NU

Penguatan Keaswajaan Bagi Da’iyah Muslimat NU DKI Jakarta

Ketua NU Kota Semarang

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, Dr. KH. Anasom MHum

Sabtu, 09 Mei 2015

Kenali Kemampuan Anak

Foto:Ilustrasi.

Sesuai dengan KBK TK pengembangan kemampuan mengenal nilai dan moral agama bertujuan agar anak dapat mengenal penerapan tatacara beribadah atau berdoa sesuai agamanya, dan membiasakan mereka untuk hidup sesuai aturan agama, tentunya sesuai dengan tingkat pemahaman anak TK.
Kemampuan Fisik Motorik Anak
Hafidin, dkk menguraikan bahwa untuk pengembangan kemampuan motorik kasar anak , guru terencana dapat mengajak anak untuk melakukan gerakan dan permainan serta keghiatan yang membantu meningkatkan perkembangan keterampilan. Kegiatan ini dapat diiringi musik atau irama. Termasuk dalam kegiatan ini adalah melompat, memanjat, melalui rintangan, berguling. Kegiatan permainan sebaiknya melibatkan seluruh kelompok anak dan membuat anak-anak bergerak.

Kemampuan Bahasa Anak
Perkembangan bahasa anak TK masih jauh dari semprna. Namun demikian potensinya bisa dirangsang lewat komunikasi yang aktif dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Kemampuan bahasa anak TK dapat ditumbuhkan dengan membacakan cerita, berita atau surat untuknya atau bermain tebak-tebakkan kata, mendongeng dengan alat peraga atau membuat pertanyaan – pertanyaan yang harus dijawab anak. Keterampilan berbahasa anak harus diasah sejak dini, anak dapat diarahkan untuk belajar menyimak, membaca, menulis, dan berbicara.

Kemampuan Seni Anak

Kemampuan kemampuan seni bertujuan agar anak dapat menciptakan sesuatu berdasarkan hasil imajinasinya, mengembangkan kepekaan, dan menghargai hasil seni.Aktivitas seni unyuk anak TK yang lain adalah kegiatan bermain musik, kegiatan bernyanyi, dan kegiatan menari. Bermain musik juga dapat meningkatkan koordinasi mata tangan dan keterampilan motorik anak.

Jumat, 08 Mei 2015

Mengenal Kemampuan Kognitif Anak

Foto:Ilustrasi Aak TK.


Sesuai KBK-TK disebutkan bahwa pengembangan kemampuan kognitif anak usia dini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berfikir anak agar dapat mengolah perolehan belajarnya. Menurut PIAGET menjelaskan bahwa kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya sudah dirintis sejak kecil. Contohnya anak sudah dapat membedakan warna, binatang, beberapa benda hidup dan benda mati. Anak usia TK sudah bisa berhitung, mulai dari mengenal angka, mengukur, menghitung benda. Perkembangan kognisi anak menurut Piaget terletak pada tahap praoperasional. Pada tahap ini pemikiran anak masih didominasi oleh hal-hal yg berkaitan dengan aktifitas fisik dan pengamatan sendiri.
Kemampuan Sosial – Emosional Anak
Pengembangan ini bertujuan agar anak merasa percaya diri, mampu bersosialisasidengan orang lain, menahan emosinya jika berada dalam suatu keadaan sesuai dengan kemampuan dan tingkat perkembangan anak. Pengembangan sosial anak dapat dikembangkan dengan mengajak anak untuk mengenal diri dan lingkungannya. Interaksi dengan keluarga sendiri dan orang lain juga akan menbantu anak membangun konsep dirinya. Dengan bermain anak dapat mengembangkan kemampuan sosialnya, misalnya dengan bermain peran prilaku. Dengan belajar beberapa peran tersebut, anak dapat belajar mengenai baik atau buruk, boleh atau tidak  yang ndilakukan.@berbagai sumber.




Ciri-ciri guru kreatif

Foto:Ilustrasi

1. Mengerti dan sadar kalau dilrinya adalah seorang guru
Guru yang yang tidak sadar kalau dirinya adalah seorang guru maka akan cenderung acuh dengan profesinya, tidak dan cenderung tidak memiliki tujuan ke depan

2. Mau melangkah dan terus mencoba hal yang baru
Langkahnya tidak akan berhenti sampai menemukan hal yang baru, dia akan terus mencoba dan mencoba. kegagalan bagi dirinya adalah momen yang berharga untuk mencapai kesuksesan

3. Tidak gampang puas
Kepuasanya adalah ketika melihat anak didiknya kreatif

4. Terus belajar
Belajar dari berbagai media, literature, alam, tempat wisata bagkan dari teman, anak didik dan semua yang di lihat adalah sesuatu yang penting untuk di pelajari.

5. Tidak malu (Muka tebal hati suci )

Seakan akan urat malunya putus, tidak kenal malu saat didepan murinya, muka tebal hati suci artinya tidak punya malu untuk memberikan contoh, mengajar anak dan memiliki hati yang tulus serta ikhlas @ 

Menjadi Guru Harus Kreatif

Menjadi Guru PAUD/TK harus kreatif, wajib hukumnya, guru yang kreatif akan mudah di sukai oleh anak-anak didiknya, anak akan menempel kaya prangko.

sebaliknya guru yang tidak kreatif tidak disukai anak-anak. kalau guru tidak kreatif maka akan mempengaruhi sekolah juga, mempengaruhi promosi sekolah ( bisa baca di tips promosi sekolah yang efektif ) anak tidak akan tertarik dengan sekolahnya, sekolah di anggapnya sesuatu hal yang membosankan, anak malas melangkah ke sekolah.
Jadilah guru yang kreatif, karena tidak bisa kita pungkiri media diluar sekolah menawarkan segudang kreatifitas, permainan, games yang sangat-sangat menarik. Melalui berbagai media, gadget seperti HP, Android, playstasion bahkan internet.
Guru harus mempersiapkan diri, membekali diri dengan metode metode yang menarik, agar anak-anak tertarik, saat anak tertarik disitulah guru bisa menyampaikan pelajaran dan pesan karakter.
Usia dini adalah usia bermain bukan usia sekolah maka bermain adalah kebutuhan setiap anak, guru harus menyajikan sebuah kegiatan belajar melalui permainan atau dengan cara bermain. istilah disekolah TK/PAUD bukan belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar tapi belajar melalui atau dengan bermain atau permainan, bukan belajar sambil bermain.

PAUD/TK adalah masa pra- sekolah bukan sekolah yang sebenarnya. anak baru sedang latihan sekolah, latihan bangun pagi, latihan belajar, mengenal hufuf bukan belajar membaca, mengenal angka dan mulai belajar berhitung bukan belajar matematika, jadi tidak ada paksaan untuk bisa membaca, atau menjumlah dan mengalikan angka. anak yang di paksa di pra sekolah maka dalam tingkat SD kelas 3 anak sudah mulai bosen membaca, stress dan tidak sedikit membrontak. seharusnya guru PAUD bisa menemukan metode yang lain untuk mengajar membaca dan berhitung. bukan di paksa disiplin tapi diajar untuk belajar disiplin, carilah metode yang kreatif untuk mengajar anak usia dini agar anak akan merasa senang didunianya. ingat anak usia dini itu akan melakukan apa yang dia lihat dan menirukan apa yang dia dengar, sedangkan guru di gugu lan di tiru ( di ikutin dan di tirukan ) jadi belajarlah kreatifitas yang baik dan miliki karakter yang baik pula agar anak akan meniru yang baik. @

Rabu, 06 Mei 2015

2030 Di Target Semua Anak Wajib PAUD

Foto :ilustrasi kegiatan peringatan Hari Kartini  di TK Tarbiyatul Athfal41 .

Jakarta - Sekertaris Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Kementrian Pendidkan dan Kebudayaan (Sesditjen Paudni Kemdikbud) Ella Yulaelawati mengatakan, tuntutan internasional untuk mencapai target pendidikan semua yang dikenal dengan Education for All (EFA) akan berakhir tahun ini.
Menurut Ella, kedepannya program EFA akan dilanjutkan dengan program pendidikan sepanjang hayat. Program pendidikan ini ditargetkan akan berjalan semua negara, dengan cara memberikan layanan PAUD selama satu tahun kepada anak sebelum masuk sekolah dasar (SD).
Tujuan program ini kedepannya, menargetkan pada 2030, seluruh anak Indonesia telah wajib PAUD selama satu tahun sebelum masuk SD.
"Program ini, ditargetkan dapat selesai pada 2030," kata Ella di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta, Selasa, (5/5).
Untuk mencapai misi tersebut, Ella menyebutkan, pemerintah akan melihat terlebih dahulu berbagai indikator dan kesiapan masyarakat sebelum mengeluarkan kebijakan wajib PAUD 2030.
Program ini, akan melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengingkatkan layanan PAUD terutama bagi daerah pedesaan.
Menurut Ella, pihaknya akan merintis program tersebut dengan meningkatkan layanan PAUD di 83 kabupaten /kota yang telah menuntaskan program Satu Desa Satu PAUD.

Pemerintah juga akan mendorong kabupaten/kota yang telah mencapai angka partisipasi kasar (AKP) diatas 75 persen untuk dapat mendorong anak-anak usia lima tahun mengikuti program PAUD dengan standar yang berkualitas.(sumber kemendikbut RI)

Selasa, 05 Mei 2015

TK, TA41 DAPAT PEMERIKSAAN KESEHATAN


Foto :Petugas Puskesmas sedang memeriksa siswa di bagian kuku .
Semarang.-TK Tarbiyatul Athfal41 yang berada di Jl ,Sendangguwo Raya No 44  kelurahan Gemah Pedurungan mendapat pemeriksaan  Kesehatan dari Puskemas Tlogosari  kulon  pada  hari Selasa tgl 5/5/15.

Kepala Sekolah Mutmainah AMa melalui salah satu Guru Nur Faizah mengatakan ,pihaknya menyambut baik dengan adanya kegitan rutin pemeriksaan  kesehatan ini ,menurutnya dengan adanya kegiatan ini di harapkan Siswa Siswi  bisa tau dan faham apa arti tentang kesehatan sehingga dapat memicu murid  untuk selalu berbuat/tampil bersih dan  rapi setiap akan  berangkat sekolah. “bersih Adalah pangkal kesehatan tentunya hal itu tidak hanya di lakukan di sekolah saja di harapkan di rumah pun siswa akan termotifasi untuk hidup sehat “jelasnya.

Di jelaskan Iza ,dari total Siswa Siswi TK.A maupun TK.B semua mendapatkan pemeriksaan Kesehatan  yaitu meliputi pemeriksaan kuku,gigi,mata dan telinga dan semua siswa sangat antusias untuk mengantri untuk di periksa satu persatu,tambahya **@
                             
                        Foto :Petugas Puskesmas sedang memeriksa siswa di bagian telinga.

Foto :Petugas Puskesmas sedang memeriksa siswa di bagian mulut.






Senin, 04 Mei 2015

Sarana & Prasarana Kelompok Bermain Taman Kanak-Kanak

Foto:ilustrasi tempat bermain Di taman kanak-kanak.

Arena Bermain Outdoor


Arena bermain outdoor di luar ruangan memiliki berbagai macam sarana permainan yang menarik, outbound yang menantang, serta merangsang perkembangan motorik kasar anak sehingga membantu pertumbuhan jasmani anak.

Minggu, 03 Mei 2015

Pelajaran Seni Tari Baik Untuk Anak

 Foto;Salah Satu Siswa TK Tarbiyatul Athfal41 Semarang Sedang memperagakan seni tari  .


Tari merupakan kegiatan kreatif dan konstruktif serta menumbuhkan intensitas emosional. Tari dapat dijadikan aktivitas rekreasi,
terapi, juga dapat menjadi alat ekspresi dan laku estetis, inilah nilainya bagi anak. Seorang guru yang mengajarkan tari kepada siswa sangat perlu mengetahui beberapa hal seperti apakah sebenarnya tarian itu, kegiatan apa saja yang menjadi program dalam tari, apa sumbangannya bagi perkembangan dan pendidikan anak.

Pengajaran seni tari untuk TK memerlukan latihan-latihan dan teknik yang sesuai dengan perkembangannya untuk menemukan kekuatan, fleksibilitas, keseimbangan dan ketepatan, dengan tujuan untuk dapat mengontrol dan mengkoordinir kegiatan gerak anak.

Pengalaman tari secara mendasar memungkinkan anak-anak untuk menemukan kekuatan sebagai alat komunikasi serta bagaimana ia dapat membangunnya menjadi bentuk-bentuk yang sederhana sebagai simbol-simbol ekspresi. Bagi anak gerak-gerak ritmis sekaligus merupakan kebutuhan organis dan kesenangan yang konstan. Tari bagi anak-anak adalah sangat perlu walaupun kadang hanya untuk kesenangan saja dan bila dikehendaki akan mudah sekali merangsang kreatif anak yang sering kali aneh dan lucu.

Sebaiknya Orang Tua Jangan Lakukan Keselahan Ini agar anak terampil dan mandiri (Bagian Dua)

Foto Gambar Ilustrasi'

Seperti yang di ulas sebelumnya tentang sebaiknya orang tua jangan melakukan kesalahan ini agar anak terampil dan mandiri ,berikut ini kelanjutanya ,


MELARANG TANPA MENJELASKAN

Dalam soal keselamatan, memang tak boleh ada kata kompromi. Namun yang sering terjadi, orang tua melarang tanpa memberitahu alasannya. Apalagi menerangkan fungsinya dengan benar. Contoh, anak memotong kertas dengan gunting yang biasa dipakai orang tua untuk menggunting kain. Melihat hal itu, dengan serta merta orang tua merebut gunting tersebut sambil berkata dengan nada tinggi, "Tidak boleh! Ini bukan gunting mainan!"


TINDAKAN YANG BENAR:

Sebenarnya, belajar yang paling baik adalah belajar dengan benda-benda yang riil. Pisau ataupun gunting menjadi benda berbahaya atau tidak, tergantung bagaimana kita memperkenalkannya. Kalau kita melarang anak memegang gunting tanpa menunjukkan fungsi sebenarnya, tentu menimbulkan tanda tanya pada si anak, "Mengapa, kok, aku enggak boleh main gunting?" Rasa penasaran ini akhirnya membuat anak malah menggunakan gunting tersebut untuk hal-hal berbahaya, ketika dia sedang tidak dalam pengawasan orang tua.

Ingat, di usia prasekolah, rasa ingin tahu anak sangat besar. Anak pun cenderung senang pada sesuatu yang jarang diekspos kepada mereka, seperi benda-benda tajam itu. Akibatnya, mereka jadi semakin tergoda untuk mencoba. Tetapi kalau dari awal diberi tahu, "Kak, gunting ini tajam. Ini bagian gunting yang tajam. Jadi harus hati-hati memegangnya. Kakak boleh memakai gunting ini, tetapi cara memakainya seperti ini."

Dengan orang tua menjelaskan dan memeragakannya, anak akan mengerti. Dia pun akan lebih percaya diri saat menggunakan benda tajam itu karena sudah memunyai kontrol yang bagus.

MENUNGGUI ANAK DI SEKOLAH
Ibu-ibu yang menunggui putra-putrinya di sekolah sering berdalih anaknya belum siap ditinggal. Padahal, ini seperti lingkaran setan. Setiap anak punya attachment dengan perasaan orang tuanya. Bila ibu "tak rela" meninggalkan anaknya di kelas, perasaan ini bisa terbaca oleh anak. Akibatnya, anak pun akan merasa cemas dan akibatnya di kelas menjadi rewel. Sementara si ibu melihat, dia rewel karena tak bisa ditinggal. Jadi, seperti lingkaran yang tak terputus.

Penting diingat, faktor kesiapan anak cukup berpengaruh terhadap keberhasilannya selama menjalani proses belajar di TK. Selain dari segi usia memang sudah waktunya, si kecil pun harus sudah berkurang ketergantungannya pada orang lain, terutama orang tua. Kalau ia tak kunjung siap, bisa setiap hari Anda harus menungguinya dan bahkan menemaninya di kelas. Padahal, tak setiap TK membolehkan anak ditunggui dan ditemani seperti itu. Kalaupun boleh, hanya selama beberapa hari pertama saja. Selanjutnya, anak sudah harus masuk sendiri ke dalam kelas dan bergabung dengan teman-temannya sekelas.

Masalah menunggui anak ini sering muncul pada ibu-ibu yang tidak bekerja. Itu karena sebagai full time mother, waktu mereka sepenuhnya ditumpahkan dengan selalu menghabiskan waktu bersama anak. Sebelum masa sekolah, si ibu bisa membawa anaknya ke mana-mana. Begitu anak sekolah, hubungan ini jadi terputus. Mungkin secara psikologis, si ibu kehilangan identitas diri, sehingga terus berusaha mengupayakan hubungan dengan anak, dengan cara mendampinginya terus, termasuk menunggui di sekolah.

Padahal bila terus ditunggui, rasa percaya diri anak menjadi tidak berkembang. Ia tidak kunjung yakin bisa menjaga dirinya sendiri. Padahal di usia prasekolah, penting bagi anak untuk punya perasaan otoritas, yaitu kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri.

Selain itu, situasi ini bisa membingungkan anak karena di satu pihak, dirinya selalu ditunggui dan diawasi oleh ibu, tapi di lain pihak, ia juga dituntut kemandiriannya. Misal, harus makan sendiri, mandi sendiri dan lain-lainnya.


TINDAKAN YANG BENAR:

Berhentilah menunggui anak di sekolah. Bila tindakan ini tak bisa dilakukan secara langsung, maka lakukan secara bertahap. Misalnya, hanya lima belas menit pertama saja ia ditunggui, setelah itu tinggalkan sampai waktunya dijemput.

Ada juga kasus anak sudah mau ditinggal tapi suatu waktu ia ingin ditunggui orang tuanya di sekolah dengan alasan bermacam-macam. Dalam hal ini, boleh saja orang tua menuruti keinginan anak tetapi tak perlu menungguinya sepanjang waktu. Cukup selama 15 menit pertama (di kelas atau di dekat jendela kelas bila diizinkan) setelah itu menyingkirlah ke area yang tidak terlihat anak.

Bila ibu memang "tak sanggup" berpisah dari anaknya, cobalah lakukan kegiatan bermanfaat di sela-sela waktu menunggu. Di antaranya, ibu bisa mengajukan diri ke pihak sekolah sebagai volunteer (sukarelawan), misalnya menjadi story teller (pencerita di kelas) atau menjadi koordinator kegiatan sosial yang diadakan sekolah.

MEMBERI BANYAK MAINAN TAPI TAK PERNAH MENEMANI BERMAIN
Boleh saja memberikan banyak mainan kepada anak, tetapi apalah artinya itu semua bila orang tua tak pernah menemani anak bermain. Sering orang tua berdalih, "Toh, anak sudah dibelikan mainan yang bersifat edukatif." Contohnya, pasel atau permainan balok susun. Padahal, tanpa pendampingan orang tua, anak tak mampu mengerti fungsi mainan tersebut.


TINDAKAN YANG BENAR:

Sebenarnya, apa pun jenis mainan yang diberikan kepada anak, tak jadi soal. Termasuk robot-robotan dan senjata yang kerap digolongkan bukan mainan edukatif. Justru lebih baik anak memainkan kedua mainan tersebut tetapi didampingi orang tua ketimbang memainkan mainan edukatif tetapi si anak dibiarkan bermain sendirian.

Pasalnya, dengan orang tua mendampingi anak bermain, minimal orang tua dapat mengenalkan sesuatu yang baru pada anak lewat media mainan. Saat anak bermain pistol-pistolan, orang tua bisa menjelaskan kegunaan senjata tersebut bahwa pistol digunakan bukan untuk tujuan sadisme tetapi untuk tujuan lain yang lebih positif, misal.

Dengan kata lain, mainan apa pun bisa menjadi edukatif selama orang tua bisa menggunakan mainan tersebut sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan kepada anak. Terlebih di usia prasekolah dimana penanaman nilai-nilai sosial banyak diperkenalkan, mainan bisa menjadi media yang efektif.

ANAK TAK DIBIASAKAN MEMILIH
Di usia 4 tahun, anak mulai punya dorongan untuk melakukan apa-apa sendiri. Mereka berada pada tahap otoritas atau ingin menunjukkan siapa aku. Kemampuan kognitif yang meningkat dengan cepat juga mendorong mereka untuk selalu ingin melakukan apa-apa sendiri. Tetapi karena masih belajar, tentu butuh bimbingan orang tua. Yang paling baik, anak diberikan pilihan-pilihan, lalu diajarkan bertanggungjawab pada pilihannya. Namun yang kerap terjadi, orang tua justru bertindak sebaliknya.

Segala sesuatu untuk anak dipilihkan dan diputuskan sendiri oleh orang tua tanpa melibatkan anak. Sikap orang tua yang seperti ini sungguh tak baik dampaknya buat perkembangan anak. Salah satunya, anak jadi tak bisa menentukan pilihan. Ia cenderung mengekor pada pilihan dan keputusan orang lain. Kasihan, bukan?


TINDAKAN YANG BENAR:

Penting mengajari anak untuk memutuskan pilihannya sendiri. Contoh, memilih baju yang akan dipakainya setelah mandi, pergi ke mal, atau baju tidur. Bila orang tua khawatir pilihan anak tidak cocok, maka orang tua bisa memberikan beberapa alternatif pilihan, "Kakak mau pakai kaos merah atau blus kembang-kembang kuning ini?"

Tentunya, untuk hal-hal yang sifatnya berbahaya, orang tua tak bisa memberikan pilihan. Tetapi anak harus dijelaskan, mengapa ia tak boleh bermain dengan menggunakan gunting milik orang tua, misal. Kemudian berikan alternatifnya, yaitu gunting yang dirancang khusus untuk anak. Tetapi bermainnya dengan didampingi orang tua.

Dengan begitu, anak terpuaskan. Dia pun tahu, mengapa ada hal-hal yang boleh dan tidak boleh, terutama yang berkaitan dengan keselamatan. Bila perlu, buatlah daftar hal-hal yang masih bisa dikompromikan dan yang tidak. Jabarkan semuanya kepada anak. Dari sini anak bisa melihat, "Meski aku enggak boleh melakukan A, tetapi aku boleh melakukan B." Anak juga belajar, tidak semua yang diinginkannya akan dia peroleh.


Memberikan kesempatan memilih pada anak bukan cuma mengajarkan kemandirian, tetapi juga membuat anak merasa dihargai karena boleh memilih dan dipercaya menjalankan pilihannya. Dengan terbiasa diberi pilihan, anak juga akan belajar bertanggungjawab pada pilihannya. 

(dari berbagai sumbur ,semoga berfanfaat ) 

Sebaiknya Orang Tua Jangan Lakukan Keselahan Ini agar anak terampil dan mandiri (Bagian Satu)

Dengan belajar dari kesalahan, kita bisa menjadi orang tua yang lebih baik. Nah, Apakah Anda termasuk orang tua yang kerap melakukan salah satu, beberapa, atau semua hal berikut ini? Bila ya, segera lakukan koreksi agar anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi cerdas, terampil, mandiri, dan ekspresif.

MEMAKSA ANAK MENGHENTIKAN AKTIVITASNYA
Di usia prasekolah, anak mulai menggemari kegiatan mengasyikkan yang terfokus pada dirinya. Contoh, asyik menonton televisi atau asyik mengutak-utik hobinya semisal menggambar. Saking asyiknya, si anak sampai "lupa" waktu: waktu untuk makan, tidur, mandi, dan lainnya. Di sisi lain, anak usia prasekolah memang belum paham mengenai konsep waktu sehingga masih perlu diingatkan. Ia pun sedang dalam tahap belajar menyesuaikan diri dengan aturan dan tuntutan yang ada di lingkungannya.

Sayangnya, banyak orang tua tak paham akan hal ini. Hingga yang kerap terjadi, umumnya orang tua malah akan menyuruh anak untuk menghentikan keasyikannya itu, "Kakak, ayo, menggambarnya udahan. Sekarang waktunya mandi!" Jika si anak menolak, "Sebentar, Ma, dikit lagi, nih!", orang tua pun memaksa, "Tidak! Sekarang sudah waktunya mandi, jadi kamu harus mandi!" Padahal, sikap orang tua yang demikian hanya akan membuat anak jadi tak punya otoritas terhadap diri sendiri karena anak tak punya kemampuan memutuskan sendiri apa yang menjadi prioritasnya. Di masa depan, tentu sulit bila anak tak punya kemampuan memutuskan apa yang penting dan menjadi prioritas hidupnya.


TINDAKAN YANG BENAR:

Selama ini, memang orang tualah yang selalu membuatkan jadwal untuk anak. Misal, jadwal mandi, makan dan tidur. Mengapa tidak memberi mereka kesempatan pada anak untuk mengatur sendiri jadwalnya? Jikapun anak masih melakukan aktivitas lain sehingga melanggar jadwal yang dibuatnya, orang tua dapat memberinya pengertian, "Kak, sekarang, kan, sudah jam 5. Ayo, jadwal Kakak, kan, jam 5 Mandi. Itu angkanya sudah jam 5, berarti kakak harus mandi." Bila mereka masih ingin mengulur waktu, berikan tenggang yang tak terlalu lama, "Oke, Mama kasih waktu 10 menit lagi, ya. Kalau jarum panjang ini sudah sampai di angka 2 (pukul 5 lebih 10), berarti Kakak harus berhenti menggambar, lalu mandi. Kalau ditunda lagi nanti kemalaman."

Beri juga pengertian, pentingnya menepati jadwal yang sudah dibuat sendiri. Tentu orang tua juga tak boleh terlalu saklek. Bila hari libur, jadwal anak boleh lebih santai. Sebaliknya, bila anak harus les atau diajak pergi, terangkan lebih awal bahwa jadwalnya "terpaksa" berubah. Contoh, "Kak, hari ini mandi sorenya jam 4, ya, karena Kakak akan Ibu ajak pergi."


MENYUAPI MAKAN
Banyak orang tua masih kerap menyuapi anaknya makan. Umumnya supaya si anak mau makan. Apalagi di usia prasekolah, kalau sedang asyik menekuni sesuatu kegiatan, anak bisa sampai lupa waktu. Nah, daripada si anak tertunda waktu makannya, maka orang tua pun menyuapinya sambil si anak tetap asyik dengan aktivitasnya itu.

Padahal, jika anak tak dibiasakan makan sendiri, bisa-bisa sampai di akhir usia prasekolah pun, si anak belum terampil makan sendiri. Padahal, di usia 5 tahun harusnya anak sudah bisa makan sendiri, bahkan memotong makanan dengan pisau.

Selain itu, dengan orang tua terbiasa menyuapi anaknya makan, anak jadi tak mandiri. Bisa-bisa, mereka hanya mau makan bila disuapi oleh ibu atau pengasuh. Nah, bila kebetulan ibu pergi atau si pengasuh repot, tentu mereka tidak akan makan, kan?

Kesalahan ini sering juga bersumber pada anggapan, anak yang gemuk mencerminkan orang tua yang pandai merawat. Bila si anak kurus, orang tua takut dianggap tak perhatian pada anak. Itulah sebabnya, bila anak mulai ogah-ogahan makan, orang tua pun panik. Selanjutnya, acara makan seringkali menjadi ajang berantem antara orang tua dan anak, lantaran orang tua memaksa si anak untuk makan.

Padahal, gemuk-kurusnya si anak tak dapat dijadikan patokan untuk menilai "kepandaian" orang tua dalam merawat anak. Di sisi lain, tak heran bila disuruh makan, ia lantas menolak. Jika dipaksa, lambat-laun akan membuat anak mengasosiasikan acara makan sebagai suatu yang tidak menyenangkan sehingga makannya malah makin susah. Padahal, kalau saja orang tua tahu triknya, anak pasti akan makan. Yang penting kita yakin anak tidak mau makan bukan karena sakit. Cirinya, meski tak mau makan, anak tetap aktif melakukan kegiatannya.


TINDAKAN YANG BENAR:

Bila anak asyik menekuni sesuatu sampai lupa waktu makan, orang tua harus menerangkan perlunya makan. Misal, "Kalau Kakak tidak mau makan, Kakak akan sakit. Kalau Kakak sakit, nanti enggak bisa main dan ke sekolah, loh. Kan, nanti juga enggak bisa main di sekolah."

Jika anak tak mau makan tapi tetap melakukan kegiatan, berarti memang dia sedang memilih untuk menunda makannya. Tak usah memaksa, taruh saja piring makanan di sebelahnya dan minta ia makan bila sudah selesai. Atau, pada saat dia sedang asyik bermain, sediakan saja finger food/cemilan yang mudah mereka comot tanpa harus meninggalkan keasyikannya. Sebaiknya selalu sediakan cemilan sehat yang mengandung gizi cukup, semisal bakwan sayuran. Setelah mereka bilang lapar, baru sediakan nasi beserta lauk pauk lengkap.

Trik lain, saat waktu makan tiba, bila perlu kita tawarkan anak mau makan apa. Biasanya, kalau karena pilihannya sendiri, anak akan makan dengan lahap.

TIDAK MENANGGAPI AJAKAN BERKOMUNIKASI
Sering karena sedang asyik memasak di dapur atau membaca koran, kita "mengusir" anak yang ingin mengajak ngobrol. Padahal, di usia prasekolah, otak anak selalu dipenuhi keingintahuan yang maunya segera dijawab, tak peduli pada kesempatan apa pun.

Bila setiap saat anak mengeskpresikan keingintahuannya tapi tak pernah direspons dengan tepat, maka rasa ingin tahu ini lama-lama terkikis habis. Anak jadi malas bertanya, karena setiap kali bertanya, tak pernah digubris orang tuanya.

Lebih parah lagi, anak jadi apatis. Pada setiap kesempatan, dia tetap saja malas buka mulut karena tumbuh perasaan, dirinya mengganggu buat orang tua. Di lain pihak, orang tua maunya anak selalu ingin tahu dan berani mengekspresikan pikiran-pikirannya.


TINDAKAN YANG BENAR:

Harusnya, orang tua tak mematikan keingintahuan anak. Bila anak bertanya di saat kita sedang repot atau sedang tak ingin diganggu, buatlah kesepakatan dengan anak. Katakan padanya, misal, "Kak, Mama sedang repot di dapur. Bagaimana kalau lima menit lagi?" Karena anak usia prasekolah belum tahu konsep jam, gunakanlah weker. Benda ini wajib ada bila kita mulai membuat kesepakatan dengan anak berdasarkan waktu. Tunjukkan dengan weker, jam berapa (jarum pendek dan jarum panjang di angka berapa) ibu sudah bisa diganggu. Tentu ibu harus konsekuen dengan waktu yang telah disepakati.


Melalui "kesepakatan weker", anak dilatih kesabarannya tanpa kehilangan kesempatan berkomunikasi dengan orang tua. Lama-kelamaan ia pun akan belajar, kapan waktu yang tepat untuk bertanya atau mengobrol dengan orang tua. Misal, ibu tidak akan bisa ditanyai kalau sedang di dapur atau baru saja pulang kantor. Atau, ayah tak mau diganggu bila sedang baca koran. Anak juga akan belajar menghormati privasi dan kesibukan orang lain. (bersambung lihat bagian dua )

Sabtu, 02 Mei 2015

Mendidik Anak Agar Menjadi Pribadi Yang Islami

Foto:Ilustrasi .

Tips Mendidik Anak Agar Menjadi Pribadi Islami / Sholeh/Sholeha
Anak adalah harta yang tidak ternilai oleh apapun. Dia ibarat titipan paling indah yang diberikan Allah kepada orang tuanya. Pada masa depannya lah terletak harapan serta kebahagiaan para orang tua.
Dijaman modern seperti sekarang ini, adalah sebuah keharusan bagi orang tua untuk mengajarkan anak- anak mereka tentang pentingnya akidah yang lurus. Hal ini penting untuk dilakukan, mengingat banyaknya pengaruh diluaran yang bisa membentuk karakter anak- anak kita. Maka sebagai orang tua, kita harus tahu bagaimana cara mengarahkan mereka, agar kelak mereka menjadi anak- anak yang sholeh. Berikut beberapa tips mendidik anak agar menjadi sholeh, Soleha Inshaallah.Amin
1- Orang tuaku, tauladanku.
“Like father, like son”, ungkapan ini mungkin sudah sering kita dengar untuk menjelaskan bahwa memang anak adalah plagiator ulung. Setiap tindak tanduk orang tua yang tertangkap oleh mata anak- anak mereka, tidak akan hilang begitu saja. Memori anak yang kuat akan terus merekam. Jika seorang anak sering berkata kasar, bisa jadi karena dia juga sering mendapat perkataan seperti itu dari orang tuanya. Atau mungkin karena si anak seringkali melihat adegan pertengkaran yang dipertontonkan orang tua mereka dirumah. Jika hal ini dibiarkan setiap hari, lama-lama sikap tersebut akan diimitasi, diinternalisasi dan dihabitasi dalam kehidupan anak tersebut.
2. Ukir Masa Depan Anak dengan Ilmu.
Mengajarkan ilmu kepada anak, ibarat mengukir diatas batu. Ilmu apapun yang orang tua berikan kepada anak akan dengan mudah terserap. Ini tidaklah mengherankan, karena ketika anak dilahirkan mereka memiliki 100 miliar neuron di otaknya. Jika diumpamakan satu unit komputer memiliki 100 neuron (jaringan) maka otak anak akan sama dengan 1 miliar unit komputer. Karena itulah, anak-anak memiliki karakteristik ingatan yang kuat. Maka, disinilah waktu yang tepat untuk para orang tua untuk mengajarkan mereka tentang akidah yang benar, namun tetap dengan bahasa yang mereka bisa pahami.
3. Perhatikan lingkungan anak- anak kita.
"Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya, atau kamu bisa mendapatkan wanginya. Dan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat baunya yang tidak sedap." (HR. Bukhari Muslim). Itulah pesan Rasulullah yang mulia, agar kita berhati- hati dalam memilih teman, serta peka terhadap pengaruh yang berasal dari lingkungan sekitar kita. hal yang sama juga berlaku bagi anak- anak kita. Mereka yang polos kadang belum mengerti tentang bagaimana mereka harus berteman. Maka disinilah tantangan bagi orang tua untuk kemudian "menyelamatkan" anak mereka dari pengaruh buruk yang akan membentuk kepribadiannya dimasa depan. 

4. Sabar, ikhlas dan doa

Kesabaran adalah hal mutlak harus dimiliki orang tua. Hal ini karena dalam rentang proses mendidik anak, kadang kita menemui hal- hal yang kurang berkenan. Contohnya, anak bersikap bandel dan tidak mau dinasehati. Ketika berada dalam keadaan seperti ini, sebaiknya orang tua menghindarkan diri dari caci maki dan kemarahan yang hanya akan membuat mereka semakin menjauh. Ketika emosi sudah mulai memuncak, orang tua harus pandai dalam menguasai diri, katakan pada diri bahwa toh mereka masih anak- anak, yang mungkin belum sepenuhnya mengerti tentang sebuah akibat. Kitapun pernah pada usia mereka, dan pastilah saat itu kita pun tidak ingin dibenarkan dengan cara yang kasar. Selain itu, orang tua juga harus belajar tentang keikhlasan. Ridho allah adalah tujuan terbaik, dan jalan menggapainya adalah dengan ikhlas.  Keikhlasan hati orang tua akan membuat apa yang mereka sampaikan mudah diserap dan dipahami anak. Dan yang tidak kalah penting, adalah dengan terus mendoakan mereka, supaya selalu berada dijalan Allah, dan kelak menjadi generasi islami yang membanggakan. Amin

<Semoga bermanfaat >


Sumber:(Syahidah/voa-islam.com)

7 TIPS MERANGSANG ANAK MAU BERLATIH MENULIS

Di bawah ini ada 7 Tips agar anak gemar menulis .. setelah mereka gemar membaca.. maka kini tugas orangtua untuk mendampingi  anak menjadi tutor terdekat bagi anaknya agar ANAK MAU BERLATIH MENULIS.

1. Biarkan anak mencoret-coret lembar bukunya dengan goresan tulisan ttg apa saja yg menjadi benak pikiran mereka..
2. Berikan anak hadiah sebuah buku DIARY ..minta pada anak agar mereka mencurahkan cerita - cerita ttg keseharian dia di sekolah.. atau ditempat les dan hal lain yg menarik perhatian anak tuk ia tuangkan di buku harian..
3. Ajak anak tuk mengikuti kelas pelatihan menulis buat anak2.. dan biarkan anak menikmati acara itu dgn tanya jawab..
4. Sbg ortu berikan anak buku bacaan yg mereka gemari.. lalu ajak anak tuk diskusikan isi bacaan yg dia baca.. stlh itu minta anak tuk mencoba menuliskan di selembar kertas.. cerita ttg pengalamannya disekolah layaknya ia adalah si penulis dari buku yg menjadi kegemarannya.. dgn membiarkan anak menggunakan tokoh cerita yg disukainya..
5. Ajak anak untuk mengikuti acara lomba menulis yg diadakan disekolahnya.. berikan anak motivasi bahwa dengan mengikuti acara lomba menulis itu anak akan dapat menuangkan suatu karya yg dpat membanggakan diri dan sekolahnya..
6. Biarkan anak membaca cerita-cerita dogeng spt komik atau cerita fiksi anak lainnya.. dgn banyak anak menyerap bacaan yg ia gemari. suatu saat akan mendorong anak tuk bs menghasilkan karya gemilang seprti yg dia baca..
7. Beri anak motivasi bahwa dengan berlatih MENULIS akan membuat anak cerdas dlm mengembangkan daya imajinasinya lewat bahasa tulisan.. 
Semoga bermanfaat .


Jumat, 01 Mei 2015

INI PERANAN GURU DALAM KEGIATAN BERMAIN DI TAMAN KANAK-KANAK

Bermain adalah kegiatan yang sangat penting bagi anak-anak khususnya anak usia dini. Bermain merupakan upaya bagi anak untuk mengungkapkan hasil pemikiran dan perasaan serta cara anak menjelajah lingkungannya. Bermain juga membantu anak dalam menjalin hubungan sosial antar anak. Bermain itu menyenangkan karena ketikan bermain anak-anak bisa bebas mengekspresikan ide-idenya, imajinasinya dan perasaannya yang terkadang tidak selaras dengan kenyataan yang sebenarnya.
Kegiatan bermain ditaman kanak-kanak dapat di lakukan di dalam dan di luar ruangan.Bermain di dalam ruangan biasanya sedikit lebih tenang, ruang di dalam sebaiknya di rancang dan di tata sedemikian rupa sehingga dapat dipergunakan untuk berbagai macam kegiatan apabila terjadi kegiatan tersebut berlangsung bersamaan diusahakan tidak saling menganggu. Contoh kegiatan bermain didalam ruangan di antaranya:

 Kegiatan bermain balok

Balok-balok kayu atau plastik merupakan alat permainan yang sangat sesuai sebagai alat untuk membuat berbagai konstruksi. Berrmain dengan balok sangat berharga. Melalui bermain dengan balok anak-anak mendapat kesempatan untuk melatih kerjasama mata, tangan dan koordinasi fisik. Peran guru dalam kegiatan ini adalah memperkenalkan balok-balok dengan meletakkan atau menyimpannya sedemikian rupa. Anak-anak harus membiasakan diri menyimpan kembali balok-balok setelah selesai menggunakannya. Anak juga harus berbagi dengan anak lain saat mereka bermain dengan balok.

Kamis, 30 April 2015

Mengajar anak berkebutuhan khusus, Mengajar Harus dengan Hati

Mengajar anak berkebutuhan khusus bukan perkara mudah. Perlu ada pengetahuan dan keterampilan khusus untuk menangani mereka, di samping pentingnya kerja sama dengan orang tua sang anak. Namun, satu hal yang patut dimiliki guru untuk mampu membantu tumbuh kembang dan pendidikan anak berkebutuhan khusus adalah hati yang mengasihi!
Hati yang mengasihi itulah kunci Sangita Lachman, seorang dokter yang beralih profesi menjadi guru preschool – lembaga pendidikan pra sekolah. Pengalaman 12 tahun mengajar di beberapa preschool di Jepang dan Indonesia, membawa Sangita bertemu dengan anak-anak spesial yang memang memiliki kebutuhan khusus / Anak Berkebutuhan Khusus dalam proses tumbuh kembang mereka.
Awal mula Sangita terjun ke dunia pendidikan anak pra sekolah atau preschool, adalah ketika ia mengikuti suami yang bekerja di Jepang. Sebelumnya, wanita berdarah India ini adalah seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Untuk mengisi waktunya di negeri Sakura itu, Sangita melamar sebagai guru di sebuah preschool internasional.
Lima tahun mengajar anak-anak balita di Jepang sudah cukup membuat Sangita jatuh cinta pada profesi guru anak-anak usia dini atau kelompok bermain atau biasa disebut preschool.
Saat pulang ke tanah air, Sangita memilih menjadi guru preschool dibanding kembali melanjutkan profesinya sebagai dokter. “Saya merasa bahagia mengajar anak-anak ini / nak Berkebutuhan Khusus , dan tidak pernah stress ketika menjadi guru,” ujar Sangita.
“Ada ‘passion’ tersendiri saat mengajar anak-anak, membimbing dan membantu mereka hingga bisa lebih mandiri saat memasuki jenjang pendidikan berikutnya,” lanjut Sangita.
Sejak mengajar di preschool inilah, Sangita mendapat pengalaman menghadapi anak-anak dengan kebutuhan khusus dan kerap melihat bagaimana pihak sekolah kesulitan menangani anak-anak tersebut.
Pada banyak kasus, Sangita melihat sekolah bukannya mencari solusi terbaik bagi penanganan anak-anak spesial tersebut, namun sekolah cenderung mengabaikan keadaan sang anak yang memang membutuhkan perhatian khusus dari penyelenggara sekolah.
“Saya pernah menemukan anak hiperaktif yang tak bisa diam diikat kakinya, karena terus lari-lari. Lalu ada yang mendapat hukuman disuruh duduk di time-out chair (kursi isolasi, red) karena dianggap mengganggu temannya. Menurut saya mereka (anak-anak spesial ini, red) telah menjadi korban atas ketidakmengertian para guru,” jelas Sangita dengan nada prihatin.
Bagi Sangita, meski anak-anak tersebut berbeda dengan anak pada umumnya, penting bagi guru-guru dan para penyelenggara sekolah lainnya untuk memandang mereka selayaknya anak-anak yang unik tiap individunya ,katanya

(berbagai sumber)

MULTI TAB 1

Pentas Seni & Perpisahan

Pentas Seni & Perpisahan

MULTI TAB 2

Kegiatan Kartinian

Kegiatan Kartinian

MULTI TAB 3

anoman

anoman

MULTI TAB 4

perpisahan

perpisahan

MULTI TAB 5

kartinian 2

kartinian 2


MULTI TAB 6

1

Entri Populer

MULTI TAB 7

Headline

">

MULTI TAB 9

Buku Tamu

MULTI TAB 10

Daftar Blog Saya

MULTI TAB 11




 
KEMBALI KEATAS
') }else{document.write('') } }