PENIGKATAN GIZI

Peningkatan Kesadaran Gizi Ibu dan Balita; Sosialisasi PP Muslimat NU dan Yaici di Palembang Sumatera Selatan

Dra.Hj.Khofifah Indar Parawansa, M.Si.

Mengarungi Kisah Inspiratif Hj Khofifah Indar Parawansa

MANASIK HAJI

Pembelajaran Manasik Haji Kecil TKTA Tarbiyatul Athfal41 Semarang pada Tgl.8 Oktober 2015 di Islamic Center Semarang

Pelatihan Penguatan Keaswajaan Da’iyah Muslimat NU

Penguatan Keaswajaan Bagi Da’iyah Muslimat NU DKI Jakarta

Ketua NU Kota Semarang

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, Dr. KH. Anasom MHum

Minggu, 03 Mei 2015

Sebaiknya Orang Tua Jangan Lakukan Keselahan Ini agar anak terampil dan mandiri (Bagian Dua)

Foto Gambar Ilustrasi'

Seperti yang di ulas sebelumnya tentang sebaiknya orang tua jangan melakukan kesalahan ini agar anak terampil dan mandiri ,berikut ini kelanjutanya ,


MELARANG TANPA MENJELASKAN

Dalam soal keselamatan, memang tak boleh ada kata kompromi. Namun yang sering terjadi, orang tua melarang tanpa memberitahu alasannya. Apalagi menerangkan fungsinya dengan benar. Contoh, anak memotong kertas dengan gunting yang biasa dipakai orang tua untuk menggunting kain. Melihat hal itu, dengan serta merta orang tua merebut gunting tersebut sambil berkata dengan nada tinggi, "Tidak boleh! Ini bukan gunting mainan!"


TINDAKAN YANG BENAR:

Sebenarnya, belajar yang paling baik adalah belajar dengan benda-benda yang riil. Pisau ataupun gunting menjadi benda berbahaya atau tidak, tergantung bagaimana kita memperkenalkannya. Kalau kita melarang anak memegang gunting tanpa menunjukkan fungsi sebenarnya, tentu menimbulkan tanda tanya pada si anak, "Mengapa, kok, aku enggak boleh main gunting?" Rasa penasaran ini akhirnya membuat anak malah menggunakan gunting tersebut untuk hal-hal berbahaya, ketika dia sedang tidak dalam pengawasan orang tua.

Ingat, di usia prasekolah, rasa ingin tahu anak sangat besar. Anak pun cenderung senang pada sesuatu yang jarang diekspos kepada mereka, seperi benda-benda tajam itu. Akibatnya, mereka jadi semakin tergoda untuk mencoba. Tetapi kalau dari awal diberi tahu, "Kak, gunting ini tajam. Ini bagian gunting yang tajam. Jadi harus hati-hati memegangnya. Kakak boleh memakai gunting ini, tetapi cara memakainya seperti ini."

Dengan orang tua menjelaskan dan memeragakannya, anak akan mengerti. Dia pun akan lebih percaya diri saat menggunakan benda tajam itu karena sudah memunyai kontrol yang bagus.

MENUNGGUI ANAK DI SEKOLAH
Ibu-ibu yang menunggui putra-putrinya di sekolah sering berdalih anaknya belum siap ditinggal. Padahal, ini seperti lingkaran setan. Setiap anak punya attachment dengan perasaan orang tuanya. Bila ibu "tak rela" meninggalkan anaknya di kelas, perasaan ini bisa terbaca oleh anak. Akibatnya, anak pun akan merasa cemas dan akibatnya di kelas menjadi rewel. Sementara si ibu melihat, dia rewel karena tak bisa ditinggal. Jadi, seperti lingkaran yang tak terputus.

Penting diingat, faktor kesiapan anak cukup berpengaruh terhadap keberhasilannya selama menjalani proses belajar di TK. Selain dari segi usia memang sudah waktunya, si kecil pun harus sudah berkurang ketergantungannya pada orang lain, terutama orang tua. Kalau ia tak kunjung siap, bisa setiap hari Anda harus menungguinya dan bahkan menemaninya di kelas. Padahal, tak setiap TK membolehkan anak ditunggui dan ditemani seperti itu. Kalaupun boleh, hanya selama beberapa hari pertama saja. Selanjutnya, anak sudah harus masuk sendiri ke dalam kelas dan bergabung dengan teman-temannya sekelas.

Masalah menunggui anak ini sering muncul pada ibu-ibu yang tidak bekerja. Itu karena sebagai full time mother, waktu mereka sepenuhnya ditumpahkan dengan selalu menghabiskan waktu bersama anak. Sebelum masa sekolah, si ibu bisa membawa anaknya ke mana-mana. Begitu anak sekolah, hubungan ini jadi terputus. Mungkin secara psikologis, si ibu kehilangan identitas diri, sehingga terus berusaha mengupayakan hubungan dengan anak, dengan cara mendampinginya terus, termasuk menunggui di sekolah.

Padahal bila terus ditunggui, rasa percaya diri anak menjadi tidak berkembang. Ia tidak kunjung yakin bisa menjaga dirinya sendiri. Padahal di usia prasekolah, penting bagi anak untuk punya perasaan otoritas, yaitu kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri.

Selain itu, situasi ini bisa membingungkan anak karena di satu pihak, dirinya selalu ditunggui dan diawasi oleh ibu, tapi di lain pihak, ia juga dituntut kemandiriannya. Misal, harus makan sendiri, mandi sendiri dan lain-lainnya.


TINDAKAN YANG BENAR:

Berhentilah menunggui anak di sekolah. Bila tindakan ini tak bisa dilakukan secara langsung, maka lakukan secara bertahap. Misalnya, hanya lima belas menit pertama saja ia ditunggui, setelah itu tinggalkan sampai waktunya dijemput.

Ada juga kasus anak sudah mau ditinggal tapi suatu waktu ia ingin ditunggui orang tuanya di sekolah dengan alasan bermacam-macam. Dalam hal ini, boleh saja orang tua menuruti keinginan anak tetapi tak perlu menungguinya sepanjang waktu. Cukup selama 15 menit pertama (di kelas atau di dekat jendela kelas bila diizinkan) setelah itu menyingkirlah ke area yang tidak terlihat anak.

Bila ibu memang "tak sanggup" berpisah dari anaknya, cobalah lakukan kegiatan bermanfaat di sela-sela waktu menunggu. Di antaranya, ibu bisa mengajukan diri ke pihak sekolah sebagai volunteer (sukarelawan), misalnya menjadi story teller (pencerita di kelas) atau menjadi koordinator kegiatan sosial yang diadakan sekolah.

MEMBERI BANYAK MAINAN TAPI TAK PERNAH MENEMANI BERMAIN
Boleh saja memberikan banyak mainan kepada anak, tetapi apalah artinya itu semua bila orang tua tak pernah menemani anak bermain. Sering orang tua berdalih, "Toh, anak sudah dibelikan mainan yang bersifat edukatif." Contohnya, pasel atau permainan balok susun. Padahal, tanpa pendampingan orang tua, anak tak mampu mengerti fungsi mainan tersebut.


TINDAKAN YANG BENAR:

Sebenarnya, apa pun jenis mainan yang diberikan kepada anak, tak jadi soal. Termasuk robot-robotan dan senjata yang kerap digolongkan bukan mainan edukatif. Justru lebih baik anak memainkan kedua mainan tersebut tetapi didampingi orang tua ketimbang memainkan mainan edukatif tetapi si anak dibiarkan bermain sendirian.

Pasalnya, dengan orang tua mendampingi anak bermain, minimal orang tua dapat mengenalkan sesuatu yang baru pada anak lewat media mainan. Saat anak bermain pistol-pistolan, orang tua bisa menjelaskan kegunaan senjata tersebut bahwa pistol digunakan bukan untuk tujuan sadisme tetapi untuk tujuan lain yang lebih positif, misal.

Dengan kata lain, mainan apa pun bisa menjadi edukatif selama orang tua bisa menggunakan mainan tersebut sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan kepada anak. Terlebih di usia prasekolah dimana penanaman nilai-nilai sosial banyak diperkenalkan, mainan bisa menjadi media yang efektif.

ANAK TAK DIBIASAKAN MEMILIH
Di usia 4 tahun, anak mulai punya dorongan untuk melakukan apa-apa sendiri. Mereka berada pada tahap otoritas atau ingin menunjukkan siapa aku. Kemampuan kognitif yang meningkat dengan cepat juga mendorong mereka untuk selalu ingin melakukan apa-apa sendiri. Tetapi karena masih belajar, tentu butuh bimbingan orang tua. Yang paling baik, anak diberikan pilihan-pilihan, lalu diajarkan bertanggungjawab pada pilihannya. Namun yang kerap terjadi, orang tua justru bertindak sebaliknya.

Segala sesuatu untuk anak dipilihkan dan diputuskan sendiri oleh orang tua tanpa melibatkan anak. Sikap orang tua yang seperti ini sungguh tak baik dampaknya buat perkembangan anak. Salah satunya, anak jadi tak bisa menentukan pilihan. Ia cenderung mengekor pada pilihan dan keputusan orang lain. Kasihan, bukan?


TINDAKAN YANG BENAR:

Penting mengajari anak untuk memutuskan pilihannya sendiri. Contoh, memilih baju yang akan dipakainya setelah mandi, pergi ke mal, atau baju tidur. Bila orang tua khawatir pilihan anak tidak cocok, maka orang tua bisa memberikan beberapa alternatif pilihan, "Kakak mau pakai kaos merah atau blus kembang-kembang kuning ini?"

Tentunya, untuk hal-hal yang sifatnya berbahaya, orang tua tak bisa memberikan pilihan. Tetapi anak harus dijelaskan, mengapa ia tak boleh bermain dengan menggunakan gunting milik orang tua, misal. Kemudian berikan alternatifnya, yaitu gunting yang dirancang khusus untuk anak. Tetapi bermainnya dengan didampingi orang tua.

Dengan begitu, anak terpuaskan. Dia pun tahu, mengapa ada hal-hal yang boleh dan tidak boleh, terutama yang berkaitan dengan keselamatan. Bila perlu, buatlah daftar hal-hal yang masih bisa dikompromikan dan yang tidak. Jabarkan semuanya kepada anak. Dari sini anak bisa melihat, "Meski aku enggak boleh melakukan A, tetapi aku boleh melakukan B." Anak juga belajar, tidak semua yang diinginkannya akan dia peroleh.


Memberikan kesempatan memilih pada anak bukan cuma mengajarkan kemandirian, tetapi juga membuat anak merasa dihargai karena boleh memilih dan dipercaya menjalankan pilihannya. Dengan terbiasa diberi pilihan, anak juga akan belajar bertanggungjawab pada pilihannya. 

(dari berbagai sumbur ,semoga berfanfaat ) 

Sebaiknya Orang Tua Jangan Lakukan Keselahan Ini agar anak terampil dan mandiri (Bagian Satu)

Dengan belajar dari kesalahan, kita bisa menjadi orang tua yang lebih baik. Nah, Apakah Anda termasuk orang tua yang kerap melakukan salah satu, beberapa, atau semua hal berikut ini? Bila ya, segera lakukan koreksi agar anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi cerdas, terampil, mandiri, dan ekspresif.

MEMAKSA ANAK MENGHENTIKAN AKTIVITASNYA
Di usia prasekolah, anak mulai menggemari kegiatan mengasyikkan yang terfokus pada dirinya. Contoh, asyik menonton televisi atau asyik mengutak-utik hobinya semisal menggambar. Saking asyiknya, si anak sampai "lupa" waktu: waktu untuk makan, tidur, mandi, dan lainnya. Di sisi lain, anak usia prasekolah memang belum paham mengenai konsep waktu sehingga masih perlu diingatkan. Ia pun sedang dalam tahap belajar menyesuaikan diri dengan aturan dan tuntutan yang ada di lingkungannya.

Sayangnya, banyak orang tua tak paham akan hal ini. Hingga yang kerap terjadi, umumnya orang tua malah akan menyuruh anak untuk menghentikan keasyikannya itu, "Kakak, ayo, menggambarnya udahan. Sekarang waktunya mandi!" Jika si anak menolak, "Sebentar, Ma, dikit lagi, nih!", orang tua pun memaksa, "Tidak! Sekarang sudah waktunya mandi, jadi kamu harus mandi!" Padahal, sikap orang tua yang demikian hanya akan membuat anak jadi tak punya otoritas terhadap diri sendiri karena anak tak punya kemampuan memutuskan sendiri apa yang menjadi prioritasnya. Di masa depan, tentu sulit bila anak tak punya kemampuan memutuskan apa yang penting dan menjadi prioritas hidupnya.


TINDAKAN YANG BENAR:

Selama ini, memang orang tualah yang selalu membuatkan jadwal untuk anak. Misal, jadwal mandi, makan dan tidur. Mengapa tidak memberi mereka kesempatan pada anak untuk mengatur sendiri jadwalnya? Jikapun anak masih melakukan aktivitas lain sehingga melanggar jadwal yang dibuatnya, orang tua dapat memberinya pengertian, "Kak, sekarang, kan, sudah jam 5. Ayo, jadwal Kakak, kan, jam 5 Mandi. Itu angkanya sudah jam 5, berarti kakak harus mandi." Bila mereka masih ingin mengulur waktu, berikan tenggang yang tak terlalu lama, "Oke, Mama kasih waktu 10 menit lagi, ya. Kalau jarum panjang ini sudah sampai di angka 2 (pukul 5 lebih 10), berarti Kakak harus berhenti menggambar, lalu mandi. Kalau ditunda lagi nanti kemalaman."

Beri juga pengertian, pentingnya menepati jadwal yang sudah dibuat sendiri. Tentu orang tua juga tak boleh terlalu saklek. Bila hari libur, jadwal anak boleh lebih santai. Sebaliknya, bila anak harus les atau diajak pergi, terangkan lebih awal bahwa jadwalnya "terpaksa" berubah. Contoh, "Kak, hari ini mandi sorenya jam 4, ya, karena Kakak akan Ibu ajak pergi."


MENYUAPI MAKAN
Banyak orang tua masih kerap menyuapi anaknya makan. Umumnya supaya si anak mau makan. Apalagi di usia prasekolah, kalau sedang asyik menekuni sesuatu kegiatan, anak bisa sampai lupa waktu. Nah, daripada si anak tertunda waktu makannya, maka orang tua pun menyuapinya sambil si anak tetap asyik dengan aktivitasnya itu.

Padahal, jika anak tak dibiasakan makan sendiri, bisa-bisa sampai di akhir usia prasekolah pun, si anak belum terampil makan sendiri. Padahal, di usia 5 tahun harusnya anak sudah bisa makan sendiri, bahkan memotong makanan dengan pisau.

Selain itu, dengan orang tua terbiasa menyuapi anaknya makan, anak jadi tak mandiri. Bisa-bisa, mereka hanya mau makan bila disuapi oleh ibu atau pengasuh. Nah, bila kebetulan ibu pergi atau si pengasuh repot, tentu mereka tidak akan makan, kan?

Kesalahan ini sering juga bersumber pada anggapan, anak yang gemuk mencerminkan orang tua yang pandai merawat. Bila si anak kurus, orang tua takut dianggap tak perhatian pada anak. Itulah sebabnya, bila anak mulai ogah-ogahan makan, orang tua pun panik. Selanjutnya, acara makan seringkali menjadi ajang berantem antara orang tua dan anak, lantaran orang tua memaksa si anak untuk makan.

Padahal, gemuk-kurusnya si anak tak dapat dijadikan patokan untuk menilai "kepandaian" orang tua dalam merawat anak. Di sisi lain, tak heran bila disuruh makan, ia lantas menolak. Jika dipaksa, lambat-laun akan membuat anak mengasosiasikan acara makan sebagai suatu yang tidak menyenangkan sehingga makannya malah makin susah. Padahal, kalau saja orang tua tahu triknya, anak pasti akan makan. Yang penting kita yakin anak tidak mau makan bukan karena sakit. Cirinya, meski tak mau makan, anak tetap aktif melakukan kegiatannya.


TINDAKAN YANG BENAR:

Bila anak asyik menekuni sesuatu sampai lupa waktu makan, orang tua harus menerangkan perlunya makan. Misal, "Kalau Kakak tidak mau makan, Kakak akan sakit. Kalau Kakak sakit, nanti enggak bisa main dan ke sekolah, loh. Kan, nanti juga enggak bisa main di sekolah."

Jika anak tak mau makan tapi tetap melakukan kegiatan, berarti memang dia sedang memilih untuk menunda makannya. Tak usah memaksa, taruh saja piring makanan di sebelahnya dan minta ia makan bila sudah selesai. Atau, pada saat dia sedang asyik bermain, sediakan saja finger food/cemilan yang mudah mereka comot tanpa harus meninggalkan keasyikannya. Sebaiknya selalu sediakan cemilan sehat yang mengandung gizi cukup, semisal bakwan sayuran. Setelah mereka bilang lapar, baru sediakan nasi beserta lauk pauk lengkap.

Trik lain, saat waktu makan tiba, bila perlu kita tawarkan anak mau makan apa. Biasanya, kalau karena pilihannya sendiri, anak akan makan dengan lahap.

TIDAK MENANGGAPI AJAKAN BERKOMUNIKASI
Sering karena sedang asyik memasak di dapur atau membaca koran, kita "mengusir" anak yang ingin mengajak ngobrol. Padahal, di usia prasekolah, otak anak selalu dipenuhi keingintahuan yang maunya segera dijawab, tak peduli pada kesempatan apa pun.

Bila setiap saat anak mengeskpresikan keingintahuannya tapi tak pernah direspons dengan tepat, maka rasa ingin tahu ini lama-lama terkikis habis. Anak jadi malas bertanya, karena setiap kali bertanya, tak pernah digubris orang tuanya.

Lebih parah lagi, anak jadi apatis. Pada setiap kesempatan, dia tetap saja malas buka mulut karena tumbuh perasaan, dirinya mengganggu buat orang tua. Di lain pihak, orang tua maunya anak selalu ingin tahu dan berani mengekspresikan pikiran-pikirannya.


TINDAKAN YANG BENAR:

Harusnya, orang tua tak mematikan keingintahuan anak. Bila anak bertanya di saat kita sedang repot atau sedang tak ingin diganggu, buatlah kesepakatan dengan anak. Katakan padanya, misal, "Kak, Mama sedang repot di dapur. Bagaimana kalau lima menit lagi?" Karena anak usia prasekolah belum tahu konsep jam, gunakanlah weker. Benda ini wajib ada bila kita mulai membuat kesepakatan dengan anak berdasarkan waktu. Tunjukkan dengan weker, jam berapa (jarum pendek dan jarum panjang di angka berapa) ibu sudah bisa diganggu. Tentu ibu harus konsekuen dengan waktu yang telah disepakati.


Melalui "kesepakatan weker", anak dilatih kesabarannya tanpa kehilangan kesempatan berkomunikasi dengan orang tua. Lama-kelamaan ia pun akan belajar, kapan waktu yang tepat untuk bertanya atau mengobrol dengan orang tua. Misal, ibu tidak akan bisa ditanyai kalau sedang di dapur atau baru saja pulang kantor. Atau, ayah tak mau diganggu bila sedang baca koran. Anak juga akan belajar menghormati privasi dan kesibukan orang lain. (bersambung lihat bagian dua )

Sabtu, 02 Mei 2015

Mendidik Anak Agar Menjadi Pribadi Yang Islami

Foto:Ilustrasi .

Tips Mendidik Anak Agar Menjadi Pribadi Islami / Sholeh/Sholeha
Anak adalah harta yang tidak ternilai oleh apapun. Dia ibarat titipan paling indah yang diberikan Allah kepada orang tuanya. Pada masa depannya lah terletak harapan serta kebahagiaan para orang tua.
Dijaman modern seperti sekarang ini, adalah sebuah keharusan bagi orang tua untuk mengajarkan anak- anak mereka tentang pentingnya akidah yang lurus. Hal ini penting untuk dilakukan, mengingat banyaknya pengaruh diluaran yang bisa membentuk karakter anak- anak kita. Maka sebagai orang tua, kita harus tahu bagaimana cara mengarahkan mereka, agar kelak mereka menjadi anak- anak yang sholeh. Berikut beberapa tips mendidik anak agar menjadi sholeh, Soleha Inshaallah.Amin
1- Orang tuaku, tauladanku.
“Like father, like son”, ungkapan ini mungkin sudah sering kita dengar untuk menjelaskan bahwa memang anak adalah plagiator ulung. Setiap tindak tanduk orang tua yang tertangkap oleh mata anak- anak mereka, tidak akan hilang begitu saja. Memori anak yang kuat akan terus merekam. Jika seorang anak sering berkata kasar, bisa jadi karena dia juga sering mendapat perkataan seperti itu dari orang tuanya. Atau mungkin karena si anak seringkali melihat adegan pertengkaran yang dipertontonkan orang tua mereka dirumah. Jika hal ini dibiarkan setiap hari, lama-lama sikap tersebut akan diimitasi, diinternalisasi dan dihabitasi dalam kehidupan anak tersebut.
2. Ukir Masa Depan Anak dengan Ilmu.
Mengajarkan ilmu kepada anak, ibarat mengukir diatas batu. Ilmu apapun yang orang tua berikan kepada anak akan dengan mudah terserap. Ini tidaklah mengherankan, karena ketika anak dilahirkan mereka memiliki 100 miliar neuron di otaknya. Jika diumpamakan satu unit komputer memiliki 100 neuron (jaringan) maka otak anak akan sama dengan 1 miliar unit komputer. Karena itulah, anak-anak memiliki karakteristik ingatan yang kuat. Maka, disinilah waktu yang tepat untuk para orang tua untuk mengajarkan mereka tentang akidah yang benar, namun tetap dengan bahasa yang mereka bisa pahami.
3. Perhatikan lingkungan anak- anak kita.
"Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya, atau kamu bisa mendapatkan wanginya. Dan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat baunya yang tidak sedap." (HR. Bukhari Muslim). Itulah pesan Rasulullah yang mulia, agar kita berhati- hati dalam memilih teman, serta peka terhadap pengaruh yang berasal dari lingkungan sekitar kita. hal yang sama juga berlaku bagi anak- anak kita. Mereka yang polos kadang belum mengerti tentang bagaimana mereka harus berteman. Maka disinilah tantangan bagi orang tua untuk kemudian "menyelamatkan" anak mereka dari pengaruh buruk yang akan membentuk kepribadiannya dimasa depan. 

4. Sabar, ikhlas dan doa

Kesabaran adalah hal mutlak harus dimiliki orang tua. Hal ini karena dalam rentang proses mendidik anak, kadang kita menemui hal- hal yang kurang berkenan. Contohnya, anak bersikap bandel dan tidak mau dinasehati. Ketika berada dalam keadaan seperti ini, sebaiknya orang tua menghindarkan diri dari caci maki dan kemarahan yang hanya akan membuat mereka semakin menjauh. Ketika emosi sudah mulai memuncak, orang tua harus pandai dalam menguasai diri, katakan pada diri bahwa toh mereka masih anak- anak, yang mungkin belum sepenuhnya mengerti tentang sebuah akibat. Kitapun pernah pada usia mereka, dan pastilah saat itu kita pun tidak ingin dibenarkan dengan cara yang kasar. Selain itu, orang tua juga harus belajar tentang keikhlasan. Ridho allah adalah tujuan terbaik, dan jalan menggapainya adalah dengan ikhlas.  Keikhlasan hati orang tua akan membuat apa yang mereka sampaikan mudah diserap dan dipahami anak. Dan yang tidak kalah penting, adalah dengan terus mendoakan mereka, supaya selalu berada dijalan Allah, dan kelak menjadi generasi islami yang membanggakan. Amin

<Semoga bermanfaat >


Sumber:(Syahidah/voa-islam.com)

7 TIPS MERANGSANG ANAK MAU BERLATIH MENULIS

Di bawah ini ada 7 Tips agar anak gemar menulis .. setelah mereka gemar membaca.. maka kini tugas orangtua untuk mendampingi  anak menjadi tutor terdekat bagi anaknya agar ANAK MAU BERLATIH MENULIS.

1. Biarkan anak mencoret-coret lembar bukunya dengan goresan tulisan ttg apa saja yg menjadi benak pikiran mereka..
2. Berikan anak hadiah sebuah buku DIARY ..minta pada anak agar mereka mencurahkan cerita - cerita ttg keseharian dia di sekolah.. atau ditempat les dan hal lain yg menarik perhatian anak tuk ia tuangkan di buku harian..
3. Ajak anak tuk mengikuti kelas pelatihan menulis buat anak2.. dan biarkan anak menikmati acara itu dgn tanya jawab..
4. Sbg ortu berikan anak buku bacaan yg mereka gemari.. lalu ajak anak tuk diskusikan isi bacaan yg dia baca.. stlh itu minta anak tuk mencoba menuliskan di selembar kertas.. cerita ttg pengalamannya disekolah layaknya ia adalah si penulis dari buku yg menjadi kegemarannya.. dgn membiarkan anak menggunakan tokoh cerita yg disukainya..
5. Ajak anak untuk mengikuti acara lomba menulis yg diadakan disekolahnya.. berikan anak motivasi bahwa dengan mengikuti acara lomba menulis itu anak akan dapat menuangkan suatu karya yg dpat membanggakan diri dan sekolahnya..
6. Biarkan anak membaca cerita-cerita dogeng spt komik atau cerita fiksi anak lainnya.. dgn banyak anak menyerap bacaan yg ia gemari. suatu saat akan mendorong anak tuk bs menghasilkan karya gemilang seprti yg dia baca..
7. Beri anak motivasi bahwa dengan berlatih MENULIS akan membuat anak cerdas dlm mengembangkan daya imajinasinya lewat bahasa tulisan.. 
Semoga bermanfaat .


Jumat, 01 Mei 2015

INI PERANAN GURU DALAM KEGIATAN BERMAIN DI TAMAN KANAK-KANAK

Bermain adalah kegiatan yang sangat penting bagi anak-anak khususnya anak usia dini. Bermain merupakan upaya bagi anak untuk mengungkapkan hasil pemikiran dan perasaan serta cara anak menjelajah lingkungannya. Bermain juga membantu anak dalam menjalin hubungan sosial antar anak. Bermain itu menyenangkan karena ketikan bermain anak-anak bisa bebas mengekspresikan ide-idenya, imajinasinya dan perasaannya yang terkadang tidak selaras dengan kenyataan yang sebenarnya.
Kegiatan bermain ditaman kanak-kanak dapat di lakukan di dalam dan di luar ruangan.Bermain di dalam ruangan biasanya sedikit lebih tenang, ruang di dalam sebaiknya di rancang dan di tata sedemikian rupa sehingga dapat dipergunakan untuk berbagai macam kegiatan apabila terjadi kegiatan tersebut berlangsung bersamaan diusahakan tidak saling menganggu. Contoh kegiatan bermain didalam ruangan di antaranya:

 Kegiatan bermain balok

Balok-balok kayu atau plastik merupakan alat permainan yang sangat sesuai sebagai alat untuk membuat berbagai konstruksi. Berrmain dengan balok sangat berharga. Melalui bermain dengan balok anak-anak mendapat kesempatan untuk melatih kerjasama mata, tangan dan koordinasi fisik. Peran guru dalam kegiatan ini adalah memperkenalkan balok-balok dengan meletakkan atau menyimpannya sedemikian rupa. Anak-anak harus membiasakan diri menyimpan kembali balok-balok setelah selesai menggunakannya. Anak juga harus berbagi dengan anak lain saat mereka bermain dengan balok.

Kamis, 30 April 2015

Mengajar anak berkebutuhan khusus, Mengajar Harus dengan Hati

Mengajar anak berkebutuhan khusus bukan perkara mudah. Perlu ada pengetahuan dan keterampilan khusus untuk menangani mereka, di samping pentingnya kerja sama dengan orang tua sang anak. Namun, satu hal yang patut dimiliki guru untuk mampu membantu tumbuh kembang dan pendidikan anak berkebutuhan khusus adalah hati yang mengasihi!
Hati yang mengasihi itulah kunci Sangita Lachman, seorang dokter yang beralih profesi menjadi guru preschool – lembaga pendidikan pra sekolah. Pengalaman 12 tahun mengajar di beberapa preschool di Jepang dan Indonesia, membawa Sangita bertemu dengan anak-anak spesial yang memang memiliki kebutuhan khusus / Anak Berkebutuhan Khusus dalam proses tumbuh kembang mereka.
Awal mula Sangita terjun ke dunia pendidikan anak pra sekolah atau preschool, adalah ketika ia mengikuti suami yang bekerja di Jepang. Sebelumnya, wanita berdarah India ini adalah seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Untuk mengisi waktunya di negeri Sakura itu, Sangita melamar sebagai guru di sebuah preschool internasional.
Lima tahun mengajar anak-anak balita di Jepang sudah cukup membuat Sangita jatuh cinta pada profesi guru anak-anak usia dini atau kelompok bermain atau biasa disebut preschool.
Saat pulang ke tanah air, Sangita memilih menjadi guru preschool dibanding kembali melanjutkan profesinya sebagai dokter. “Saya merasa bahagia mengajar anak-anak ini / nak Berkebutuhan Khusus , dan tidak pernah stress ketika menjadi guru,” ujar Sangita.
“Ada ‘passion’ tersendiri saat mengajar anak-anak, membimbing dan membantu mereka hingga bisa lebih mandiri saat memasuki jenjang pendidikan berikutnya,” lanjut Sangita.
Sejak mengajar di preschool inilah, Sangita mendapat pengalaman menghadapi anak-anak dengan kebutuhan khusus dan kerap melihat bagaimana pihak sekolah kesulitan menangani anak-anak tersebut.
Pada banyak kasus, Sangita melihat sekolah bukannya mencari solusi terbaik bagi penanganan anak-anak spesial tersebut, namun sekolah cenderung mengabaikan keadaan sang anak yang memang membutuhkan perhatian khusus dari penyelenggara sekolah.
“Saya pernah menemukan anak hiperaktif yang tak bisa diam diikat kakinya, karena terus lari-lari. Lalu ada yang mendapat hukuman disuruh duduk di time-out chair (kursi isolasi, red) karena dianggap mengganggu temannya. Menurut saya mereka (anak-anak spesial ini, red) telah menjadi korban atas ketidakmengertian para guru,” jelas Sangita dengan nada prihatin.
Bagi Sangita, meski anak-anak tersebut berbeda dengan anak pada umumnya, penting bagi guru-guru dan para penyelenggara sekolah lainnya untuk memandang mereka selayaknya anak-anak yang unik tiap individunya ,katanya

(berbagai sumber)

Ini Cara Cerdas Untuk Membuat Anak Gemar Membaca

Foto;Ilustrasi anak -anak Sedang belajar membaca. 

Bagi banyak anak, membaca ataupun belajar membaca bisa menjadi hal yang sangat menantang. Tidak sedikit anak yang mengalami kesulitan membaca, padahal membaca adalah hal penting untuk membuka pintu mereka kepada ilmu pengetahuan.
Jika anak Anda mengalami kesulitan membaca, janganlah berputus asa dan teruslah menciptakan solusi kreatif untuk menumbuhkan minat baca anak Anda. Anda juga bisa melakukan 16 hal di bawah ini, agar buah hati semakin pandai dan rajin membaca.
1. Membaca dengan lantang
Membaca dengan suara keras dan lantang adalah cara terbaik dan juga termudah untuk meningkatkan kosakata, kefasihan, dan daya pemahaman anak. Selain itu, mendengarkan orang tua membaca buku juga sangat membantu anak untuk memahami cerita, meskipun mereka tidak mampu memahami semua kata-katanya
2. Melihat gambar
Anak dari segala umur bisa mendapatkan manfaat dari melihat gambar-gambar di buku bergambar, karena gambar menyediakan petunjuk penting yang akan membantu anak Anda memahami dan mengantisipasi kata-kata tertentu di dalam bacaan. Misalnya, ketika anak Anda melihat gambar bulan dan tertulis kata “bulan” di sana, maka ia akan mengenali kata tersebut. Memulai dengan gambar juga membantu anak untuk lebih fokus pada makna cerita, karena ada beberapa anak yang terlalu fokus pada huruf sehingga mereka justru tidak memahami arti ceritanya. Selain itu, gambar juga dapat mengurangi perasaan frustasi anak dan meningkatkan pemahaman mereka.
3. Tahu apa yang normal
Apakah buah hati Anda yang berusia 4 tahun sudah pandai membaca? Atau dia justru mengalami kesulitan untuk memahami huruf? Jika anak Anda adalah yang terakhir, maka tidak perlu khawatir karena itu normal. Kenyataannya, kedua keadaan di atas sama-sama normal. Sebelum anak memasuki masa sekolah, mereka telah mengenal bentuk buku dan kata-kata yang terdapat di dalamnya, yang dibaca dari kiri ke kanan. Seiring bertambahnya usia, mereka akan mulai mengenal bunyi, huruf, dan cerita dan mulai bisa menebak kata-kata. Di tahapan selanjutnya, anak akan mengalami perkembangan seperti membaca lebih banyak kata, bahkan dengan ekspresi, dan mereka juga mampu membaca dengan pemahaman.
4. Baca bergantian
Ketika membacakan cerita untuk anak, biarkan mereka juga turut membaca percakapan suatu karakter tertentu. Minta mereka untuk membaca dengan lantang secara bersama-sama dengan Anda. Membaca dengan cara ini akan menambah pemahaman mereka ketika membaca. Jika anak Anda belum bisa membaca, minta ia untuk menerangkan gambar yang ada atau berikan ia pertanyaan mengenai halaman yang baru saja Anda bacakan.
5. Bermain kata-kata
Tidak sedikit anak yang mengalami kesulitan membaca, yang berhenti pada kemampuan mendasar, yaitu mengenali huruf dan tata bahasa dasar. Untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam membaca, Anda bisa membuat sebuah permainan sederhana, seperti membuat kata berima, mengatur huruf-huruf magnet di kulkas, dan permainan lainnya yang akan membuat anak Anda bermain dengan kata-kata dan suara.
6. Berbagi strategi
Pembaca yang baik biasanya mulai membaca dengan memindai judul dan sub judul, sedangkan pembaca yang buruk biasanya merasa kewalahan dengan jumlah kata yang ada, sehingga mereka akan menyerah bahkan sebelum membaca. Jangan biarkan anak Anda menjadi tipe pembaca yang kedua. Untuk itu, jelaskan pada mereka bagaimana Anda melakukan pendekatan pada sebuah buku ataupun artikel.
7. Tahu kesukaan mereka akan membuat anak lebih gemar membaca
Misalnya, ketika Anda membaca surat kabar, mana yang lebih dulu Anda baca? Judul ataukah keterangan pada gambar? Berbagi strategi ini pada anak akan membuat mereka tidak takut melihat kata-kata yang begitu melimpah dari sebuah buku ataupun bacaan lainnya.
8. Manfaatkan hobi mereka
Apa yang anak Anda sukai? Sepak bola? Boneka barbie? Putri-putri kerajaan yang cantik? Manfaatkan hobi mereka untuk mendorong anak untuk mencintai membaca, karena kemungkinan mereka untuk membaca hal yang mereka cintai tentu akan lebih besar daripada Anda memaksakan suatu bahan bacaan pada mereka. Selain itu, menggunakan buku dan bacaan yang mereka sukai akan membantu mereka untuk lebih memahami apa yang telah mereka ketahui, sehingga dengan latar belakang itu mereka akan lebih mudah memahami bacaan yang ada.


Sumber : pelangi mizan

Rabu, 29 April 2015

Ini Wajib Di Baca,Tentang bagaimana Anak Agar Rajin Bersekolah

Foto ;Ilustrasi Guru TA Tarbiyatul Athfal41 sedang mengajar  suasana  yang menyenagkan bagi anak-anak didik .

Menarik anak untuk pergi ke sekolah bukan perkara yang  mudah. DI satu sisi anak-anak tidak  bisa dipaksa, di sisi yang  lain anak-anak membutuhkan pendidikan sejak usia dini. Pendidik PAUD tentu merupakan ahlinya dalam hal ini, karena mereka  sudah terbiasa menghadapi anak-anak dengan berbagai karakter mereka berikut  beberapa tips yang mungkin bisa memberikan manfaat  pada orang tua  agar anak-anak mau  dan bersemangat untuk bersekolah.
1. Kegiatan Lomba
Kegiatan lomba yang  diadakan di sekolah merupakan salah satu cara menarik anak  untuk  pergi ke sekolah. Suasana yang menyenangkan dan santai, bisa memancing  anak untuk menyukai tempat  belajar  dimana sebuah lomba diadakan.
2. Reward
Reward  biasa digunakan oleh pendidik untuk memberikan motivasi anak agar lebih bersemangat dan mau melakukan sesuatu. Orang  tua juga bisa memberikan reward pada anak dengan cara memuji, atau memberikan sebuah hadiah bila mau sekolah. Hadiah tidak perlu mahal, bisa mainan, peralatan  menggambar, dan lain-lain.
3. Cara Mengajar Yang  Menyenangkan
Anak-anak tidak suka  suasana belajar yang  serius dan menegangkan. Karena dunia anak adalah  dunia belajar. Sekolah yang  bisa memberikan suasa belajar sambil bermain biasanya akan menjadi  sebuah tempat wisata edukatif  bagi anak-anak.
4. Bangunan Sekolah Menarik
Bangunan sekolah yang menarik, tentu bisa menjadi salah satu  faktor yang menarik minat anak untuk pergi sekolah. Bangunan sekolah dan lingkungan sekitar yang indah dan bersih tentu  sangat  penting bagi  anak-anak untuk  bisa jatuh  cinta pada pandangan pertama pada sebuah  sekolah.
5. Banyak mainan
Anak-anak sangat suka  bermain. Bila mainan di sekolah  ada banyak, biasanya anak-anak  akan sangat suka berada di sekolah. Terkadang  mainan yang tersedia di sekolah bisa memacu anak untuk bangun pagi, agar bisa bermain sepuasnya di sekolah  yang sedang  sepi,  atau  malah enggan untuk  pulang karena masih  ingin bermain di sekolah.
6. Sekolah yang Mementingkan  Evaulasi
Informasi Perkembangan anak  tentu sangat dibutuhkan oleh orang tua. Dengan komunikasi yang intens antara pihak sekolah dan orang tua, terutama dalam mengevaulasi perkembangan anak, akan menjadi  daya tarik  tersendiri  bagi orang tua agar mau menyekolahkan anak-anaknya pada suatu sekolah.

7. Guru  yang Ramah dan  Memahami Psikologi Anak


Anak-anak yang habis bangun pagi  tentu membutuhkan senyuman ramah dari  para  pendidik. Apalagi  jika nama mereka disebut saat  mengucapkan “Selamat Pagi”. Wah… Anak-anak  pasti akan klepek-klepek mendengarnya, dan tentu juga  bisa membangkitkan mood mereka untuk sipa menerima  pelajaran. Selain itu, anak-anak juga   butuh pendidik yang memahami  kebutuhkan mereka. Maka pendidik yang memahami perkembangan kejiwaan anak sangat  dibutuhkan agar bisa mendidik anak dengan baik dan benar. Jadi buat para pendidik,  jangan malas belajar ya… Banyak-banyak baca buku dan bertukar pikiran, serta mengikuti pelatihan-pelatihan  atau seminar-seminar.@berbagai sumber




Cara Mendidik Anak TK yang Tepat dan Menyenangkan

Foto :Ilustrasi

Saat seorang guru baru berjalan memasuki ruang kelas  TK untuk pertama kalinya maka biasanya akan ada ketakutan besar. Ketakutan ini bersumber dari kekhawatiran tentang mendapatkan kepercayaan murid, membangun hubungan dan memastikan murid-murid tetap fokus dalam belajar. Salah satu cara mendidik anak tk adalah dengan membuat setiap pengalamannya menjadi menyenangkan. Saat para murid merasa senang di kelas maka guru akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk sukses. Tentunya kita terlebih dahulu harus menjadi pribadi yang menyenangkan sebelum bisa menciptakan suasana ruang kelas yang gembira.
Langkah pertama dalam daftar cara mendidik anak tk yang menyenangkan bisa kita lakukan dengan menggabungkan musik dalam proses pembelajaran. Anak-anak menyukai musik, bahkan musik seringkali membantu meningkatkan ingatan anak saat mempelajari huruf, bulan, nama hari dan sebagainya. Selain itu, cara mendidik anak tk yang tepat lainnya adalah dengan membuat aturan yang jelas. Ruang kelas yang teratur akan membuat kita merasa lebih nyaman, menjaga mood kita dan pada akhirnya akan membuat kita menemukan cara mendidik anak tk yang tepat dan menyenangkan.
Cara mendidik anak tk yang tepat berikutnya adalah membuat jadwal rutin. Anak-anak mengembangkan kebiasaan baik dan perilaku yang bisa diterima saat mereka memiliki jadwal rutin dan juga lingkungan pembelajaran yang terstruktur. Oleh karena itu buatlah jadwal untuk tugas harian. Usahakan agar kita selalu mengikuti jadwal yang ada. Menemukan aktivitas yang menyenangkan untuk anak tk juga bisa sangat membantu proses pendidikan. Kita bisa menemukan berbagai aktivitas kreatif lainnya seperti program membaca, kegiatan dengan buku cerita atau bahkan memasukkan unsur seni dalam pelajaran matematika dan sains sebagai cara mendidik anak tk yang tepat. Terus menerus memaksa anak untuk belajar pastinya cara mendidik anak tk yang buruk.@berambung
  

Senin, 27 April 2015

Pentingnya Peran Orang Tua Dalam Mendidik Anak



Pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak-anak bukanlah sebuah isapan jempol belaka. Keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak-anak terbukti memberikan banyak dampak positif bagi anak-anak dan pada perkembangnya anak-anak tersebut banyak yang mencapai kesuksesan tatkala mereka menginjak usia dewasa dan terjun kedalam dunia social yang sebenarnya.
Orangtua yang sibuk sering melakukan upaya untuk menemukan cara untuk terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka, terutama di sekolah-sekolah mereka. Bukti menunjukkan bahwa memiliki orang tua terlibat di sekolah dasar anak-anak mereka menuai efek positif yang akan berlangsung seumur hidup anak.
Sebuah publikasi oleh Divisi Penelitian dan Pendidikan Sekolah Kamehameha membuat catatan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan dasar anak-anak memiliki dampak positif untuk melanjutkan nilai akademis anak melalui sekolah tinggi. Berdasarkan bukti-bukti yang mereka melihat, menjadi tertarik dan terlibat dalam pendidikan awal anak-anak memiliki efek positif selama karir akademik anak, meskipun orang tua tidak terlibat dengan sekolah tinggi anak. Konsisten dengan temuan ini, Sekolah Kamehameha juga menemukan bahwa dalam tingkat studi kelima, mereka yang tidak memiliki orang tua yang terlibat dalam pendidikan mereka memiliki nilai lebih rendah di sekolah tinggi dibandingkan dengan keterlibatan orang tua dalam kelas lima.
Peningkatan prestasi akademik di antara siswa yang orang tuanya terlibat dalam pendidikan dasar mereka tampaknya memiliki efek global, menurut Sekolah Kamehameha. Sebagai contoh, orangtua mungkin bekerja sebagai seorang sejarawan dan terlibat dalam program sejarah di sekolah dasar anaknya. Anak akan memiliki nilai yang lebih tinggi dalam semua mata pelajaran karena keterlibatan ayahnya, bukan hanya nilai sejarahnya. Juga nilai matematika dan sainsnya diharapkan menjadi lebih tinggi sebagai akibat dari keterlibatan ayahnya dalam pendidikannya. Baca juga
Profesor sosiologi Sophia Catsambis dari Queens College, dalam sebuah laporan tahun 1998, membahas bukti bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan pada tingkat sekolah tinggi memiliki efek positif padaperilaku siswa dan sikap terhadap sekolah, dan prestasi akademik. Dia juga menunjukkan bahwa kurangnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak memberikan efek yang sangat signifikan, dan bukti yang dikumpulkan sejauh ini cukup menjanjikan. Keterlibatan orang tua di sekolah tinggi termasuk waktu penataan di rumah untuk pekerjaan rumah dan membutuhkan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, dan keterlibatan siswa dalam kegiatan sekolah memberikan dampak yang jauh lebih positif.
Para peneliti di Vanderbilt University melihat keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak menemukan fakta bahwa mereka yang orangtuanya terlibat dalam pendidikan mereka, mereka lebih bangga dan positif pada diri mereka, mampu melakukan pekerjaan mereka dengan baik, tetapi juga merasakan kebanggaan dan prestasi pribadi ketika mereka menyelesaikan tugas. Dengan dampak postif yang dihasilkan oleh pendidikan yang melibatkan orang tua, maka Pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak-anak tidak bisa kita abaikan lagi, namun perlu dikembangkan.**

Sabtu, 25 April 2015

Pentingya Pendidikan Anak usia Dini Dalam Islam

Menurut ayat suci yang termaktub dalam Al_Qur’an dijelaskan bahwa anak lahir seperti kertas putih, anak tersebut akan menjadi anak Majusi atau Yahudi, tergantung oleh pendidikan yang diperoleh. Pendidikan untuk anak usia dini juga sangat penting dalam pembentukan karakter pada anak. Menurut Islam pendidikan anak dimulai sejak anak dalam kandungan. Contohnya seorang ibu disarankan banyak membaca ayat suci, Al_Qur’an,  dan dinasehatkan banyak berbuat kebajikan. Pada waktu ibu mengandung dianjurkan bayi yang masih dalam kandungan di dengarkan lagu-lagu yang Islami, hal itu akan mempengaruhi karakter anak jika kelak ia dewasa nanti itu merupakan bukti,  bayi dalam kandungan terdidik dengan baik.Pada saat  lahir, oleh ayahnya dikumandangkan suara adzan suara ini adalah suara pertama  kali yang  dia dengar dan diharapkan kelak dia dewasa anak tergerak jika mendengar adzan dan melaksanakan sholat.
Pada usia dini merupakan masa-masa Golden Age, pada masa golden age berumur 0-6 tahun pada masa ini otak anak berkembang 80%. Pada masa ini pula anak-anak mudah dibentuk oleh karena itu Anak perlu dibimbing dengan cara yang baik dan sesuai dengan usianya, agar  nantinya dia menjadi anak yang unggul dalam agama maupun intelektualnya.  Oleh Karena itu peran pendidik dan orang tua dalam mendidik anak sangat penting. Orang tua dan pendidik harus melihat potensi anak yang dimilikinya dan orang tua maupun pendidik harus membantu mengembangkan potensi yang dia miliki, dan jangan sampai orang tua memaksa kehendak pada anaknya**.@

Jumat, 24 April 2015

Anak TK Sampaikan Pesan UN Jujur untuk Kakak SMP

SURABAYA - Pada 21 April, sejumlah sekolah atau instansi ramai-ramai memperingati Hari Kartini, tidak terkecuali di Surabaya.

Sejak kemarin, beberapa sekolah sudah memperingati Hari Kartini dengan banyak cara. Seperti yang dilakukan murid SD Muhammadiyah 24 Surabaya di Jalan Ketintang Madya. Setelah pawai berkeliling di kawasan Ketintang Madya, mereka menggelar teatrikal, mengusung pesan ujian nasional (UN) jujur kepada kakak-kakaknya yang duduk di kelas IX SMP yang akan dilaksanakan pekan depan.

”UN tak jujur awal masa depan tak mujur,” kata Muhammad Akbar Hidayatullah, siswa kelas V SD Muhammadiyah 24 Surabaya. Akbar memerankan seorang direktur yang tidak amanah, korup. Direktur ini akhirnya dipenjara. Semua itu berawal saat sekolah, direktur yang satu ini tidak jujur dalam mengerjakan soal UN. Lain halnya dengan Gede Ardiyan Afansyiah yang memerankan polisi dan menangkap direktur korup.

Gede menggambarkan dirinya bisa jadi polisi karena mengerjakan UN secara jujur, sehingga setelah jadi polisi bisa memenjarakan direktur jahat. Aksi teatrikal ini cukup memantik perhatian pengguna jalan yang melintas. Kepala SD Muhammadiyah 24 Muhadar menyatakan, UN jujur merupakan pesan yang disampaikan anak-anak bersamaan momentum Hari Kartini tahun ini.

”Pesan UN jujur untuk kakak kelas di SMP yang sebentar lagi UN,” kata Muhadar. Menurutnya, jika anak tidak jujur dalam UN atau kehidupannya, akan berdampak besar. Saat jadi presiden akan korupsi, menyengsarakan rakyat, ketika jadi DPR akan menipu rakyat. ”Semua kondisi dan problem bangsa yang seperti ini karena ada pejabatnya yang dulu saat sekolah tidak jujur. Jujur dimulai dari anak-anak,” tandas Muhadar yang ikut mendampingi siswa kelas IV dan V dalam menggelar aksi.

Sementara itu, hari ini banyak sekolah menggelar Kartinian. Salah satunya di SDN Bubutan IV di Jalan Semarang, Surabaya. SDN dengan perpustakaan percontohan tingkat nasional ini menggelar ragam kegiatan. Ada lomba sudut baca kelas sesi 2, lomba membaca cepat, tantangan membaca, dan fashion show. Semua siswa dan guru perempuan mengenakan kostum Kartinian. Lain halnya di SDN Mojo VI dan VII di Jalan Mojo klanggru Kidul 145.

Di sekolahan tersebut, hari ini akan digelar banyak perlombaan dengan memanfaatkan biskuit Kokola ada menghias kue dan lainnya. Ada 500 anak dijadwalkan mengikuti perlombaan yang didukung produsen biskuit Kokola yang berbasis di Kabupaten Gresik itu. @sumber sindonews.com

Soeprayitno 

Peringatan Hari Kartini Jangan Cuma Kebaya dan Lomba Masak


REPUBLIKA.CO.ID, JAMBI-- Kalangan aktivis perempuan Jambi menilai hari Kartini setiap 21 April sudah saatnya diperingati lebih substansial. "Hari Kartini jangan lagi sebatas seremonial, seperti ditandai dengan wanita berpakaian serba kebaya," kata aktivis perempuan dari LSM Gender and Children Crisis Centre 'Prisma' Endang Kuswardhan, di Jambi, Jumat.

Menurut Endang, peringatan secara seremonial seperti yang dilakukan selama ini justeru kontraproduktif karena menimbulkan kesan melemahkan kalangan perempuan itu sendiri.

Ia menilai, berbagai model dan materi peringatan hari-hari besar yang kini  diperingati secara massal tersebut masihlah sebatas seremonial dan artifisial. ''Samasekali belum menyentuh ke substansi dan esensi dari perjuangan kalangan perempuan di tanah air sendiri seperti yang diusung dalam semangat RA Kartini. Jadinya kontra produktif, khususnya seperti yang terjadi di Jambi,'' kata Endang.

''Semisal menilik dari materi kegiatan yang selalu monoton seperti selalu diisi dengan berbagai kegiatan berbau perempuan sebagai makluk yang lemah layaknya jargon tugas perempuan dalam paradigma konvensional masyarakat yakni di dapur, sumur dan kasur. Itu sangat kolot dan melemahkan,'' tegasnya.

Seperti diwajibkannya perempuann mengenakan busana kebaya pada hari Kartini tersebut, sampai-sampai kota Jambi dipenuhi perempuan besar kecil tua muda berbusana Kartini.
Lalu kegiatan seperti lomba-lomba juga terkesan sangat melemahkan perempuan, seperti lomba memasak, lomba merangkai bunga, lomba peragaan busana, lomba merias wajah dan lain sebagainya.

Menurut Endang, semestinya paradigam kuno dan kolot itu sudah saatnya diubah dengan pemerintah sebagai pelopornya karena di tangan mereka kebijakan atas konsep itu berada. @antara



Minggu, 19 April 2015

PENTAS SENI TK NU SE KOTA SEMARANG

TK Tarbiyatul Athfal  Muslimat NU Se-Kota Semarang menggelar Acara  pentas Seni yang  di selenggarakan di Bonbin Mangkag semarang pada Sabtu 18/4/15

MULTI TAB 1

Pentas Seni & Perpisahan

Pentas Seni & Perpisahan

MULTI TAB 2

Kegiatan Kartinian

Kegiatan Kartinian

MULTI TAB 3

anoman

anoman

MULTI TAB 4

perpisahan

perpisahan

MULTI TAB 5

kartinian 2

kartinian 2


MULTI TAB 6

1

Entri Populer

MULTI TAB 7

Headline

">

MULTI TAB 9

Buku Tamu

MULTI TAB 10

Daftar Blog Saya

MULTI TAB 11




 
KEMBALI KEATAS
') }else{document.write('') } }