PENIGKATAN GIZI

Peningkatan Kesadaran Gizi Ibu dan Balita; Sosialisasi PP Muslimat NU dan Yaici di Palembang Sumatera Selatan

Dra.Hj.Khofifah Indar Parawansa, M.Si.

Mengarungi Kisah Inspiratif Hj Khofifah Indar Parawansa

MANASIK HAJI

Pembelajaran Manasik Haji Kecil TKTA Tarbiyatul Athfal41 Semarang pada Tgl.8 Oktober 2015 di Islamic Center Semarang

Pelatihan Penguatan Keaswajaan Da’iyah Muslimat NU

Penguatan Keaswajaan Bagi Da’iyah Muslimat NU DKI Jakarta

Ketua NU Kota Semarang

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, Dr. KH. Anasom MHum

Jumat, 06 Mei 2016

Kalau Bisa Mudah Kenapa Dipersulit

Mengurus perizinan SPK di Kemdikbud tidak sulit. Asalkan berkas persyaratan lengkap, izin akan langsung dikeluarkan.

Isak tangis mewarnai acara penutupan Sosialisasi Kerja Sama Program PAUD dan Dikmas yang diselenggarakan Sekretariat Jenderal PAUD dan Dikmas, di Bandung.  Ratusan peserta tak kuasa menahan air mata saat Sekretaris Ditjen PAUD dan Dikmas Wartanto menayangkan video berisi motivasi dan nilai-nilai empati.

Tayangan video tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan para peserta tentang mendesaknya Revolusi Mental di negeri ini. “Keberhasilan PAUD dan Dikmas sangat bergantung pada Revolusi Mental,” kata Wartanto.

Dalam paparannya Wartanto menegaskan pentingnya menjalankan agenda Revolusi Mental. Di bidang pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mewujudkannya dengan menjalankan reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan yang bersih.

“Kami ingin membuat yang terbaik bagi negeri ini, kami ingin bersih. Oleh karena itu segala urusan perizinan kami layani sesuai aturan yang berlaku. Semua harus terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Wartanto mengingatkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah bekerja keras menjalankan agenda perubahan. Oleh karena itu, praktik-praktik tidak baik harus ditinggalkan. Nilai-nilai kejujuran dan integritas harus dikedepankan dalam setiap pelayanan masyarakat.

“Prinsipnya kalau bisa mudah kenapa dipersulit. Zaman sudah berubah. Praktik-praktik tidak baik mesti kita tinggalkan,” kata dia.

Namun Wartanto mengingatkan, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam menjalankan agenda perubahan. Pelaku pendidikan, dan masyarakat harus bersinergi membangun sebuah ekosistem pendidikan yang mengedepankan karakter bangsa.

Terkait proses perizinan SPK misalnya, Kemdikbud tidak mau berurusan dengan pihak ketiga atau calo. Penyelenggara SPK harus datang sendiri untuk mengurus semua perizinan di Kemdikbud.

Wartanto menegaskan, pihaknya sudah tidak mau lagi menjadi korban praktik curang dari calo, yang mengatasnamakan pejabat Kemdikbud untuk mengutip pungutan pada saat mengurus perizinan.

“Kami tidak pernah memungut uang sepeserpun. Semua perizinan gratis. Tapi gara-gara ada penyelenggara SPK yang mengurus izin memakai jasa calo, kami kerap dituding meminta bayaran,” tegasnya. (Tim Warta/KS)

seengkapnya :http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/8509.html

Kamis, 05 Mei 2016

Kemeriahan Acara Perpisahan TK Tarbiyatul Athfal 41 Semarang

Antusias, semua siswa TK TA 41 Semarang memperaktekan  pembuatan  roti  ,dan bermain di wisata pantai Cahaya Kendal .

Semarang.Guru, orang tua wali murid  dan siswa menggelar acara perpisahan TK ( B) Tarbiyatul Athfal  41 semarang  pada tahun ajaran 2015-2016 .Acara di gelar dengan mengunjungi  sejumlah wisata seperti  di pantai Cahaya Kota Kendal  dan mengunjungi  perusahaan Roti untuk bekal  Edukasi pengetahuan pagi semua murid Sabtu (30 /4/16). 
“Kami berupaya melanjutkan pengetahuan anak mengenai aqidah dan akhlaq, Jangan pernah berhenti mencerdaskan anak dengan ilmu pengetahuan umum dan agama Islam. Mereka merupakan investasi kita dunia dan akhirat,”tutur,  Hj ,Alif Wahdah SAg,Kepala TK Tarbiyatul Athfal 41 Semarang .
Dia juga mengemukakan sekolah tersebut didirikan berbasis kepada keikhlasan dan berharap ridho Allah SWT. “Insya Allah, kami konsisten untuk memperjuangkannya. ” jelasnya.*  



Senin, 18 April 2016

Dirjen PAUD & Dikmas Harris Iskandar: “PAUD, Investasi Paling Menjanjikan”

Jika suatu daerah ingin memiliki daya saing yang kuat, maka berinvestasilah dengan membangun pendidikan anak usia dini yang berkualitas. Insya Allah ke depan akan mampu menjadi daerah yang maju dengan SDM berkualitas.

Program BOP DAK PAUD yang kini menjadi program di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) menjadi perhatian serius Dirjen PAUD dan Dikmas Harris Iskandar, Ph.D. Menurut Dirjen, adanya BOP DAK PAUD ini menjadi peluang untuk pengembangan PAUD berkualitas karenanya pengelolaannya harus benar-benar tepat sasaran dan sesuai dengan aturan. Penegasan tersebut disampaikan Harris saat memberikan arahan sekaligus pembukaan Rapat Kerja Penguatan Strategis Program PAUD DIKMAS Tahun 2016 dengan tema “Pengelolaan BOP DAK PAUD dan Program PAUD DIKMAS” yang digelar di Mercure Hotel & Convention Ancol.

Di hadapan peserta Raker yang berjumlah 682 peserta dari total 820 undangan, Harris menyatakan, pengelolaan BOP DAK harus menjadi perhatian bersama karena ini untuk kepentingan pendidikan anak usia dini. Maka, lebih jauh Dirjen PAUD Dikmas menyatakan, dalam konteks menciptakan pengelolaan BOP DAK PAUD itu pula rapat kerja mengundang peserta rapat yang berasal dari berbagai posisi, mulai dari para Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Asset Daerah Pemerintah Kota/Kabupaten, para Kepala Bidang PAUD Dikmas Provinsi, Penanggung jawab DAK dan PAUD Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, para Kasubdit dan para kepala seksi Program & Evaluasi di lingkungan Ditjen PAUD Dikmas.

Terkait pengelolaan selama ini, menurut Harris, Ditjen PAUD Dikmas terus memantau keadaan di lapangan dari Sabang hingga Merauke bagaimana kondisi menjelang pencairan BOP DAK pada triwulan kedua. “Hasilnya memutuskan bahwa kita harus melakukan koordinasi sekali lagi. Langkah ini untuk memastikan bahwa seluruh petugas, aparat, dan pejabat di daerah memahami peran sehingga mekanisme bisa terlaksana, baik dari sisi waktu, aturan, dan juknis yang sesuai,” ujarnya.

Keseriusan pengelolaan BOP DAK PAUD ini, lanjut Harris, penting dilakukan karena ada banyak anak usia dini, para guru PAUD, dan pengelola menunggu bantuan yang mereka butuhkan. “Menjadi penting juga karena PAUD menjadi prioritas pembangunan human capital di Indonesia dan juga dunia. PAUD diangkat derajatnya masuk ke dalam salah satu Sustainable Development Goals (SDG),” katanya. Tujuan SDG, Dirjen menambahkan, antara lain memastikan kualitas pendidikan minimal pra- SD merupakan target yang harus dicapai seluruh negara sebelum 2030. “Masih lama memang, tapi kalau tidak disiapkan dari sekarang kita akan kedodoran. Itulah pentingnya minimal pra SD itu, anak-anak mendapat layanan PAUD,” ujar Harris.

Dari Deklarasi Incheon, Korea, tahun lalu, Dirjen mengemukakan, yang menjadi fokus utama adalah compulsory childhood education atau PAUD. Kenapa demikian, karena perkembangan otak manusia terjadi pada periode-periode yang disebut usia emas. Bahkan ada hasil riset terakhir pada 1.000 hari pertama itu struktur otak terbentuk mencapai 80%. Riset tersebut, menurut Harris semakin menguatkan bahwa kita selama ini tidak memberikan perhatian pada pendidikan PAUD. Padahal merujuk riset penerima nobel, tidak ada investasi yang paling berharga selain PAUD. Dibanding jenjang pendidikan lain, investasi PAUD memberikan return jauh lebih tinggi.


sumbe lengkap :http://www.paudni.kemdikbud.go.id/berita/8479.html

Jumat, 15 April 2016

Ortu Didik dengan Cara Keras, Anak Berisiko Jadi Pribadi Kasar

Jakarta Walaupun seorang ibu yang cerewet terbukti dapat membuat seorang anak menjadi lebih sukses, sebuah studi baru menemukan bahwa orangtua yang menggunakan cara-cara manipulatif dan menimbulkan perasaan bersalah pada anak mereka dapat membuat sang anak menjadi lebih emosional dan kasar ketika mencapai usia dewasa.

Pemimpin penelitian Jamie Abaied dan koleganya di University of Vermont melakukan 2 studi terpisah. Abaied dan rekan-rekannya meneliti kadar keringat pada 180 mahasiswa yang diminta mengingat pengalaman pahit dalam hidup mereka. Ternyata, semakin mereka berkeringat semakin buruk keadaan anak tersebut, mengindikasikan keadaan yang disebut sebagai “high arousal” atau kondisi reaktif terhadap rangsangan yang berkaitan dengan emosi tinggi.


Para peneliti menemukan bahwa para partisipan dengan kondisi high arousal lebih kuat ini berkemungkinan lebih agresif dan kasar terhadap orang-orang di sekitar mereka. Di sisi lain, mereka yang berkeringat lebih sedikit memperlihatkan “blunted arousal” atau reaksi rendah terhadap rangsangan emosi, dan ternyata lebih mudah untuk tetap tenang.

Abaied kemudian menggunakan kuesioner untuk mengetahui anak-anak yang tumbuh dengan orangtua yang lebih sedikit mengkontrol cenderung lebih menampilkan kondisi blunted arousal.

"Kita harus menyadari bahwa para orangtua sangat berpengaruh terhadap anak-anak," ujar Abaied pada pernyataan penelitian.

“Terlihat bahwa pengasuhan orangtua yang baik lebih melindungi mereka. Pengasuhan yang baik mencegah mereka menjadi agresif terhadap hubungan dengan lingkungan mereka,” tutup Abaied seperti dilansir dari laman Good Housekeeping, *


Ini Keuntungan Ajarkan Anak Beternak

Jakarta Mengajarkan anak sedari dini tentang hal-hal yang berbau alam menyimpan segudang manfaat untuk masa depan kelak. Seperti mengajak anak beternak atau bercocok tanam, secara tidak langsung dapat melatih stimulus fisik serta psikis anak.

Seorang manajer muda Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur Grati, Pasuruan, Jawa Timur, menuturkan perkembangan generasi peternak di Indonesia, khususnya di KUTT Suka Makmur, "Generasi tantangan peternak di sini cukup berat, namun kami berusaha menarik anak kota untuk kembali ke desa. Tapi di balik itu peternak di daerah kita itu turun temurun, jadi kayak warisan lah.. Jadi diantara satu dari tiga anak peternak pasti ada yang meneruskan," ungkap Sanggar Renggo Wibowo saat ditemui Health-Liputan6.com, ditulis Jumat (15/4/2016).

BACA JUGA
Rabun Jauh Tidak Hinggapi Anak yang Gemar Bermain di Alam
Sekolah Tanpa Dinding Tingkatkan Kualitas Perkembangan Anak
Ini Manfaat Ajarkan Anak Berkebun
Khususnya generasi muda yang berasal dari keluarga peternak terbiasa berhadapan langsung dengan alam, sehingga membuat mereka lebih unggul dalam mengurus sebuah peternakan. Menurut Sanggar dibandingkan anak yang menjalani studi terkait tani atau ternak di kota, anak peternak meraup keuntungan ke depan.

"Anak peternak yang beternak itu mereka di umur 18 sampai 21 itu sudah bisa mendapatkan dan merasakan hasilnya, dibanding mereka yang sekolah ternak hingga S1 atau sampai S2," ungkap pria bertubuh tinggi ini.

Selain lebih mahir mengurus peternakan, anak peternak yang beternak pun menurut Sanggar bisa hidup layak di desa dan memiliki investasi yang baik untuk kehidupan mendatang.

sumber:http://health.liputan6.com/read/2483904/ini-keuntungan-ajarkan-anak-beternak

Sabtu, 09 April 2016

Wajib Di Ketahui Ini Bahaya Bila Ortu Abaikan Anak

Jakarta Mengasuh dan membesarkan anak merupakan dorongan yang bersifat universal. Setiap mahluk yang memiliki anak umumnya memiliki dorongan ini tak terkecuali manusia. Bagi manusia yang memiliki anak, selain untuk memenuhi kesejahteraan fisik anak, pertumbuhan dan perkembangan pada aspek lain antara lain aspek emosi, kecerdasan, dan karakternya merupakan. Aspek-aspek ini menjadi tampak menonjol dimiliki oleh manusia sehingga dalam banyak hal akan membedakan eksistensi manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya.

Semakin lama, mengasuh dan membesarkan anak tampaknya semakin mendapatkan banyak tantangan dari zaman yang terus berkembang. Salah satunya mengenai waktu dan perhatian yang diberikan oleh orangtua terhadap anak-anaknya. Dibandingkan para orangtua di masa lampau, para orangtua di masa kini secara umum tampaknya relatif semakin sedikit mengalokasikan waktu bagi anak-anak mereka. Dalam banyak kasus bahkan telah terjadi pengabaian oleh orangtua terhadap anak-anak yang pengasuhannya semestinya berada dalam tanggung jawab mereka. Bagi yang memiliki kecukupan materi, kompensasi yang kemudian dilakukan bagi semakin berkurangnya waktu dan perhatian untuk anak-anak mereka ini adalah pemberian materi yang kadang-kadang berlebihan sifatnya. Kompensasi dalam bentuk materi yang berlebihan pada anak tanpa kehadiran orangtua untuk menemani dan membimbing justru dapat berdampak negatif

Anak SD Tak Perlu Diberi Gadget

Jakarta Anggota DPR RI, Desy Ratnasari mengimbau orang tua agar tidak memberikan gadget dahulu kepada anak-anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar atau SD.

"Kemajuan teknologi, seperti semakin berkembangnya kecanggihan gadget juga mempunyai dampak negatif khususnya terhadap pola pikir anak yang masih berkembang, maka dari itu saya cenderung tidak memberikan gadget kepada anak yang masih usia SD," katanya, di Sukabumi,Menurutnya, gadget memang akan mempermudah si anak berkomunikasi dengan orang lain, tapi dampak negatif dari gadget tersebut adalah mudahnya si anak membuak situs-situs berbahaya bagi perkembangan pola pikirnya seperti situs porno, kekerasan hingga terorisme yang bisa mengubah kepribadian si anak.

Selain itu, usia SD si anak juga masih belum secara utuh bisa memilah dan memilih mana yang baik dan benar, sehingga khawatir dengan semakin mudahnya mereka membuka akses yang diinginkannya maka hidupnya menjadi indvidualis bahkan bisa saja cenderung melawan kepada orang tuanya.

"Kasih sayang orang tua bukan berarti harus memberikan semua yang diinginkan untuk si anak, tetapi alangkah baiknya orang tua juga memberikan sesuatu barang agar si anak lebih kreatif dan senang berkerjasama dengan orang lain bukan menjadi orang yang individualis," tambahnya.

Desy mengatakan walaupun dirinya tidak melakukan penelitian terhadap jumlah dan sifat anak, tetapi dari pantauannya setiap kali turun ke daerah pemilihannya maupun kunjungan ke daerah-daerah, ternyata anak SD lebih senang menggunakan gadget dibandingkan permainan tradisional yang membutuhkan kerjasama kelompok.

Ke depannya, politisi Partai Amanat Nasional ini akan mencari solusi yang tepat agar anak SD kembali lebih senang kerja/belajar/bermain kelompok dibandingkan hanya memanfaatkan gadget untuk komunikasi maupun belajarnya


sumber:http://health.liputan6.com/read/2281304/anak-sd-tak-perlu-diberi-gadget

Ini Ciri Rumah Ideal bagi Pemilik Anak Usia Dini

Jakarta - Apa yang menjadi pertimbangan utama Anda saat membeli rumah baru? Jarak dengan pusat kota, dengan jalan tol, atau  kantor? Seberapa besar Anda mempertimbangkan faktor kebutuhan anak saat hendak membeli rumah?

Terkadang, orang tua tanpa sengaja menomorduakan kebutuhan anak-anak pada saat membeli rumah. Padahal, anak dan orang tua memiliki kebutuhan psikologis yang berbeda. Ada hal-hal yang harus Anda perhatikan saat membeli rumah agar proses tumbuh kembang anak, baik fisik maupun mental, bisa berjalan dengan sempurna. Apa saja?

Menurut motivator pendidikan kreatif, Rahmi Dahnan, Psi, seperti dikutip dari www.rumah.com, agar proses tumbuh kembang anak dapat berlangsung dengan baik, orang tua harus menyediakan lingkungan yang baik. Tidak masalah apakah Anda tinggal di apartemen atau di rumah tapak, yang terpenting perhatikan faktor-faktor berikut:

1. Perhatikan karakter tetangga

Anak-anak harus bergaul dengan sebayanya. Mereka perlu bermain sekaligus bersosialisasi. Jika lingkungan perumahan lebih banyak dihuni oleh warga pensiunan, misalnya, anak-anak akan kekurangan teman untuk bermain dan bersosialisasi.

2. Taman atau Playground

Playground menjadi sarana sosialisasi anak-anak. Mereka bisa bergaul dengan teman sebayanya. Di sini mereka belajar berinteraksi, belajar bersosialisasi. Anak-anak belajar antri, belajar berbagi.

Pentingnya belajar bersosialisasi di antaranya agar anak tidak menjadi korban bully. Dengan bersosialisasi, anak-anak belajar menempatkan diri, belajar berkawan. Jika tidak, anak-anak akan menjadi tidak percaya diri. Anak-anak yang tidak percaya diri terlihat dari gerak tubuhnya dan membuatnya jadi sasaran pelaku bullying. Selain itu, sosialisasi membuat anak memiliki semangat berkompetisi.

Jika lingkungan cluster yang menjadi incaran tidak menyediakan taman bermain, setidaknya harus ada taman umum dalam jarak yang cukup terjangkau.

3. Ruang terbuka

Ruang terbuka diperlukan karena usia kanak-kanak adalah usia di mana mereka sedang aktif bergerak. Anak-anak harus punya ruang untuk berlari-lari, bermain sepeda, dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan ini akan merangsang saraf motorik anak-anak.

4. Dekat dengan sekolah dengan kurikulum yang tepat

Rahmi menuturkan, sekolah yang bagus adalah sekolah yang memiliki kurikulum pembentukan watak, Misalnya, sekolah yang membiasakan murid-muridnya belajar mengantri, sholat jamaah, mengunjungi panti asuhan.

Kebanyakan orang menilai sebuah sekolah dari kurikulum akademiknya. Padahal, akademik lebih tepat dikembangkan di usia yang lebih tinggi. Pada usia dini, anak-anak lebih baik dididik soal karakter.

Kedekatan rumah dengan sekolah harus menjadi pertimbangan. Sekolah yang jauh membutuhkan waktu tempuh yang lama, membuat anak kelelahan dalam perjalanan. Selain itu, jarak rumah yang dekat dengan sekolah memudahkan orang tua untuk mengawasi anak-anaknya.

5. Keamanan

Anak-anak membutuhkan banyak kegiatan di luar ruang, terutama di lingkungan perumahan. Mereka akan berlari-lari, bersepeda, petak-umpet, dan lain-lain. Sebagai orang tua, adalah tanggung jawab Anda untuk selalu mengawasi mereka. Namun lingkungan perumahan juga harus memiliki sistem keamanan yang baik untuk meningkatkan keamanan di lingkungan.

Tidak hanya peralatan canggih yang menjadi syarat, seperti CCTV, tetapi juga aspek sumber daya manusianya. Anda harus kenal betul dengan petugas keamanan di lingkungan, begitupula para petugas harus kenal betul dengan warganya.

Dengan demikian, petugas keamanan bisa langsung tanggap saat anak-anak mulai meninggalkan kawasan perumahan ataupun saat ada orang asing mulai berinteraksi dengan anak-anak Anda.

6. Kenyamanan di dalam rumah

Setelah Anda mendapatkan hunian yang ideal secara fisik, yang terakhir dan yang paling utama yang harus Anda sadari adalah kenyamanan saat menghuninya. Rumah adalah tempat anak ‘kembali’. Di rumah, anak-anak harus merasa nyaman, bebas dari rasa tertekan. Di rumah, orang tua juga harus membiasakan anak bersosialisasi, seperti berbagi, mengantre, dan sebagainya


sumber:http://properti.liputan6.com/read/2375748/ini-ciri-rumah-ideal-bagi-pemilik-anak-usia-dini

Selasa, 29 Maret 2016

Sosialisasi Kerja Sama Program PAUD: "Informasi yang Utuh sangat Dibutuhkan"

Puluhan penyelenggara Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) PAUD di wilayah timur Indonesia antusias mengikuti Sosialisasi Kerja Sama Program PAUD dan Dikmas di Hotel Lor In New Kuta, Bali. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Ditjen PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini berlangsung sejak 16 s.d. 18 Maret, ini juga diikuti oleh perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi, dan Dinas Pendidikan kabupaten/kota.

Menurut Kepala Bagian Umum dan Kerja Sama Ditjen PAUD dan Dikmas Triana Januari, kegiatan ini bertujuan untuk menjawab kendala yang kerap dialami para penyelenggara SPK PAUD terkait pelaksanaan Permendikbud No.31 Tahun 2014 Tentang Kerja Sama dan Pengelolaan Pendidikan oleh Lembaga Asing dengan Lembaga Pendidikan di Indonesia. “Masih banyak kendala yang dirasakan oleh penyelenggara SPK PAUD, terutama terkait perizinan,” ujar Triana saat membacakan laporan kegiatan.

Triana menyebutkan, beberapa kendala terkait perizinan itu di antaranya adalah rekomendasi pendirian sekolah dari dinas kabupaten/kota, dan izin mempekerjakan tenaga kerja asing dan peserta didik asing dari Ditjen PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Triana menegaskan, Ditjen PAUD dan Dikmas telah menetapkan standar pelayanan proses perizinan tersebut. “Jika berkas pengajuan sudah lengkap, maksimal tujuh hari kerja, proses harus sudah selesai. Namun sayangnya, seringkali berkas pengajuan yang masuk belum lengkap,” ungkapnya.

Triana menambahkan, salah satu penyebab hal tersebut karena sebagian penyelenggara SPK PAUD kurang memahami persyaratan untuk memeroleh rekomendasi dari dinas setempat. “Hal ini disebabkan masih kurangnya informasi yang utuh tentang Permendikbud No.31 Tahun 2014,” ujarnya. Menyikapi hal tersebut, Kemdikbud sebagai regulator SPK berupaya menyosialisasikan Permendikbud ini kepada unsur Dinas Pendidikan kabupaten/kota dan penyelenggara SPK PAUD di seluruh Indonesia.

Melalui sosialisasi ini, para pelaku SPK PAUD diharapkan dapat memahami proses, mekanisme, dan tata cara pengajuan izin pendirian satuan pendidikan kerja sama, juga izin mempekerjakan tenaga kerja asing dan izin belajar peserta didik asing sesuai Permendikbud No.31 Tahun 2014. “Ini menjadi bagian dari upaya kita dalam rangka memberikan informasi yang utuh mengenai regulasi SPK PAUD,” tegas Triana. (Tim Warta/KS/Bali2016)


sumber:https://paudni.kemdikbud.go.id/berita/8309.html

Geliat Direktorat Pendidikan Keluarga dan OASE KK

Jakarta, PAUD dan Dikmas. Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga (Ditbindikkel), Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas), bersama dengan Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE KK) menggelar Seminar Pendidikan Keluarga Duta OASE Cinta. Minggu (6/3)

Saat menyampaikan laporan kegiatan dihadapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan dan peserta seminar, selaku Direktur Jenderal PAUD dan Dikmas, Harris menyampaikan tujan dan tema seminar yang mengusung mengoptimalkan pelibatan publik melalui keluarga, satuan pendidikan dan masyarakat dalam menumbuhkan budi pekerti dan budaya prestasi.

Kegiatan yang dilaksanakan sejak tanggal 6 s/d 8 Maret ini dihadiri oleh 620 peserta terdiri dari Pengurus-pengurus  Dharma Wanita dari tingkat Pusat, Kemdikbud, Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota serta delapan UPT Ditjen Paud dan Dikmas.

Seminar Pendidikan tersebut menyajikan materi antara lain: mengatasi bahaya kekerasan dan pornografi, komunkasi yang efektif untuk membangun karakter anak dan mengasuh anak dengan cinta, serta seminar ini tidak hanya sekedar membekali peserta dengan ilmu pendidikan keluarga namun juga mengukuhkan para peserta sebagai duta oase cinta.


Dirjen juga mengajak para duta oase cinta menerapkan program pendidikan keluarga didaerahnya masing-masing, serta seluruh peserta seminar untuk terlibat aktif dalam laman sahabat keluarga yang menyuguhkan tips pendidikan keluarga, kisah keluarga hebat dan sekolah keren serta dongeng-dongeng , vidio, lagu-lagu dan berbagai fitur lainnya, termasuk forum sahabat keluarga


Semuanya kami siapkan berbagai sumber daya yang kami miliki untuk masyarakat guna mendidik anak Indonesia yang tangguh, sebagaimana para orang tua inginkan, berkarakter dan juga berprestasi.

Termasuk melibatkan publik dalam hal ini para penulis untuk memamerkan buku-buku yang bertemakan pendidikan keluarga sebagai jendela informasi bagi para peserta yang disajikan di pameran didepan ruang sidang, ujar haris menutup laporannya. (M. Husnul Farizi, Pri/KS)

sumber :https://paudni.kemdikbud.go.id/berita/8269.html

SPK PAUD harus Penuhi Lima Kewajiban

Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bukan cuma menyangkut persaingan ekonomi. Era perdagangan bebas kawasan Asia Tenggara ini juga mendorong tenaga asing membanjiri Indonesia. Akibatnya banyak anak-anak dari tenaga asing ini yang harus sekolah. Kondisi ini memicu menjamurnya lembaga pendidikan asing di Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat, hingga tahun 2015 sedikitnya ada 147 SPK PAUD yang tersebar di seluruh Indonesia.


Hal tersebut disampaikan Sekretaris Ditjen PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Wartanto saat membuka Sosialisasi Kerja Sama Program PAUD dan Dikmas di Bali, 16 Maret 2016. Kondisi inilah yang mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan regulasi melalui Permendikbud Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Kerja Sama Penyelenggaraan dan Pengelolaan Pendidikan oleh Lembaga Pendidikan Asing dengan Lembaga Pendidikan di Indonesia (Satuan Pendidikan Kerja Sama/SPK). “Melalui regulasi ini kami berupaya memberikan payung hukum bagi SPK,” ungkapnya.
Dalam Permendikbud ini, seperti diutarakan Wartanto, terdapat lima kewajiban yang harus dipenuhi oleh SPK PAUD. Kewajiban pertama adalah memiliki izin operasional. Ia mengingatkan, agar setiap SPK PAUD wajib memiliki izin operasional.


“Izin ini ada pada kami. Penyelenggara SPK tidak usah takut dipersulit. Kami berupaya memberikan pelayanan yang mudah dan cepat asalkan semua berkas persyaratan sudah lengkap,” tegas Wartanto. Kewajiban kedua, melaksanakan kurikulum pendidikan nasional. Hal ini penting karena pendidikan adalah proses dan anak PAUD adalah aset yang paling berharga. Untuk itulah pemerintah Indonesia menerapkan kurikulum sebagai perangkat untuk membentuk pribadi anak khususnya yang menjadi warga negara Indonesia. Lebih lanjut Wartanto menegaskan, setiap SPK PAUD wajib melaksanakan kurikulum pendidikan nasional ditambah kurikulum SPK. Kurikulum tersebut harus mengenalkan budaya dan bahasa Indonesia. “Terutama bagi peserta didik WNI, SPK PAUD wajib mengajarkan pendidikan agama, Pancasila dan kewarganegaraan,” ujarnya.


Kewajiban berikutnya adalah sadar lingkungan. Wartanto mengingatkan, SPK jangan menjadi satuan pendidikan ekslusif yang tidak peduli pada lingkungan sekitar. Bentuk sadar lingkungan itu misalnya dengan menghargai keragaman budaya Indonesia. Wartanto mencontohkan, SPK PAUD dapat berpartisipasi pada hari besar nasional. Ketika ada kegiatan 17 Agustusan misalnya, SPK hendaknya ikut memeriahkan. Ini bentuk kesadaran terhadap lingkungan sekitar.
“Bila ini dilakukan, maka dengan sendirinya masyarakat dapat merasakan manfaat keberadaan SPK sehingga menganggap SPK bagian dari lingkungan mereka,” tegasnya. Sejalan dengan misi Kemdikbud, sekolah adalah taman yang menyenangkan bagi peserta didik. Terkait hal ini SPK wajib menjadi wilayah yang terbebas dari bullying dan pengaruh negatif lainnya. SPK harus bebas dari kekerasan, pengaruh negatif seperti pornografi narkoba, pelecehan, dan perkelahian. “SPK juga harus melakukan penyaringan untuk memastikan pendidik yang ditugaskan adalah orang yang memiliki kompetensi dan bebas dari pengaruh narkoba,” tegasnya.


Sesuai amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, setiap penyelenggaraan pendidikan wajib memenuhi Delapan Standar Pendidikan Nasional yang meliputi standar isi, proses, penilaian, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, serta pengelolaan. Dalam hal ini SPK PAUD selain wajib memenuhi akreditasi sebagai SPK juga wajib memenuhi akreditasi yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal (BAN PNF). Lima kewajiban itu menjadi kunci. Kalau lima kewajiban itu dilaksanakan di SPK, maka tidak akan ada lagi masalah-masalah sosial. Masyarakat akan dapat merasakan manfaat keberadaaan SPK,” ujar Wartanto. (Tim Warta/KS/Bali_2016)

sumber:https://paudni.kemdikbud.go.id/berita/8299.html

Kamis, 03 Maret 2016

Menemani Anak dalam Pengembangan Minat dan Bakatnya

Ada dua istilah yang sering didengar dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan anak yakni minat dan bakat. Keduanya sering disalahartikan. Minat merujuk pada preferensi seseorang mengenai hal-hal yang disukainya. Misalnya ada orang yang suka bekerja di luar ruangan namun sebagian lain ada yang lebih suka bekerja di dalam ruangan. Ada yang suka bekerja dengan manusia lain namun ada yang lebih menikmati mengotak-atik mesin.

Sementara itu, bakat berhubungan dengan kemampuan yang dimiliki seseorang di area tertentu. Ada orang yang lebih mampu bekerja dengan angka sedangkan yang lain memiliki kemampuan yang baik dalam bahasa. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa baik minat dan bakat mengarahkan seseorang pada suatu aktivitas tertentu. Perbedaannya, minat lebih didasarkan pada kesukaan sedangkan bakat didasarkan pada kemampuan.

Akan sangat ideal jika keduanya mengarah pada satu aktivitas yang sama. Misalnya seseorang yang memiliki minat bekerja bersama orang lain sekaligus berbakat menjadi seorang negosiator. Sebaliknya akan ada masalah jika seseorang berminat pada satu hal namun tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk melakukannya. Demikian juga jika dia berbakat untuk melakukan sesuatu namun sebenarnya dia tidak memiliki minat terhadap hal tersebut.


sumber:http://health.liputan6.com/read/2322548/menemani-anak-dalam-pengembangan-minat-dan-bakatnya

5 Ini Hal yang Anak Pelajari dari Orangtua Mereka

Anak merupakan peniru yang baik saat melihat bagaimana kebiasaan orang tua mereka. Tanpa disadari, mental anak-anak tumbuh dan berkembang dari bagaimana perilaku Anda sebagai orang tua di hadapan mereka.

Tak jarang orang tua memaksakan kehendak dan pemikirannya pada anak, sedangkan hal tersebut tidak sejalan dengan apa yang mereka lakukan. Seperti dilansir dari Time.com pada Minggu baru-baru ini, mengungkapkan apa yang anak pelajari dari orang tua untuk pembentukan dan perkembangan mental mereka.

Liputan6.com merangkun beberapa hal yang anak ingat dan pelajari dari Anda sebagai modal pembentukan karakternya kelak.

1. Ketika anak Anda merasa aman

Terkadang anak-anak seringkali memiliki imajinasi yang berlebih, entah itu monster atau mimpi buruk lainnya. Buatlah anak merasa aman dengan kehadiran Anda. Dengan demikian, anak selalu ingat bagaimana Anda melindunginya.

2. Ketika anak Anda mendapat perhatian penuh

Tanpa Anda sendiri anak-anak mampu mengukur seberapa besar perhatian yang diberikan orang tua kepadanya. Perhatian yang penuh akan membentuk karakter anak ketika dewasa kelak. Perhatian yang cukup akan membantu perkembangan mentalnya dalam menghadapi masalah.

3. Ketika Anda sedang berinteraksi dengan suami/istri

Bagaimana hubungan antara suami dan istri juga menjadi salah satu role model yang dilihat anak dalam membentuk kepribadiannya. Interaksi dan perlakuan yang Anda dan pasangan lakukan satu sama lain akan menjadi contoh baginya.

4. Pondasi dan dasar yang kuat

Ketika Anda mengutarakan persetujuan dan larangan anak seperti halnya semen yang basah, pondasi dan prinsip mereka terbentuk melalui didikan Anda. Mereka harus diberikan informasi jelas apa yang tidak dan boleh dilakukan. Selain itu, penanaman nilai disiplin menjadi poin penting dalam mendidik anak.

5. Tradisi keluarga

Anak- anak mencintai sesuatu dengan cara yang spontan. Mereka juga memiliki kebutuhan yang mendalam untuk dapat memprediksi. Mereka mempelajari kebiasaan yang keluarganya lakukan, seperti traveling di akhir pekan atau makan malam bersama. Oleh karena itu, sebagai orang tua, Anda bisa mulai membentuk kebiasaan yang nantinya akan jadi tradisi keluarga.


sumber :liputan6.com

Saat Anak Mencari Idola

Idola adalah sosok yang dikagumi dan hendak ditiru segala perilakunya. Faktanya, individu dari usia anak-anak bahkan sampai dewasa, banyak yang mengidolakan sosok tertentu dalam kehidupannya. Mulai sosok di dunia nyata seperti orangtua, guru, pahlawan, tokoh agama, hingga sosok fiktif seperti tokoh-tokoh dalam film dan cerita fiksi.

Pencarian sosok idola pada umumnya dimulai semenjak individu berusia kanak-kanak. Sosok idola pertama biasanya adalah figur terdekat yakni orangtua atau pengasuhnya. Pada anak yang lebih usianya lebih dewasa, tokoh idola bergeser ke figur yang berada di luar keluarga termasuk juga tokoh-tokoh fiktif misalnya superhero. Bagi seorang anak, idola berperan penting dalam perkembangan dirinya. Lewat jendela mata tokoh idolanya, anak akan melihat dunia di sekitarnya. Tidak berhenti sampai di situ, anak-anak bahkan akan berpenampilan dan berperilaku secara serupa dengan tokoh idolanya.

Memiliki idola sebenarnya dapat mendorong remaja berkembang secara positif. Jika sang idola, misalnya saja, adalah sosok yang suka menolong, para remaja yang mengidolakannya dapat terdorong untuk melakukan perilaku serupa. Masalahnya, tidak semua sosok idola adalah sosok yang ideal. Bagi mereka yang berada di usia remaja, pemilihan idola seringkali tidak menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang adaptif secara sosial. Banyak remaja yang mengidolakan tokoh-tokoh yang di mata masyarakat justru merupakan tokoh yang pandangan dan perilakunya dianggap negatif. Misalnya saja pecandu narkoba bahkan pelaku tindak kriminal.

Hal ini terjadi karena remaja memiliki pertimbangan yang khas dalam memilih idola. Pertimbangan-pertimbangan tersebut seringkali tidak menghiraukan kepatutan moral dan sosial. Yang penting sang idola secara tampak mata memiliki karakteristik yang diakui dan dikagumi oleh lingkungan sekitarnya. Hal ini tentu saja akan berpotensi mempengaruhi para remaja tersebut untuk berperilaku secara tidak adaptif pula.

Oleh karenanya, penting bagi para orangtua untuk mengambil peran saat anak-anak mereka mencari tokoh-tokoh yang menjadi idolanya. Orangtua memang tidak dapat menentukan sepenuhnya bagaimana anak mencari idola. Akan tetapi, dengan mengajak diskusi dan memberikan pertimbangan, orangtua bisa saja mempengaruhi anak-anaknya dalam memilih sosok yang diidolakannya.



sumber:http://health.liputan6.com/read/2447415/saat-anak-mencari-idola

MULTI TAB 1

Pentas Seni & Perpisahan

Pentas Seni & Perpisahan

MULTI TAB 2

Kegiatan Kartinian

Kegiatan Kartinian

MULTI TAB 3

anoman

anoman

MULTI TAB 4

perpisahan

perpisahan

MULTI TAB 5

kartinian 2

kartinian 2


MULTI TAB 6

1

Entri Populer

MULTI TAB 7

Headline

">

MULTI TAB 9

Buku Tamu

MULTI TAB 10

Daftar Blog Saya

MULTI TAB 11




 
KEMBALI KEATAS
') }else{document.write('') } }