PENIGKATAN GIZI

Peningkatan Kesadaran Gizi Ibu dan Balita; Sosialisasi PP Muslimat NU dan Yaici di Palembang Sumatera Selatan

Dra.Hj.Khofifah Indar Parawansa, M.Si.

Mengarungi Kisah Inspiratif Hj Khofifah Indar Parawansa

MANASIK HAJI

Pembelajaran Manasik Haji Kecil TKTA Tarbiyatul Athfal41 Semarang pada Tgl.8 Oktober 2015 di Islamic Center Semarang

Pelatihan Penguatan Keaswajaan Da’iyah Muslimat NU

Penguatan Keaswajaan Bagi Da’iyah Muslimat NU DKI Jakarta

Ketua NU Kota Semarang

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, Dr. KH. Anasom MHum

Minggu, 14 Februari 2021

Menghargai Ekspresi Berpakaian Masing-masing Agama

Persoalan penggunaan pakaian yang terkait dengan simbol agama dari waktu ke waktu terus memunculkan kontroversi. Pada masa Orde Baru, pemerintah melarang penggunaan jilbab di sekolah-sekolah negeri.

Para siswi yang teguh untuk tetap menggunakannya terpaksa pindah ke sekolah swasta yang mengizinkan penggunaan jilbab. Larangan tersebut kini sudah ditiadakan seiring dengan perubahan zaman dan perubahan pandangan. Namun, persoalan lain muncul yang bahkan berkebalikan dengan aturan sebelumnya, yaitu adanya aturan berjilbab bagi semua siswa, baik Muslim atau non-Muslim seperti kasus di SMKN Padang 2 yang kemudian viral di media sosial.

Sebagai pakaian yang diidentikkan dengan pakaian Muslimah, tentu saja non-Muslim enggan ketika diminta untuk menggunakan pakaian yang menjadi identitas agama lainnya karena bertentangan dengan keyakinan pribadinya. Mungkin, para siswi non-Muslim tetap mamakai jilbab karena




Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/126224/menghargai-ekspresi-berpakaian-masing-masing-agama


Sabtu, 13 Februari 2021

LAZISNU Serahkan Bantuan untuk Anak-anak Korban Perang Yaman

Pengurus Pusat (PP) NU Care-LAZISNU menyerahkan donasi dari hasil penggalangan dana program NU Peduli Yaman. 

Donasi diserahkan melalui Yayasan Al-Ra’fah milik Pesantren Darul Mustafa Tarim (Yaman), di bawah pimpinan Al Habib Umar bin Hafidz. 

Donasi diserahkan secara langsung oleh Ketua PP NU Care-LAZISNU, Achmad Sudrajat, kepada penanggungjawab Yayasan di Indonesia, Hamid Jafar Al-Qadri, yang juga santri Darul Mustafa.

Achmad Sudrajat mengungkapkan bahwa penyerahan donasi tersebut sebagai bentuk khidmat NU untuk Yaman.

Selanjutnya klik Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/126411/lazisnu-serahkan-bantuan-untuk-anak-anak-korban-perang-yaman


PBB: 400 Ribu Anak di Yaman Terancam Mati Kelaparan

Jakarta,Sedikitnya 400.000 anak di bawah usia 5 tahun di Yaman dapat meninggal karena kelaparan tahun ini. Hal itu bisa terjadi jika tidak ada intervensi di tengah melonjaknya tingkat kekurangan gizi parah akibat perang dan pandemi virus corona. 

Dikutip dari Reuters, peringatan PBB tersebut muncul hampir enam tahun setelah pecahnya perang yang membuat 80 persen populasi bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/126628/pbb-400-ribu-anak-di-yaman-terancam-mati-kelaparan

Ini Manfaat Belajar Daring untuk Anak TK


PEMBELAJARAN Jarak jauh (PJJ) masih menjadi opsi paling aman untuk memutus penularan virus covid-19 di Tanah Air, khususnya pada anak TK dan PAUD. 

Namun begitu, PJJ ini pun menuai pro dan kontra di masyarakat. Beberapa pihak bahkan tidak setuju PJJ ini dilibatkan dalam pembelajaran untuk PAUD dan TK lantaran penyampaian pembelajaran yang kurang tepat justru bisa membuat mereka stres.

Menanggapi hal itu, Direktur Jendral Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Jumeri mengatakan PJJ pada PAUD dan TK justru perlu dilakukan mengingat usia mereka perlu dibimbing.

Senin, 03 Agustus 2020

Pemerintah Perlu Apresiasi Dokter yang Gugur dalam Penanganan Covid-19

Jakarta, NU Online Terkait dengan wafatnya beberapa petugas medis, dalam tugasnya menangani pasien terdampak virus Corona (Covid-19), 

sudah selayaknya pemerintah Indonesia memberikan penghargaan. Para petugas medis adalah pahlawan yang bertugas di garis terdepan untuk penanganan virus sekaligus penyembuhan pasien yang terjangkit Covid-19.

Hal itu disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI, Muchammad Nabil Haroen, Rabu (25/3) pagi.   Karena itu, Nabil mengusulkan kepada Presiden Republik Indonesia, agar para tenaga medis yang berjuang di front-line (garis depan) mendapatkan perhatian dan penghargaan setinggi-tingginya berupa tanda jasa kehormatan atau lainnya.  

"Beberapa dokter yang wafat dalam tugasnya menangani pasien terdampak Covid-19 adalah Pahlawan Bangsa. Sudah selayaknya mereka mendapatkan penghargaan dari negara, atas dedikasi, perjuangan dan pengabdiannya di tengah pandemik Covid-19," ujarnya.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/118218/pemerintah-perlu-apresiasi-dokter-yang-gugur-dalam-penanganan-covid-19

Pandemi Belum Berahir,Apa Yang Harus Di Lakukan

Pandemi Virus Corona penyebab Covid-19 di beberapa negara telah usai atau berakhir. Sejumlah negara di Eropa telah membuka kebijakan Lockdown. Bahkan rumah sakit di Italia dilaporkan sudah sepi, tak ada pasien Covid-19.

Austria sudah membuka kembali aktivitas sekolah. Begitu juga dengan negara-negara seperti Korea Selatan. Aktivitas di negeri ginseng tersebut sudah normal kembali. Ruang-ruang publik sudah dibuka. Taiwan juga sama. Negara yang terletak di Pulau Formosa itu beberapa hari ini sudah tidak ditemukan kasus konfirmasi Covid-19. 

Negara-negara di Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, Brunei Darussalam wabah telah selesai. Sedangkan Malaysia, Filipina wabah sudah terkendali. Begitu juga di Singapura yang baru-baru ini kabarnya sudah membuka penerbangan. Meskipun ditemukan banyak kasus, hal itu merupakan upaya Singapura dalam proses deteksi dini penularan virus dari orang ke orang sehingga bisa dilakukan pencegahan dan penanganan lebih lanjut.

Nilai Ibadah Pakai Masker di masa Pandemi

Sejak Corona dinyatakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai virus yang membahayakan jiwa manusia, banyak pihak seperti para dokter, ulama dan umara mengimbau agar masyarakat senantiasa memakai masker dalam beraktivitas sehari-hari di luar rumah. Namun, imbauan ini tampaknya diikuti dengan baik hanya oleh sebagian orang yang mau memahami bahwa virus ini memang berbahaya. Selain itu, mereka ingin menunjukkan ketataannya terhadap perintah agama yang mewajibkan untuk menjaga keselamatan jiwa (hifdzun nafs).  Beberapa ulama seperti KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Said Aqi Siroj, dan sebagainya telah mengimbau masyarakat khususnya warga Nahdliyin untuk senantiasa memakai masker. Artinya memakai masker itu sebetulnya ibadah dan karenanya mendapatkan pahala dengan beberapa alasan sebagai berikut: Pertama, memakai masker merupakan salah satu cara yang amat ditekankan oleh para ahli kesehatan dalam rangka menjaga keselamatan jiwa dari ancaman wabah virus Corona. Dilaporkan bahwa memakai masker sama efektifnya atau bahkan lebih efektif daripada menjaga jarak. Pernyataan ini sebagaimana dilontarkan penasihat Organisasai Kesehatan Dunia (WHO) Prof David Heymann CBE sebagai berikut:

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/122035/nilai-ibadah-pakai-masker-di-masa-pandemi

Rabu, 18 Maret 2020

Merespons Covid-19, Ini Petunjuk Dasar PBNU untuk Takmir Masjid dan Mushalla

Jakarta, Keprihatinan atas adanya musibah wabah Covid-19 yang telah menimpa sebagian masyarakat Indonesia membuat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan instruksi tentang protokol masjid dan mushalla.

Instruksi protokol itu ditujukan kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), pondok pesantren, dan lembaga pendidikan NU.

Instruksi tersebut tertuang dalam Surat Keterangan Nomor 3945/C.I.34/03/2020 yang diterbitkan di Jakarta pada Kamis, 12 Maret 2020 M atau bertepatan dengan 17 Rajab 1441 H. Surat tersebut ditandatangani oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib Aam KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum KH Said Aqil Siroj, dan Sekjen HA Helmy Faishal Zaini.

Berikut rincian protokol masjid dan mushalla yang diterbitkan PBNU.

1. Pastikan seluruh area umum masjid bersih dan bebes infeksi, yaitu dengan melakukan pembersihan area masjid dan penyemprotan disinfektan minimal 1 kali sehari mencakup lantai, dinding, pegangan pintu, microphone, mimbar, tempat wudhu, dan toilet.

Masjid dianjurkan tidak menggunakan karpet. Jamaah diharapkan membawa sajadah masing-masing atau alas sujud yang lain, seperti sapu tangan.

Jika masih tetap menggunakan karpet, pengurus masjid harus melakukan pembersihan karpet dengan menggunakan vacuum cleaner minimal 1 kali setiap hari. Sementara mukena, sarung, dan sajadah yang tersedia di masjid diharuskan diganti setiap hari.

2. Biasakan mencuci tangan dan menerapkan etika batuk/bersin, yaitu dengan menyediakan media informasi mengenai pentingnya cuci tangan dan tata cara cuci tangan yang benar.  Sediakan juga media informasi terkait etika batuk/bersin. Lalu, menyediakan sabun cair di setiap tempat wudlu, hand sanitizer di dalam masjid, dan  mengingatkan jamaah untuk selalu mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer sebelum memulai aktivitas.

3. Kegiatan ibadah di masjid: selama wabah Covid-19 dianjurkan tidak beribadah di masjid.

4. Berkoordinasi dengan call center Posko NU Peduli Covid-19 PBNU dengan nomor hotline: 0813-8979-8679.**


Sumber:https://www.nu.or.id/post/read/117950/merespons-covid-19--ini-petunjuk-dasar-pbnu-untuk-takmir-masjid-dan-mushalla

Gagal Paham Membandingkan Takut Corona dengan Takut Allah

Saat ini seluruh dunia sedang dilanda kecemasan dengan merebaknya virus Corona (Covid-19) yang pertama kali muncul di Wuhan, Hubei, China pada November 2019. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret lalu telah menyatakan Covid-19 sebagai pandemi yang membahayakan keselamatan jiwa. 

Virus ini menimbulkan rasa takut di seluruh dunia tanpa memandang ras, suku, agama, dan kebangsaan.  Di dunia Islam seperti Palestina, Kuwait, Malaysia, Turki, Tajikistan, Iran, dan Indonesia, rasa takut akan terjadi penyebaran virus Corona melalui jamaah shalat di masjid dapat dilihat dari dikeluarkannya fatwa yang meniadakan shalat Jumat. 

Sebagai gantinya umat Islam di negara-negara tersebut diperintahkan untuk melakukan shalat Dhuhur di rumah masing-masing. Di Indonesia, Masjid Raya Bandung meniadakan shalat Jumat dan jamaah shalat wajib mulai tanggal 16 Maret. 

Fatwa tersebut ternyata ditanggapi secara kontra oleh beberapa pihak di kalangan umat Islam termasuk di Indoensia. Mereka berpendapat tidak ada alasan untuk meniadakan shalat Jumat karena shalat wajib dua rakaat berjamaah di siang hari ini adalah perintah Allah. Mereka menilai ditiadakannya shalat Jumat dan jamaah shalat wajib menunjukkan bahwa virus Corona telah lebih ditakuti daripada tuhannya. 


Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/117930/gagal-paham-membandingkan-takut-corona-dengan-takut-allah

Manfaatkan Medsos, Pesantren Sehat Nusantara Sosialisasikan Antisipasi Covid-19

 Kudus- Pesantren Sehat Nusantara (PSN) melalui platform media sosial WhatsApp menggelar “Ngetren” (Ngobrol Kesehatan Pesantren). Ngetren yang sudah diselenggarakan kali kelima tersebut mengambil tema ‘Antisipasi Infeksi Covid-19 di Pesantren.’ Diskusi yang berlangsung seru ini dipimpin Sekretaris Satgas Covid-19 PBNU Surotul Ilmiyah. Diskusi gayeng yang dimoderatori Rizqiana Adawiyah ini berlangsung sejak pukul 20.00 hingga 22.00 WIB, Selasa (17/3) malam.


Sebelumnya, telah dibuka sesi pertanyaan pada Ahad (15/3) hingga Senin (16/3) malam. Kemudian di hari berikutnya diadakan sesi materi, menjawab pertanyaan-pertanyaan, dan diskusi terbuka mengenai cara-cara mengantisipasi penyebaran Corona Virus Disease (Covid)-19


Diskusi tersebut diikuti lebih dari 500 peserta yang dibagi dalam dua grup. Peserta yang mengikuti diskusi tidak dibatasi dengan persyaratan tertentu. Namun, diutamakan untuk para santri, ustadz, atau tenaga kesehatan di pesantren. Termasuk siapa saja yang peduli kesehatan di pesantren. Grup tersebut terlihat ramai.

Antusiasme peserta sangat terasa saat sesi tanya jawab dan diskusi terbuka. Dibahas pula dalam grup mulai pengenalan awal soal Covid-19, upaya penanggulangan, hingga isu-isu hangat yang mewarnai penyebaran virus tersebut. Salah satu penggagas PSN, 

Mohammad Fanshuri Abdillah menjelaskan, organisasi yang didirikannya merupakan gerakan santri secara bersama yang berfungsi meningkatkan sistem kesehatan pesantren untuk mewujudkan Pesantren Sehat. Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk mewujudkan Indonesia Maju. “PSN menjadi sebuah usaha untuk maju dengan cara mempersiapkan santri sebagai SDM unggul. Mereka disiapkan jadi pemimpin masa depan bangsa yang sehat jasmani dan rohani, kompetitif dan berintegritas,” ungkapnya. 

Ia menambahkan, PSN juga berperan sebagai pusat pengembangan manajemen kesehatan pesantren dengan membuat jaringan antarpenggerak kesehatan pesantren nasional, pembinaan poskestren, dan pengembangan materi atau kurikulum untuk mewujudkan pesantren sehat. “Organisasi ini mulai sejak 2016. Namun, disahkan menjadi sebuah komunitas pada September 2019,” pungkas Fanshuri.

Rabu, 11 Maret 2020

Pergunu Tanggapi Pernyataan Apresiasi Presiden soal Gerakan Teacherpreneur

Jakarta,Dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakerna) IV Pesatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Presiden RI, Joko Widodo yang hadir dalam Pengukuhan Guru Besar KH Asep Saifuddin Chalim di UINSA, Sabtu (29/2) menyampaikan apresiasinya pada Ketua Umum Pergunu atas kiprahnya dalam gerakan Teacherpreneur pada para guru-guru NU. 

Menurut Jokowi, hal tersebut menjadi upaya pemberdayaan berbasis ekonomi kerakyatan yang sangat bermanfaat dan layak diapresiasi.  "Sebagai Ketum Pergunu, banyak program dan inovasi yang dilakukan sebagai pengembangan metode pembelajaran dan peningkatan kapasitas pesantren. Saya dengar guru Pergunu juga didorong untuk membuat gerakan Teacherpreneur sebagai pemberdayaan komunitas berbasis ekonomi kerakyatan, menerapkan kearifan lokal dan sudah memanfaatkan teknologi digital. Ini adalah kiprah Kiai Asep yang layak diberi apresiasi," kata Jokowi.

Terkait hal itu, Wakil Ketua PP Pergunu, Aris Adi Leksono memberikan tanggapan bahwa apresiasi tersebut sebagai bentuk penghargaan negara kepada anggota Pergunu se-Indonesia.   Menurutnya, gerakan Teacherphenuer adalah tawaran solusi untuk menjaga marwah guru dalam mewujudkan kemandirian dan kesejahteraannya.   "Penghargaan yang disampaikan presiden bagi kami adalah penghargaan negara kepada peran pergunu selama ini, terutama dalam membangun kemandirian guru. Sehingga, guru tetap bisa mengabdi dengan totalitas, tanpa terganggu kesejahteraan bagi diri dan keluarganya," kata Aris, Rabu (4/3).   Lebih lanjut, Aris menegaskan gerakan Teacherphenuer akan menjadi program nasional dari sabang sampai merauke dalam bentuk membangun koperasi guru, usaha online komunitas guru, kantin guru, ternak guru, perumahan guru, dan lainnya. Menurutnya, dengan kemamuan menejerial guru, program Teacherphenuer pasti akan jalan, tanpa meninggalan tugas mendidik.    "Sejak dulu guru adalah figur mulia, karena bekerja pada ruang pengabdian yang harus didasari keikhlasan, selain itu guru juga harus mampu menjadi Teacherphenuer dengan memanfaatkan komunitasnya sebagai aktifitas wirausaha, dengan model online, berternak, kantin guru dan lainnya. Ini bisa jalan tanpa meninggalkan tugas utamanya sebagai pendidik," tegas Aris. Rakernas dan Pengukuhan Guru Besar Ketua Umum Pergunu, KH Asep Saifuddin Chalim dihadiri lebih dari 4000 pengurus dan anggota Pergunu se-Indonesia, tokoh masyarakat, forum rektor, Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indarparawansah, Wakil Gubernur, Emil Elistianto Dardak, dan lainnya.  


Di Depan Mendikbud, Pergunu Sampaikan Cita-cita Bangun Kampus Internasional

Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) memenuhi undangan silaturahim Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadhim Makarim.

Rombongan Pergunu dipimpin langsung oleh Ketua Umum KH Asep Saefuddin Chalim disambut oleh Mentri Nadhim Makarim di kantornya Jln Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, Rabu (11/3) siang. Kiai Asep sapaan Ketum Pergunu, menyampaikan cita-cita Pergunu untuk mendidirikan kampus bertaraf internasional. Pihaknya juga telah menyediakan lahan untuk pembangunan kampus seluas 62 hektar dan akan terus bertambah di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Keinginan tersebut demi memajukan pendidikan Indonesia dan juga mengenalkan pendidikan khas Indonesia di kancah dunia.

"Ke depan nanti kita akan bangun sekolah-sekolah unggulan di masing-masing provinsi di mana Pergunu ada. Kemudian, sekolah itu akan mengadopsi sistem pendidikan Amanatul Ummah," ungkap kiai pengasuh Pesantren Amanatul Ummah. 

 Sejauh ini konsep pendidikan Amanatul Ummah sudah teruji unggul dan lulusannya sudah banyak diterima di perguruan tinggi unggulan baik dalam negeri maupun luar negeri. Kiai Asep juga berharap keinginannya demi memajukan pendidikan indonesia dapat segera terwujud.   

Selain itu Wakil Ketua Pergunu Aris Adi Leksono mengingatkan akan pentingnya pendidikan karakter di tengah-tengah gencarnya peningkatkan kemajuan pendidikan dengan pola-pola modern. Pihaknya mengatakan 

Pergunu memerhatikan penguatan karakter bagi guru di seluruh indonesia. "Bagaimana kemudian guru-guru konsen dalam hal penguatan nilai-nilai kebangsaan. Dalam bentuknya Pergunu masih membuat sarasehan kebangsaan dan Trening of Treiler (TOT) Guru Pemersatu Bangsa di setiap provinsi dan kabupaten atau kota. Persertanya adalah guru-guru," ungkap Aris.

 Aris juga menyampaikan tentang peran Pergunu dalam membangun maindset techerprenuer bagi guru. Dengan itu, diharapkan guru memiliki kemandirian dalam bentuk berwirausaha mengembangakan kreativitas atau inovasi lainnya.   "Tidak serta-merta guru mengandalkan gaji atau honor dari hasil ngajar dan lain sebagainya. Tetapi memiliki usaha tanpa harus menggeser peran utamanya dalam mengajar.” Ungkap Aris yang juga mantan ketua PW Pergunu DKI Jakarta. Selain itu, lanjut Aris melihat fenomonea banyaknya kekerasan kepada guru, pergunu mengusulkan kepada kemendikbud ri untuk memfasilitasi komisi etik perllindungan guru. Yaitu dalam bentuk komisi perlindungan guru Indonesia. Sehingga jika ada kekerasan atau kasus kriminal, menurutnya untuk diperiksa dulu dikomisi perlindungan guru  baru setelah itu masuk ke ranah hukum. 

“Pergunu juga beharap kepada kemendikbud dan kemenag melakukan koordinasi tata kelola guru terutama dalam hal memberikan perlindungan dan memperhatikan kesejahteraan guru.”  Selain itu mendikbud ri Nadim Makarim sangat mengapresiasi terkait gagasan universitas internasional yang digagas oleh ketua umum pp pergunu dan sangat mengapresiasi pola-pola kerja pergunu dengan pengembangan karakter. Di sisi lain pihaknya juga mendukung peningkatan kompetensi melalui diklat jarak jauh. Diklat jarak jauh menurutnya sangat adaptif dengan program digitalisasi dan percepatan peningkatan kompetensi guru yang selama ini dijalankan. 

 “Mengenai teacherprenuer sangat setuju kami sangat mendambakan. Sehingga guru bisa menjadi contoh bagi siswanya selain bahwa guru ini tidak sekedar hidup dari mengajar bahwa memang betul guru akan mulia di depan siswanya karena pengabdian.” Ungkap Nadim. Kontributor: Erik Alga Lesman

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/117747/di-depan-mendikbud--pergunu-sampaikan-cita-cita-bangun-kampus-internasional

Senin, 09 Maret 2020

Haram Memborong Masker di Pasaran untuk Dijual dengan Harga Tingi

Hukum ekonomi menyatakan bahwa “saat kebutuhan akan sumber daya yang jumlahnya terbatas merangkak naik, maka pasar akan meresponsnya sebagai kenaikan pada harga.” 

Demikian kiranya yang tengah terjadi di kancah nasional hari ini. Karena antisipasi terhadap wabah corona, sehingga masyarakat membutuhkan kehadiran masker, pasar merespons kebutuhan tersebut dengan kenaikan pada harga satuan per unit masker. Tidak tanggung-tanggung, kenaikan tersebut bisa mencapai 330 ribu rupiah. Sebenarnya bagaimana syariat memandang hal ini?   Beberapa pihak mengaitkan bahwa tindakan di atas adalah sama dengan tindakan monopoli (ihtikar) atau 

menimbun barang. Benarkah begitu? Jawabnya, ya belum tentu juga. Kita perlu mencermatinya terlebih dulu sebelum menghukuminya.   Apotek atau pihak penjual masker itu umumnya membeli barang sudah dalam jangka waktu yang lama. Bahkan mungkin ada yang sampai berpikiran, kok enggak laku-laku. 

Modalnya tertahan dalam bentuk barang seiring lamanya jangka waktu. Pihak yang demikian ini, sudah pasti tidak bisa dikategorikan sebagai pihak penimbun. Hanya faktor kebetulan saja, mereka punya masker yang belum terjual.   

Namun, juga tidak menutup kemungkinan, bahwa ada pihak yang memanfaatkan momen dan kepanikan masyarakat yang tengah berlangsung sehingga berusaha memborong barang yang potensial laku untuk dijual kembali dengan harga yang fantastis guna meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Tindakan seperti inilah yang disebut sebagai ihtikar (menimbun harta).
 
 الاحتكار هو حبس مال أو منفعة أو عمل، والامتناع عن بيعه وبذله حتى يغلو سعره غلاءً فاحشاً غير معتاد، بسبب قلته، أو انعدام وجوده في مظانه، مع شدة حاجة الناس أو الدولة أو الحيوان إليه   

“Monopoli itu adalah tindakan memborong barang atau manfaat atau pekerjaan jasa, tidak dijualnya atau disalurkannya sehingga harganya bergerak naik dengan kenaikan yang bersifat menindas dan tidak lumrah, sebagai akibat dari minimnya barang itu di pasaran atau langka, bersamaan dengan sangat butuhnya masyarakat akan wujudnya, atau negara, atau bahkan hewan peliharaan” (Dr Fathi al-Darainy, Buhutsu Muqaranah fi al-Fiqhi al-Islamy wa Ushulihi, Beirut: Muassasah al-Risalah, 2008, juz 1, halaman 411).   Jadi, ciri khas monopoli itu adalah ada pada tindakan sepihak berupa 

penimbunan/penguasaan barang tertentu, yang disertai dengan niat menaikkan harganya secara fantastis saat terjadinya krisis guna meraup keuntungan sebesar-besarnya. Istilah lainnya, adalah bisnis temporer dan berbasis momentum.   Dalam syariat, hukum asal monopoli itu diharamkan dan hanya berlaku pada produk jenis makanan pokok. Hal ini berangkat dari firman Allah SWT:  

وَمَا لَكُمْ أَلاَّ تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلاَّ مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ وَإِنَّ كَثِيراً لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ   “Tiada larangan bagi kalian memakan hayawan yang disembelih dengan disebut nama Allah atasnya. Allah telah menjelaskan secara rinci kepada kalian segala apa yang diharamkan kecuali karena terpaksa. (Q.S. Al-Anfal [: 119)   من احتكر طعاماً أربعين يوماً فقد برىء من الله وبرىء الله منه» رواه أحمد والحاكم بسند جيد عن ابن عدي   

“Barang siapa menimbun makanan selama 40 hari, maka ia lepas tangan dari Allah dan Allah juga berlepas diri darinya.” HR. Ahmad dan Hakim dengan sanad jayyid, dari Ibnu ‘Adiy.   Adapun pada barang/produk lain, seumpama masker, hal tersebut adalah berangkat dari qiyas pada sifat dlaruratnya makanan, disebabkan adanya faktor penguat (murajjih) yaitu kebutuhan (hajat). Kaidah yang berlaku dalam hal ini adalah: 

  الحاجة تنزل منزلة الضرورة عامة كانت أم خاصة   “Hajat suatu ketika dapat menempati derajat primer (dlarurat) baik secara umum atau secara khusus.”   Berangkat dari dasar ini maka menimbun masker melalui aksi borong barang untuk maksud dijual dengan harga fantastis (ghalâan fakhisyan) guna meraup keuntungan sebesar-besarnya adalah termasuk bagian dari ihtikar yang diharamkan. Wallahu a’lam bi al-shawab.     Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah–Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Bantu Masyarakat Cegah Corona, LAZISNU Bagikan Masker Gratis

Pengurus Pusat Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) membagikan masker secara gratis kepada masyarakat pengguna Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Jumat (6/3). Kegiatan dalam rangka membantu warga mencegah penyebaran virus mematikan Covid-19 ini. 

  “Alhamdulillah, Jumat kemarin NU Care-LAZISNU telah membagikan masker kepada driver ojek online, supir angkot, pengguna jalan, pejalan kaki, dan masyarakat sekitar selepas Salat Jumat di lingkungan Gedung PBNU dan daerah sekitarnya,” kata Ketua PP LAZISNU, Achmad Sudrajat kepada NU Online, Senin (8/3).  

Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari program gerakan sejuta masker untuk cegah corona yang diinisiasi langsung oleh PP LAZISNU. Dia pun berpesan agar masyarakat tetap menjaga kesehatan dan kebersihan agar terhindar dari segala penyakit. 

“Selain itu masayrakat harus menyeimbangkan gizi dan asupan, olahraga, serta istirahat yang cukup agar daya tahan tetap terjaga,” tuturnya

Sebelumnya, PP LAZISNU juga menggalang donasi untuk masyarakat agar mendapatkan masker secara gratis, mengingat harga masker yang melambung tinggi di pasaran. Gerakan itu dinamai ‘Gerakan Sejuta Masker’.  

Melalui gerakan sejuta masker tersebut NU Care-LAZISNU mengajak masyarakat untuk bersama-sama membantu warga Indonesia menghadapi penyebaran virus Covid-19. Mudah-mudahan gerakan sejuta masker dapat membantu masyarakat dalam menangkal virus mematikan ini.    Beberapa waktu yang laluu, NU Care-LAZISNU telah mendistribusikan 12.600 masker untuk warga Taiwan dan Korea Selatan dalam rangka membantu masyarakat Taiwan dan Korea Selatan melawan virus corona.  Seperti kita ketahui, Presiden Joko Widodo untuk pertama kali mengumumkan dua orang di Indonesia positif terinfeksi virus Corona. Jokowi mengumumkan kabar yang ditunggu-tunggu masyarakat itu pada Senin (2/3) lalu di Istana Negara Jakarta.  Sepekan berlalu, kasus virus corona terus mengalami perubahan, dan sampai hari ini, sudah ada 6 orang yang dinayatakan positif terkena virus tersebut. 



MULTI TAB 1

Pentas Seni & Perpisahan

Pentas Seni & Perpisahan

MULTI TAB 2

Kegiatan Kartinian

Kegiatan Kartinian

MULTI TAB 3

anoman

anoman

MULTI TAB 4

perpisahan

perpisahan

MULTI TAB 5

kartinian 2

kartinian 2


MULTI TAB 6

1

Entri Populer

MULTI TAB 7

Headline

">

MULTI TAB 9

Buku Tamu

MULTI TAB 10

Daftar Blog Saya

MULTI TAB 11




 
KEMBALI KEATAS
') }else{document.write('') } }