PENIGKATAN GIZI

Peningkatan Kesadaran Gizi Ibu dan Balita; Sosialisasi PP Muslimat NU dan Yaici di Palembang Sumatera Selatan

Dra.Hj.Khofifah Indar Parawansa, M.Si.

Mengarungi Kisah Inspiratif Hj Khofifah Indar Parawansa

MANASIK HAJI

Pembelajaran Manasik Haji Kecil TKTA Tarbiyatul Athfal41 Semarang pada Tgl.8 Oktober 2015 di Islamic Center Semarang

Pelatihan Penguatan Keaswajaan Da’iyah Muslimat NU

Penguatan Keaswajaan Bagi Da’iyah Muslimat NU DKI Jakarta

Ketua NU Kota Semarang

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, Dr. KH. Anasom MHum

Kamis, 15 Desember 2016

Mitos Apa Beneran ,Olahraga Terbukti Cerdaskan Anak dan Jadi Kunci Lulus Ujian

Jakarta Olahraga dan belajar rupanya bukan dua hal terpisah namun aktivitasnya justru saling mendukung antar satu sama lain. Dimana keterkaitannya?

Dua penelitian besar terkait hubungan olahraga dan belajar yang dilakukan secara terpisah oleh American College of Sports Medicine dan ilmuwan sekaligus penulis dalam Journal of Pediatrics, menunjukan bahwa ketangguhan fisik anak hasil berolahraga membantu otaknya menjadi lebih efektif dalam upaya menyerap dan menyimpan informasi baru yang didapat ketika belajar di sekolah.

Secara spesifik, hasil penelitian American College of Sports Medicine membuktikan, sebagian besar siswa kelas 4 dan 5 SD di Nebraska, AS mencetak nilai tinggi saat tes karena sebelumnya diharuskan lari pagi 10 menit terlebih dahulu. Mereka yang datang terlambat di sesi pagi hari dan tidak mengikuti lari pagi justru nilainya lebih rendah dibandingkan yang olahraga, bahkan beberapa dari mereka sebetulnya merupakan bintang kelas.

Kemudian, hasil penelitian akademisi sekaligus penulis Journal of Pediatrics menemukan, kebugaran fisik anak berpengaruh positif terhadap kemampuan anak dalam pelajaran matematika dan bahasa Inggris. Para akademisi menguji 12 ribu anak sekolah di Nebraska yang mana terbukti, mereka yang berat badannya berlebih namun fit skor ujiannya jauh lebih tinggi dibandingkan yang langsing tapi tidak fit.

Apapun jenis olahraganya, baik yang bersifat kompetitif atau latihan rutin seperti ke gym, sangat dihimbau untuk orangtua dan pihak sekolah melibatkan anak-anak ke dalam kegiatan tersebut. Ini dikarenakan keterkaitannya sangat kuat antara olahraga dan belajar; kata lainnya, kebugaran tubuh membantu anak lebih tangguh dalam menghadapi situasi menantang, terutama yang bersifat akademis.

Demikian informasi yang dilansir dari New York Post,

Sabtu, 08 Oktober 2016

Kota Semarang bakal memberi fokus lebih pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini

Kota Semarang bakal memberi fokus lebih pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini, dasar dan menengah pertama.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik)Kota Semarang, Bunyamin mengakui pasca diambil alihnya sekolah menengah atas dan menengah kejuruan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, anggaran yang ada bisa dialihkan ke sektor lainnya.  “Anggaran yang selama ini untuk pendidikan menengah atas atau kejuruan bisa dialokasikan ke pos lainnya, contohnya saja pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar dan menengah,” katanya usai meresmikan gedung baru KB dan TK Supriyadi, kemarin.
Saat ini penyaluran anggaran untuk pendidikan akan kembali dibahas, terlebih SMA dan SMK telah dilimpahkan ke Provinsi yang idealnya peralihan tersebut akan rampung pada tahun depan. Ia pun optimis jika peralihan tersebut akan berdampak baik perbaikan bagi pendidikan usia dini hingga menenga pertama. “Tentunya akan lebih baik dari segala sektor, terlebih alokasi anggaran bisa dialihkan. Dinas pun bisa fokus pada pendidikan dasar dan anak usia dini,” jelas dia.
Sementara itu Ketua Yayasan Pendidikan Islam Al Fallah Semarang, Dr. Muhdi M.hum, berharap pasca pengambilalihan SMK/SMK oleh provinsi, kualitas pendidikan dasar dan usia dini bisa lebih baik,terlebih anggaran dari pemerintah kota bisa dimanfaatkan dengan biak. “Kalau dulu kan jangkauannya luas sampai SMA/SMK, kini anggarannya bisa dimaksimakan ke pos lainnya terutama pendidikan dasar dan pendidikan dini,” tuturnya.
Dr Muhdi, yang juga menjabat Rektor Universitas PGRI Semarang tersebut mengambil contoh untuk membangun gedung kelompok belajar (KB) dan taman kanak-kanak (TK) Supriyadi saja menghabiskan dana sekitar Rp3,3 miliar yang digunakan untuk pengadaan tanah, pembangunan dan kelengkapan fasiltas pelajar mengajar. “Fasilitas mulai dari peralatan marchingband, ruang pentas terbuka dan tertutup, ruang kelas dengan bantuan multimedia dan ber AC sehingga anak nyaman belajar, kalau bisa diplikasikan oleh Didsik, tentunya akan sangat baik,” imbuhnya.
Sementara itu Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu yang turut hadir dalam acara kemarin, mengungkapkan jika perhitungan anggaran bagi pendidikan di Kota Semarang akan dihitung ulang. Pemerintah Kota Semarang sendiri dipastikan akan proporsional karena PAUD juga mendapatkan bantuan dari kementrian. “ Saya sudah meminta dinas pendidikan untuk banyak konsentrasi di pendidikan pra sekolah dasar,” pungkas dia.

Jumat, 30 September 2016

Sekali Bentak dan Marahi Anak, Milyaran Sel Otak Anak ‘Rusak Musnah’

“Tahukan Anda di dalam setiap kepala seorang anak terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang siap tumbuh. Satu bentakan atau makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Satu cubitan atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Sebaliknya 1 pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak saat itu juga.”

Dari beberapa artikel dan penelitian disebutkan bahwa, satu bentakan merusak milyaran sel-sel otak anak kita. Hasil penelitian Lise Gliot, berkesimpulan pada anak yang masih dalam pertumbuhan otaknya yakni pada masa golden age (2-3 tahun pertama kehidupan, red), suara keras dan membentak yang keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Sedangkan pada saat ibu sedang memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak terbentuk indah.


Penelitian Lise Gliot ini sendiri dilakukan sendiri pada anaknya dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monitor komputer sehingga bisa melihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya. “Hasilnya luar biasa, saat menyusui terbentuk rangkaian indah, namun saat ia terkejut dan sedikit bersuara keras pada anaknya, rangkaian indah menggelembung seperti balon, lalu pecah berantakan dan terjadi perubahan warna. Ini baru teriakan,” ujarnya. Dari hasil penelitian ini, jelas pengaruh marah terhadap anak sangat mempengaruhi perkembangan otak anak. Jika ini dilakukan secara tak terkendali, bukan tidak mungkin akan mengganggu struktur otak anak itu sendiri. “Makanya, kita harus berhati-hati dalam memarahi anaknya,” Tidak hanya itu, juga mengganggu fungsi organ penting dalam tubuh. Tak hanya otak, tapi juga hati, jantung dan lainnya.

Teriakan dan Bentakan menghasilkan gelombang suara. Ya, hampir semua orang mengetahui itu. Yang belum banyak diketahui orang banyak adalah, bentakan yang disertai emosi seperti marah menghasilkan suatu gelombang baru.



Emosi negatif seperti marah mempunyai gelombang khusus yang merupakan gelombang yang dipancarkan dari otak. Gelombang ini dapat bergabung dengan gelombang suara orang yang berteriak. Nah, gabungan gelombang suara dan gelombang emosi marah ini menghasilkan gelombang ketiga dengan efek yang khusus.

Efek dari gelombang ketiga ini adalah sifat destruktifnya terhadap sel-sel otak orang yang dituju. Dalam satu kali bentakan saja, sejumlah sel-sel otak orang yang dijadikan target akan mengalami kerusakan saat dia terkena gelombang ini, baik bila dia mendengar suaranya atau pun tidak. Hal ini karena gelombang ketiga ini tetap merambat sebagaimana dia gelombang suara tapi langsung ditangkap oleh otak sebagaimana gelombang otak.

Efek kerusakan pada sel-sel otak akan lebih besar pada anak-anak yang dijadikan sasaran bentakan ini. Pada remaja dan orang dewasa mengalami kerusakan yang tidak sebesar anak-anak, tapi tetap saja terjadi kerusakan.

Efek jangka panjangnya dapat dilihat pada orang-orang yang sering mengalami bentakan di masa lalunya. Mereka lebih banyak melamun serta termasuk lambat dalam memahami sesuatu. Orang-orang ini biasanya mudah meluapkan emosi negatif seperti marah, panik atau sedih. Mereka biasanya seringkali mengalami stress hingga depresi dalam hidup, karena kesulitan memahami pola-pola masalah yang mereka hadapi. Semuanya akibat dari sel-sel otaknya yang aktif lebih sedikit dari yang seharusnya.

Oleh karena itu, sebagai orang tua, pendidik, ataupun orang yang lebih tua dari ‘mereka’, sebaiknya memilih sikap yang lebih kreatif dalam menghadapi tingkah anak yang mungkin kurang baik. Seringkali orang tua  bukan mencegah, mengarahkan, dan membimbing sebelum kesalahan terjadi. Seharusnya orang tua mempertimbangkan tingkat perkembangan kejiwaan anak, sebelum membuat aturan. Jangan menyamakan anak dengan orang dewasa. Orang tua hendaknya menyadari bahwa dunia anak jauh berbeda dengan orang dewasa. Jadi, ketika menetapkan apakah perilaku anak dinilai salah atau benar, patuh atau melanggar, jangan pernah menggunakan tolok ukur orang dewasa.

Harus diakui, orang tua yang habis kesabarannya sering membentak dengan kata-kata yang keras bila anak-anak menumpahkan susu di lantai, terlambat mandi, mengotori dinding dengan kaki, atau membanting pintu. Sikap orang tua tersebut seperti polisi menghadapi penjahat. Sebaliknya, orang tua sering lupa untuk memberikan perhatian positif ketika anak mandi tepat waktu, menghabiskan susu dan makanannya, serta memberesi mainannya. Padahal seharusnya, antara perhatian positif dengan perhatian negatif harus seimbang

Selasa, 27 September 2016

Dirjen: Kita Tidak Boleh Meninggalkan Begitu Saja Mereka

Jakarta, PAUD dan Dikmas. Kita tidak boleh meninggalkan begitu saja mereka yang buta aksara usai menerima Surat Melek Aksara (SUKMA), ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas) Harris Iskandar, saat rapat kerja persiapan Hari Aksara Internasional Tingkat Nasional 2016. Jum’at  belum lama ini.

Oleh sebab itu kita berikan mereka program keterampilan dan kecakapan hidup yang bisa memberikan kesejahteraan, salah satunya melalui program Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) dan Aksara Kewirausahaan sebagai kelanjutan dari Program Keaksaraan Dasar, ujar Dirjen PAUD dan Dikmas menambahkan.

Selaras dengan tema global yang diangkat oleh UNESCO pada tahun ini yaitu “Reading The Past, Writing The Future” atau “Membaca Masa Lalu, Menulis Masa Depan”. Puncak peringatan HAI Tingkat Nasional 2016 yang rencananya akan dilaksanakan pada 20 Oktober di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Nantinya akan diramaikan dengan berbagai acara dan kegiatan seperti: Pameran HAI dan Produk Unggulan Satuan Pendidikan Nonformal. Festival Literasi dalam rangka Gerakan Indonesia Membaca, Pencanangan “Donasi Buku Online”. Workshop atau 'bengkel literasi' yang mengundang komunitas literasi dan taman bacaan masyarakat (TBM), seminar nasional terkait percepatan pengentasan buta aksara, serta berbagai jenis lomba literasi. (MHF Tim Warta PAUD dan Dikmas/ KS)

PCNU Semarang Bersinergi dengan Pemkot Siapkan Hari Santri 2016

SEMARANG - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang melakukan audiensi dengan Walikota Semarang di ruang kerja WaliKota, Selas baru-baru ini.

Dalam audiensi tersebut, membahas persiapan peringatan Hari Santri 2016 dengan upacara yang akan digelar pada 22 Oktober 2016 mendatang.

Ketua PCNU Kota Semarang,KH Anasom M.Hum mengatakan, audiensi ini dilakukan sebagai bentuk sinergitas antara PCNU dengan Pemerintah Kota (Pemkot). Sehingga, diharapkan pelaksanaan peringatan hari santri bisa berjalan dengan baik.
"Semarang sebagai Ibu Kota Jawa Tengah ingin mengawal pelaksanaan hari santri dengan meriah," ujar Anasom, dalam rilis yang dikirim ke Tribun Jateng usai audiensi.

Ia menuturkan, peringatan hari santri merupakan amanah berdasar Keputusan Presiden nomor 22 tahun 2015 tertanggal 15 Oktober 2015. Selain itu, banyak agenda-agenda menyambut hari santri yang akan dijalankan tahun ini.
"Badan otonom, lembaga, pesantren dan madrasah di Kota Semarang juga sudah merancang kegiatan menyambut hari santri. Puncak hari santri akan dipusatkan pada 22 Oktober 2016," ujar dosen UIN Walisongo itu.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi yang akrab disapa Hendi, sangat mendukung kegiatan hari santri di Kota Semarang. "Karena hari santri sudah menjadi hari nasional yang ditetapkan Presiden Jokowi, maka semua santri dan seluruh warga Semarang akan mengadakan peringatan hari santri," terangnya.

sumber selengkapnya :http://jateng.tribunnews.com/2016/08/30/pcnu-kota-semarang-bersinergi-dengan-pemkot-siapkan-hari-santri-2016    (*)

Senin, 29 Agustus 2016

Menumbuhkan Budi Pekerti Luhur Anak Sejak Dini

ANAK adalah masa depan suatu bangsa. Dalam konteks Indonesia, di pundak merekalah masa depan bangsa ini dititipkan dan dipertaruhkan. Karena itu, semua pihak harus menaruh perhatian serius terhadap berbagai aspek kehidupan generasi peradaban ini agar mereka mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang menjadi insan-insan berkarakter yang berguna bagi bangsa dan negaranya.

Di masa mendatang, anak-anak yang cerdas, berkepribadian mantap, mandiri, disiplin, jujur, bertanggung jawab, kreatif-inovatif, memiliki etos kerja adalah keniscayaan agar mereka memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif di tengah arus globalisasi yang begitu dahsyat saat ini. Tugas mulia ini idealnya dimulai dari keluarga melalui komunikasi yang sehat, intensif, dan kultural.

Keluarga yang memiliki budaya komunikasi yang baik, akan mampu menciptakan kondisi yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya kecerdasan anak-anak, mekarnya sikap afektif, dan lahirnya pribadi-pribadi tangguh yang dapat bertahan terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang kuat, baik dari teman sebaya maupun dari peradaban dan masyarakat sendiri.

Keluarga harus berinteraksi secara positif dengan cara merespon perilaku anak-anak sejak kecil secara kultural. Dengan cara ini, anak merasa apa yang diucapkan, dipikirkan, dan diangan-angankan dalam proses komunikasi verbal dengan orangtua akan merupakan pengalaman yang positif baginya. Pengalaman-pengalaman positif ini nantinya akan bermanfaat bagi proses berpikir dan pembentukan persepsi anak sewaktu mereka menghadapi situasi lain dalam kehidupannya.


Mind and Soul: Ingin Anak Hormat, Orangtua Harus Beri Contoh

Jakarta- Orangtua harus menyadari terlebih dahulu bahwa si Kecil memiliki daya rekam yang sangat kuat. Sebelum mengajarkan mereka cara menghargai orang lain, ibu dan ayah harus memberi contoh lebih dulu.

"Cobalah untuk selalu memiliki kesadaran, di mana pun kita berada harus berperilaku yang dapat dicontoh dengan baik oleh anak-anak mereka," kata Founder Spirit of Life (SOUL) Bunda Arsaningsih dalam program Mind and Soul pada belum lama ini

Orangtua juga harus mampu menghargai orang-orang yang ada di sekeliling mereka. Misal tidak berkata kasar dan memerintah seenaknya pekerja yang ada di rumah.

"Apalagi di rumah itu ada anak-anak. Anak harus mengerti bagaimana cara kita bersikap terhadap orang lain. Anak akan merekamnya," ujar Bunda Arsaningsih.

"Bukan sekadar teori-teori saja yang kita berikan. Oleh karena itu menjadi orangtua harus mencontohkan sikap dengan pembantu kita di rumah, menghargai pembantu kita, mungkin juga dengan sopir kita, sehingga anak bisa menyadari, di dalam hidupnya membutuhkan orang lain," kata Arsaningsih.

Memang menerapkan hal ini butuh proses yang tidak sebentar. Jika orangtua mau bersabar, niscaya mereka mampu menghargai semua orang. Lakukan itu berulang-ulang. Tunjukkan ke anak, kita tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan orang lain sehingga mereka mampu belajar menghormati dan menghargai kehadiran orang lain.*

Mind and Soul: Pelajaran Dasar Membentuk Anak Berbudi Pekerti

akarta Otak anak yang masih berada pada usia nol sampai lima (golden age) adalah perekam paling canggih di dunia. Ia mampu merekam dengan baik semua omongan dan sesuatu yang mereka lihat. Orangtua yang ingin mendidik si Kecil agar kelak memiliki rasa hormat, sopan santun, dan berbudi pekerti yang baik, harus lebih hati-hati dalam bertindak dan berucap selama berada di dekat si Kecil.

"Anak mudah sekali menyerap semua tingkah laku yang dilakukan orang-orang di sekelilingnya. Kita sebagai orangtua mempunyai tanggung jawab dan peran yang sangat besar dalam mendidik mereka agar mempunyai sopan santun dalam berkata-kata," kata Founder Spirit of Life (SOUL) Bunda Arsaningsih dalam program Mind and Soul di langsir dari liputan6.com  Rabu .baru-baru ini

"Orang akan mudah sekali mengenai karakter orangtua dari anak. Karena pasti akan menurun ke anak mereka," ujar Bunda Arsaningsih.

"Mulailah sejak dini mengajarkan anak dengan kelembutan hati," kata dia menambahkan.

Menurut Bunda Arsaningsih, orangtua yang penuh cinta akan memberikan contoh yang baik ke anak-anaknya. Tidak hanya dengan kata-kata saja tapi juga perilaku yang sopan, santun, dan menghargai orang-orang di sekelilingnya.

"Ini pembelajaran dasar yang harus diberikan ke anak-anak. Sehingga ketika tumbuh dewasa menjadi (anak) berbudi pekerti yang baik dan mempunyai sopan santun," ujar Bunda Arsaningsih menambahkan.*

Rabu, 10 Agustus 2016

Full Day School Di Nilai akan Berdampak Serius pada Taman Pendidikan Alquran

SEMARANG - Gagasan yang dilontarkan Mendikbud, Muhadjir Effendy, tentang full day school di SD-SMP atau sehari penuh di sekolah, dinilai tidak efektif. Bahkan akan mengancam kegiatan pendidikan keagamaan yang biasa digelar sore, semisal Tempat Pendidikan Alquran (TPA).
Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI), KH Abdul Ghaffar Rozin mengatakan, jika wacana full day school di tingkat SD-SMP diterapkan maka akan berdampak serius pada TPA. Di Jateng saja setidaknya terdapat sekitar 19 ribu TPA yang menyelenggarakan kegiatan sore.
"Ketika full day school diberlakukan secara massif, saya kira angka itu yang akan terancam," tegasnya, Selasa (9/8/2016).
Pengasuh Ponpes Maslakul Huda Kabupaten Pati, Jateng ini mengatakan, pihaknya sejauh ini belum memposisikan menolak ataupun menerima gagasan Mendikbud. Namun ia sarankan agar dilakukan kajian lebih komprehensif mengenai dampak sosial dan sebagainya.
"Harus dilihat implikasi sosialnya, jangan-jangan nanti Sabtu nganggur justru tidak terkontrol, karena orangtuanya sibuk kerja," katanya.
Selain itu, jika memang diterapkan maka pelaksanaannya diminta tidak langsung serentak. Karena full day school memang cocok untuk masyarakat di perkotaan yang para orangtuanya sangat sibuk. Namun untuk di pedesaan dinilai belum membutuhkan.

"Kalau di daerah seperti Kabupaten di Jawa Tengah, kok belum ada yang membutuhkan full day school," katanya.
Ketua Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI) Jawa Tengah, Muh Zen Adv mengatakan, pihaknya menolak adanya gagasan Mendikbud tersebut. Sebab dari hasil evaluasi adanya penerapan lima hari sekolah di tingkat SMA/SMK di Jateng, 80 persen kegiatan belajar mengajar tidak efektif.
"Para psikolog juga merekomendasi bahwa materi pelajaran yang diberikan ke siswa setelah pukul 13.00 wib, tidak bisa diserap secara maksimal. Ini justru membahayakan pendidikan. Secara psikologis dan sosial banyak mudharatnya," tegas Zen.
Anggota Komisi E DPRD Jateng ini, juga berpendapat, gagasan Mendikbud itu dapat mematikan kelangsungan TPA. Jika Mendikbud berpandangan pihak sekolah bisa menunjuk guru agama untuk memberikan pembelajaran di sekolah, menurutnya tidak akan maksimal.
Sebab proses pendidikan di TPA bukan hanya mempelajari bacaan Alquran saja, tapi juga pendidikan karakter dan budi pekerti. "Dan masih banyak faktor lain," ujarnya. ( Tribun )

Minggu, 05 Juni 2016

Kemeriahan Karnaval Dugderan Padati Simpanglima

Kepala TK Tarbiyatul Athfal 41 Semarang Alif Wahdah S Ag paling kanan  beserta rombongan menggunakan baju koran ikut meriahkan acara dugderan sipang lima minggu pagi tadi.

Ribuan peserta mearamaikan prosesi karnaval dudgeran yang berlangsung di Lapangan Pancasila Simpanglima Semarang, Minggu (5/6) pagi.

Peserta yang meramaikan acara ini datang dari berbagai sekolah SD, SMP, UPTD Pendidikan kecamatan seluruh Kota Semarang, dan stakehokder.

Masing-masing peserta menampilkan berbagai macam seni dan budaya yang tak lepas dari Warak Ngendok. Beberapa juga tampil dengan aneka busana muslim dan musik rebana.

Tradisi dugderan memang digelar untuk menyambut datangnya Bulan Ramadan. “Saya mengapresiasi peserta hingga membuat acara ini terlihat meriah. Selain menyambut Ramadan, diharapkan ini juga menjadi daya tarik wisatawan ke Kota Semarang,” kata Wakil Walikota Semarang, Hevearita GUnaryanti Rahayu atau akrab disapa Ita dalam sambutannya acara itu.

Seluruh peserta setelah berkumpul di Lapangan Pancasila berjalan dari Simpanglima menuju Jalan Pahlawan, Taman KB, Jalan Pandanaran, dan kembali ke Simpanglima.*uut

Pegiat Pendidikan Menginspirasi sekaligus Menjadi Peringatan

Jakarta, PAUD dan Dikmas. “Ini menginspirasi sekaligus menjadi peringatan bagi kami untuk memastikan bahwa kami yang bekerja di hulu, pengambil kebijakan untuk melaksanakan tugas dengan baik,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayan (Mendikbud) Anies R Baswedan saat acara penyerahan arsip statis, karya Pak Raden, penghargaan dan hadiah lomba dalam rangka Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2016. Minggu (29/5)

Karena menurut Mendikbud bahwa mereka-mereka yang berkarya disana berinteraksi langsung dengan murid-murid, berinteraksi langsung dengan pegiat-pegiat, berkarya nyata. Oleh karena itu mereka terlihat dan merasakannya langsung, sedangkan bagi kita-kita yang barang kali bekerja didalam kementerian mungkin sering tak terlihat.

Tetapi jangan dikira yang terlihat itu tak berdampak, seperti satu tanda contrengan dalam perubahan anggaran dari Kementerian memberikan efek yang luar biasa bagi mereka yang dihilir. Oleh sebab itu Anies mengajak agar kembalikan fokus sepenuhnya untuk karya-karya nyata di ujung, bagian kita di hulu memastikan mereka untuk bisa berkarya.

Anies menyampaikan Kemdikbud berharap bahwa Peringatan Hari Pendidikan bukan sekedar perayaan seremonial yang lewat begitu saja, tetapi ini menjadi Per Ingatan sekaligus sebuah perayaan. Kita merayakan keberhasilan sekaligus mengingatkan atas peran kita, sekaligus peran pegiat-pegiat yang bekerja sepenuh hati.

Pada acara tersebut, Mendikbud memberikan penghargaan kepada 40 pegiat pendidikan yang berjasa dalam berbagai aktivitas pendidikan dan kebudayaan antara lain para pegiat literasi, pemberantasan buta aksara di masyarakat adat, pendidikan anak usia dini (PAUD), pegiat perfilman, bidang bahasa dan penelitian. (M. Husnul Farizi/KS)


                   
Sumber:http://www.paud-dikmas.kemdikbud.go.id/berita/8659.html

Selasa, 24 Mei 2016

Merayakan Bulan Pendidikan dan Kebudayaan

Gebyar Pendidikan dan Kebudayaan Hardiknas 2016 yang berlangsung di Pendopo Agung Taman Siswa, Yogyakarta, Kamis, 19 Mei 2016, berlangsung meriah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, beserta rombongan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, anggota DPR, RI, tokoh masyarakat, nampak menikmati berbagai atraksi budaya yang disuguhkan para pelajar dan mahasiswa Yogyakarta.

Mendikbud tiba di pendopo sekitar pukul 09.00 pagi. Bersama rombongan ia disambut para pelajar dan mahasiswa. Ia kemudian dikawal pasukan berpakaian prajurit keraton menuju Museum Dewantara Kirti Griya yang berada tak jauh dari Pendopo Agung.

Sebelum memasuki bangunan bekas rumah Ki Hadjar Dewantara itu, Anies sempat berkeliling untuk melihat aksi pelajar Taman Siswa yang memeragakan berbagai permainan tradisional. Di sini, ia sempat menerima sketsa wajahnya hasil kreasi anak-anak.

Gebyar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2016. Seperti dikatakan Mendikbud Anies Baswedan, tahun ini peringatan Hardiknas, dimeriahkan oleh berbagai kegiatan yang melibatkan seluruh insan pendidikan dan masyarakat.

“Kita tidak ingin keriaan kita dalam merayakan Hari Pendidikan Nasional hanya satu hari. Mulai tahun ini, kita merayakannya sepanjang bulan. Bulan ini menjadi bulan pendidkan dan kebudayaan. Temanya Nyalakan Pelita Terangkan Cita-Cita,” ujar Mendikbud.

Dalam sambutannya ia menegaskan, Taman Siswa telah menjadi persemaian manusia masa depan. Oleh karena itu pula, perayaan Hari Pendidikan Nasional, salah satunya diselenggarakan di tempat bersejarah ini. “Di tempat ini, puluhan tahun lalu dipancarkan semangat nasionalisme untuk mencerdaskan anak bangsa,” kata Mendikbud.

Dalam kesempatan tersebut, Mendikbud juga sempat memberikan pesan kepada insan pendidikan di Perguruan Taman Siswa untuk meneruskan pikiran-pikiran Ki Hadjar Dewantara dalam dunia pendidikan. Taman Siswa, tambah Mendikbud, memiliki sejarah gemilang, memiliki masa penumbuhuan anak-anak yang sangat panjang. Ia juga berharap dalam usia 100 tahun Perguruan Taman Siswa, yaitu pada tahun 2022 mendatang, Taman Siswa harus bisa menjadi mercusuar arah pendidikan di Indonesia. “Taman Siswa wajib menjadi yang terdepan dalam menyambut kemajuan zaman dan mengantisipasi perubahan zaman,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Majelis Luhur Taman Siswa Sri Edi Swasana mengatakan ajaran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan sangat progresif, namun seluruh pihak perlu berhati-hati dalam memahami ajaran karena keadaan selalu berubah. (Tim Warta/KS)

sumber:http://www.paud-dikmas.kemdikbud.go.id/berita/8639.html

Mendikbud:Ki Hadjar Dewantara adalah Sosok Visioner.

Ki Hadjar Dewantara adalah orang yang terbuka pada perubahan jaman. Ia jauh dari sikap menolak kemajuan dan perubahan. Ia sangat progresif dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Namun tak sedetipun melepaskan karakter keindonesiaan.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan pada Gebyar Budaya Hari Pendidikan Nasional 2016 di Pendopo Agung Taman Siswa, Yogyakarta. Kamis,19 Mei 2016.

Indonesia, kata dia, akan mampu sejajar bahkan lebih tinggi dari negara-negara lain, asal terus berupaya meningkatkan sumber daya manusia.  Jika Indonesia ingin menjadi pemenang maka tiap warga negara harus terdidik.

“Di tempat ini, puluhan tahun lalu dipancarkan semangat nasionalisme untuk mencerdaskan anak bangsa,” kata Mendikbud.

Ki Hadjar Dewantara, kata Mendikbud, bukan hanya  mewariskan pemikiran-pemikirannya melalui tulisan, melainkan juga lembaga pendidikan yang senyatanya bekerja untuk mencerdaskan saudara sebangsa.

Mendikbud menyebutkan, merayakan Hari Pendidikan Nasional di Taman Siswa memberikan rasa yang luar biasa.  Di Taman Siswa, dapat menyaksikan betapa seorang Ki Hadjar Dewantara mampu membaca perubahan jaman dan mampu mengekspresikan perenungannya dalam bentuk tulisan-tulisan yang jauh melebihi alam pemikiran pada masanya. “Usia pikiran dan ajaran Ki Hadjar Dewantara,  jauh melampaui usia raganya,” ujarnya.

Membaca pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara, dapat diketahui Bapak Pendidikan Indonesia ini adalah orang yang terbuka pada perubahan jaman. Sosoknya jauh dari sikap menolak kemajuan dan perubahan. Bahkan sebenarnya Ki Hadjar Dewantara adalah seseorang yang sangat progresif dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Namun bangsa ini juga tahu ia adalah sosok yang tak tergoyahkan dalam mempertahankan karakter keindonesiaan.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara juga seperti menyindir. Ia berkata, kalau dalam usaha kebudayaan, pendidikan, pengajaran, hanya sanggup meneruskan cara dan adat yang lama apa perlunya melakukan revolusi.

Pesan tersebut, menurut Mendikbud menjadi petunjuk bahwa pendidikan itu berarti memelihara hidup  untuk terus tumbuh ke arah kemajuan. “Kita tidak boleh hanya melihat  keadaan kemarin dan alam kemarin,” ujarnya.

Mendikbud mengingatkan, saat ini seringkali orangtua, pendidik, dan masyarakat tidak memahami tantangan yang sedang dihadapi. “Seringkali kita temui, saat ini kita sudah memasuki abad 21, anak-anak kita tumbuh di abad 21 tapi kita pemikiran dan sikap kita masih abad  20, dan sekolah kita masih tertinggal di abad 19,” papar Mendikbud.

Padahal, lanjut dia, situasi yang sedang dihadapi saat ini adalah sebuah revolusi..  Menurutnya, revolusi pertama adalah tenaga air dan uap. Kedua  tenaga listrik dan ketiga adalah informasi dan elektronika. Dan saat ini revolusi yang sedang berlangsung adalah tahap empat. Yakni kombinasi dari ketiganya. Digital, biologi, fisika, bercampur sehingga menghasilkan perubahan yang luar biasa cepat.

Ia menambahkan, di tengah situasi ini muncul pertanyaan yang harus dijawab. Yakni bagaimana kesiapan kita menyiapkan anak-anak di masa depan? “Ini menunjukkan betapa mendasarnya apa yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yakni bagaimana menumbuhkan anak-anak sesuai dengan kodratnya, sesuai dengan minat, bakat, dan potensinya. Inilah yang mesti kita lakukan saat ini,” tegasnya. (Tim Warta/KS)

sumber:http://www.paud-dikmas.kemdikbud.go.id/berita/8629.html

Jumat, 06 Mei 2016

TK Tarbiyatul Athfal 41 Semarng Gelar Perpisahan Th Ajaran 2015-2016

 Antusias, semua siswa TK TA 41 Semarang memperaktekan  pembuatan  roti  ,dan bermain di wisata pantai Cahaya Kendal .

Semarang.Guru, orang tua wali murid  dan siswa menggelar acara perpisahan TK ( B) Tarbiyatul Athfal  41 semarang  pada tahun ajaran 2015-2016 .Acara di gelar dengan mengunjungi  sejumlah wisata seperti  di pantai Cahaya Kota Kendal  dan mengunjungi  perusahaan Roti untuk bekal  Edukasi pengetahuan pagi semua murid Sabtu (30 /4/16).

“Kami berupaya melanjutkan pengetahuan anak mengenai aqidah dan akhlaq, Jangan pernah berhenti mencerdaskan anak dengan ilmu pengetahuan umum dan agama Islam. Mereka merupakan investasi kita dunia dan akhirat,”tutur,  Hj ,Alif Wahdah SAg,Kepala TK Tarbiyatul Athfal 41 Semarang .

Dia juga mengemukakan sekolah tersebut didirikan berbasis kepada keikhlasan dan berharap ridho Allah SWT. “Insya Allah, kami konsisten untuk memperjuangkannya. ” jelasnya.*

MULTI TAB 1

Pentas Seni & Perpisahan

Pentas Seni & Perpisahan

MULTI TAB 2

Kegiatan Kartinian

Kegiatan Kartinian

MULTI TAB 3

anoman

anoman

MULTI TAB 4

perpisahan

perpisahan

MULTI TAB 5

kartinian 2

kartinian 2


MULTI TAB 6

1

Entri Populer

MULTI TAB 7

Headline

">

MULTI TAB 9

Buku Tamu

MULTI TAB 10

Daftar Blog Saya

MULTI TAB 11




 
KEMBALI KEATAS
') }else{document.write('') } }