PENIGKATAN GIZI

Peningkatan Kesadaran Gizi Ibu dan Balita; Sosialisasi PP Muslimat NU dan Yaici di Palembang Sumatera Selatan

Dra.Hj.Khofifah Indar Parawansa, M.Si.

Mengarungi Kisah Inspiratif Hj Khofifah Indar Parawansa

MANASIK HAJI

Pembelajaran Manasik Haji Kecil TKTA Tarbiyatul Athfal41 Semarang pada Tgl.8 Oktober 2015 di Islamic Center Semarang

Pelatihan Penguatan Keaswajaan Da’iyah Muslimat NU

Penguatan Keaswajaan Bagi Da’iyah Muslimat NU DKI Jakarta

Ketua NU Kota Semarang

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, Dr. KH. Anasom MHum

Sabtu, 14 Januari 2017

Kenapa Ayah Perlu Bertualang bersama Anak Tanpa Ibunya?

Oleh: Wisnu Nugroho

"Lebih baik terlambat daripada terlambat banget." Begitu guyonan yang saya jumpai di kaus oblong yang dijajakan di emperan toko Jalan Malioboro, Yogyakarta, dan laris dibeli wisatawan, Kamis (5/5/2016) lalu.

Oblong itu laris tidak hanya karena harganya Rp 25.000, tetapi lantaran pesannya membuat rileks. Beberapa orang wisatawan yang melintas tersenyum sebelum memutuskan membeli oblong itu.

Rasa bersalah karena tuntutan ketepatan waktu di dunia yang hitung-hitungan dan diwarnai ketegangan, berkurang setelah membaca tulisan di oblong itu. Yogyakarta lihai untuk kejenakaan menertawakan kecenderungan dunia macam begini.

Saya juga tersenyum ketika mendapati tulisan di oblong itu. Tulisan di oblong itu mewakili semangat saya untuk menghabiskan waktu libur empat hari "hanya" bersama salah satu anak lelaki saya yang usianya tujuh tahun.

Antara 4-8 Mei 2016, saya habiskan sebagian besar waktu bersama anak lelaki saya dalam rangkaian "Jogja Mini Touring".

Betul bahwa kami tidak sendiri. Ada 18 mini klasik buatan tahun 1961-1990 yang ikut serta menempuh rute sejauh 1.500 kilometer dari Jakarta-Yogyakarta-Jakarta.

Namun, dalam perjalanan dan rangkaian kegiatan termasuk bakti sosial itu, saya lebih banyak memilih berdua saja dengan anak lelaki saya karena niat yang sudah saya tetapkan.

Niat itu muncul sejak lama meskipun kerap tenggelam. Niat itu muncul lagi dan seperti minta diwujudkan setelah saya membaca artikel "Why every father should bring his toddler out for a mini adventure" yang ditulis Steven Chow awal Maret 2016. Karena anak lelaki saya tidak dalam kategori "toddler" (1-3 tahun), perwujudan niat saya ini bisa disebut terlambat.

Namun, sekali lagi, lebih baik terlambat daripada terlambat banget. Begitu pembelaan saya. Mau mengajak anak ketiga, dia masih menyusui alias belum bisa pisah berhari-hari dari ibunya.

Mau mengajak anak pertama saya untuk urusan ini, terlambat banget karena dia sudah beranjak remaja dan mulai asyik dengan teman-temannya.

Ajakan terbuka

Kepada anak saya, ajakan ikut touring saya sampaikan terbuka berikut konsekuensinya. Tidak ada paksaan. Saya gembira karena untuk perjalanan jauh ini anak saya berminat.

Rencana kami susun termasuk menyikapi kemungkinan yang bisa timbul sebagai konsekuensi perjalanan yang tidak sepenuhnya bisa kami kendalikan.
Pada pokok ini, kami belajar kecil-kecilan tentang bagaimana mengelola kekecewaan dalam menghadapi situasi ketidakpastian. Ada harapan. Namun, kenyataan kerap tidak sesuai dengan harapan.
Soal harapan sampai di Yogyakarta sebelum malam misalnya, tidak sesuai kenyataan. Kami yang berangkat dari Jakarta selepas subuh via pantai utara Jawa, tiba di Yogyakarta tengah malam.

Di jalan, ada banyak perhentian entah karena gangguan kecil pada kendaraan atau karena hal-hal lain di luar dugaan, seperti pemandangan indah yang membuat kami ingin berlama-lama menikmati perjalanan. Ketidakpastian kerap juga memunculkan kejutan menyenangkan.

Perjalanan sekitar 20 jam membuat kami intens bercakap-cakap. Hal yang amat jarang bisa kami lakukan dengan intensitas seperti ini.
Sebagai pekerja, waktu tempuh ke tempat kerja dan pulang ke rumah menyita banyak waktu untuk bercakap-cakap dengan anak-anak setiap hari. Kami yang tinggal di sekitar Jakarta mengalami hal ini.
Meskipun menjelang malam saya lihat ada kekecewaan lantaran belum juga sampai Yogyakarta, anak saya bisa menerima alasannya.
Kebersamaan dan bantu membantu di perjalanan membuat kami menanggalkan ego untuk segera tiba di Yogyakarta. Kesulitan teman perjalanan adalah kesulitan bersama untuk diatasi.

Kerap abai sebagai ayah

Meskipun anak lelaki tujuh tahun sudah bisa "mandiri", pengawasan dan campur tangan orang lain bukan tidak diperlukan. Persoalan sederhana seperti tidur, bangun tidur, mandi, dan gosok gigi misalnya diperlukan campur tangan orang lain. Juga soal makan dan jenis makanan. Begitu juga soal pengaturan waktu untuk sejumlah kegiatan.

Untuk urusan-urusan ini, sebagai ayah yang bekerja, saya kerap abai dan menyerahkan semua pada istri. Namun, saat kami hanya berdua bepergian untuk waktu yang cukup lama, urusan-urusan yang tampaknya sepele ini ternyata tidak mudah juga. Kemampuan persuasi dan kesabaran menjadi tuntutan di sini.

Dalam kerepotan ini, hal-hal terkait anak yang biasanya saya hindari dengan alasan pekerjaan, harus saya hadapi. Tidak mudah dan kerap menguras energi.

Kamar berantakan sudah pasti. Ingatan saya lantas tertuju pada istri dan ibu-ibu lain yang setiap hari mereka menghadapi kerepotan yang tidak mudah ini. Empati muncul di sini.

Namun, petualangan dengan anak sendirian tidak melulu berisi hal-hal yang tidak mudah dan membuat pening. Ada saat-saat kebersamaan yang intens dan itu menyenangkan. Kami lantas saling mengenal lebih dalam.

Ketika bersepeda tandem keliling Museum Vredeberg dan menyaksikan Presiden Joko Widodo keluar dari Gedong Agung dan melambaikan tangan kami berbagi tawa. Saat ke Pantai Parangkusumo, Bantul, kami bermain pasir sampai lupa waktu.

Juga ketika ikut lava tour di Gunung Merapi, saya kelelahan meladeni keinginan anak saya yang antusias naik sampai ujung bukit tempat bungker dibangun.

Tumbuhkan empati

Dua hari kami habiskan waktu hanya di Yogyakarta. Dalam dua hari, perubahan saya rasakan. Perubahan paling nyata adalah perubahan kesadaran bahwa selama ini saya kurang mengenal anak saya.
Kesabaran saya menghadapi anak juga jauh dari yang saya duga dan harapkan. Perjalanan ini sejatinya memang untuk saya pertama-tama.
Hal yang lebih kurang sama dialami beberapa teman saya yang ikut "Jogja Mini Touring" ini. Ronny Jauw, misalnya, yang membawa serta dua anaknya berusia tujuh tahun dan empat tahun tanpa istri.

Bagi Ronny, bepergian bersama anak-anak merupakan kesempatan mendekatkan diri dan memahami anak-anak dari kacamata mereka secara lebih intens serta memahami bagaimana "repotnya" seorang istri.

Kesadaran yang muncul karena pengalaman ini mengubah bagaimana saya berinteraksi dengan anak saya ketika perjalanan kembali dari Yogyakarta ke Jakarta via pantai utara Jawa. Dalam perjalanan itu, hormat saya kepada istri dan ibu-ibu di mana pun juga bertambah.

Karena kesadaran atas pengalaman ini, saya sepakat dengan apa yang ditulis dan menjadi kesadaran Chow. Jika hendak membuat suami Anda memahami bagaimana rasanya menjadi istri atau ibu, yakinkan suami Anda untuk membuat petualangan atau perjalanan dengan anak-anak sendiri tanpa istri.

Untuk memulai hal ini, lebih baik terlambat daripada terlambat banget.

Oh ya, di lebih dari dari 80 negara, Minggu (8/5/2016) kemarin, diperingati sebagai Hari Ibu. Di Indonesia, kita punya tradisi sendiri tiap 22 Desember. Mengingat pentingnya peran ibu untuk sebuah generasi, makin kerap kita mengingat dan merayakannya makin baik menurut saya.

Selamat Hari Ibu. Selamat merencanakan petualangan bersama anak-anak Anda tanpa ibunya.


Sumber:http://sains.kompas.com/read/2016/05/09/07350231/Kenapa.Ayah.Perlu.Bertualang.bersama.Anak.Tanpa.Ibunya.

Belajar dari "Si Bolang", bahwa Hidup Tak Melulu Soal Uang

Siapa tidak kenal Si Bolang? Bocah yang lincah dan gemar bertualang hingga ke pelosok Indonesia.

Sejak pertama kali tayang di Trans 7 pada Maret 2006, Si Bolang sudah menayangkan lebih dari 1.000 episode dan sudah mendapatkan banyak penghargaan. Salah satunya KPAI Award sebagai Program Ramah Anak.

Kini, seluruh tayangan Si Bolang tak hanya bisa dinikmati lewat televisi, tapi juga lewat buku. Seluruh episode tayangan ini akan hadir berseri dengan berbagai tema.

Beberapa waktu sebelumnya telah terbit 'Si Bolang Eduventure' yang bercerita tentang kehidupan Si Bolang di Papua, Si Bolang NTT, Si Bolang Jawa Tengah, dan Si Bolang Kaltim dan Kaltara.

Kali ini, giliran Si Bolangpedia yang sudah siap mengajak seluruh anak Indonesia berpetualang. Buku Si Bolangpedia berkisah tentang berbagai tema, antara lain cara bertahan hidup, melakoni permainan tradisional, beragam musik, dan tarian daerah. Semuanya asyik dan menarik!

Si Bolangpedia (Bertahan Hidup) misalnya, meliputi cara membuat pakaian, mengolah bahan makanan, membangun tempat tinggal, meracik obat-obatan, hingga cara meramu pestisida untuk mengusir hama. Tak ketinggalan cara merakit alat transportasi, membuat penunjuk arah, teknologi sederhana hingga pencahayaan. Hebatnya, semua kebutuhan ini bersumber dari alam!
Bertahan hidup

Buku ini sangat cocok untuk mengenalkan beragam kearifan lokal Indonesia pada anak-anak kita. Apalagi seluruh keberagaman itu diceritakan dari sudut pandang anak-anak dengan gaya bahasa yang sederhana.
Tentu, ini tak luput dari kepiawaian penulisnya, Johanna Ernawati, yang memang sudah belasan tahun menulis untuk Majalah Bobo. Sebagai daya tarik, buku ini juga dilengkapi gambar-gambar cantik yang akan membuat anak-anak betah menelusuri pulau demi pulau, dari ujung Sumatra hingga ke Papua.

Cerita dimulai dari Si Bolang yang diajak Pak Profesor untuk bertualang keliling Indonesia menggunakan pesawat kecil. Sayangnya, cuaca buruk menghantam pesawat mereka hingga Bolang dan Sang Profesor terdampar di sebuah pulau. Mampukah mereka bertahan dengan mengandalkan kekayaan alam?

Berangkat dari kisah itulah Bolang dan Pak Profesor mengajak pembaca berkenalan dengan anak-anak di Lebong Tandai, Bengkulu, yang memanfaatkan keasaman buah paung untuk mengawetkan ikan.
Mereka juga mengajari cara membuat rok tauri dari pucuk sagu bersama bersama teman-teman dari Mimika Barat. Lihat pula keseruan anak-anak Jambi memanfaatkan busa-busa buah lerak sebagai sabun mandi.
Sedang sakit gigi? Tak usah ke apotek. Kulit batang pohon ketapang bisa dimasak dan dijadikan obat kumur-kumur seperti yang dilakukan anak-anak di Papua Barat.

Mati lampu dan butuh penerangan? Coba saja membuat lampu dari minyak kemiri yang dibakar, seperti dilakukan teman-teman di Nusa Tenggara Timur.

Secara keseluruhan buku ini memberikan dua pelajaran penting untuk anak-anak, yaitu mencintai alam dan mencintai proses. Hidup memang tidak melulu mengandalkan uang, tetapi cukup dengan menjaga alam yang sudah menyediakan segala kebutuhan kita.
Tentu saja, semua itu membutuhkan sebuah proses panjang. Namun, proseslah yang akan mengajarkan anak untuk sabar, tidak gampang menyerah, kreatif, belajar menghargai sesuatu sehingga mampu bersyukur dalam keadaan apa pun.
Salam Bocah Petualang!


Sumber:http://edukasi.kompas.com/read/2016/12/27/11221631/belajar.dari.si.bolang.bahwa.hidup.tak.melulu.soal.uang.

Jumat, 06 Januari 2017

Pengembangan Seni di Taman Kanak-Kanak (TK)

Taman Kanak-kanak (TK) merupakan lembaga pendidikan formal sebelum anak memasuki sekolah dasar, lembaga ini sangat strategis dan penting dalam penyediakan pendidikan bagi anak usia 4-6 tahun. Anak usia ini merupakan golden age (usia emas) di dalamnya terdapat “masa peka” yang hanya datang sekali. Masa peka adalah suatu masa yang menuntut perkembangan anak dikembangkan secara optimal. Pendapat Bloom menyatakan bahwa:
80% perkembangan mental, kecerdasan anak berlangsung pada usia 4-6 tahun ini.
Kenyataan di lapangan bahwa anak yang tinggal kelas, drop out, khususnya pada kelas rendah disebabkan anak yang bersangkutan tidak melalui pendidikan di TK.

Sebagai makhluk yang merasa dan memikir, anak mempunyai kebutuhan untuk menyatakan perasaan dan pikiran dengan berbagai macam cara menurut keinginannya sendiri. Dalam meyatakan perasaan dan pikiran atau berekspresi itu anak menghayati berbagai macam perasaan tentang hal-hal atau peristiwa yang dialami, seperti perasaan senang, perasaan puas, perasaan keindahan dan sebagainya.

Pendidikan TK memberi kesempatan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan berekspresi dengan berbagai cara dan media kreatif (alat untuk berkreasi), seperti kegiatan-kegiatan dengan menggunakan kertas, pensil berwarna, krayon, tanah liat, bahan alam, bahan bekas dan lainnya. Di dalam kegiatan pengembangan seni terdapat bermacam-macam kegiatanyaitu seni corak/gambar, seni lukis, seni bentuk, seni musik, seni suara dan seni tari. Seni kanak-kanak sanagt terbatas dan amat sederhana, baik bentuk, perwujudannya maupun isinya, namun dapat dikatakan memenuhi syarat-syarat keindahan. Ciri-ciri keindahan yang khas sesuai jiwa anak yang masih sangat muda, selalu mengharapkan segala sesuatu yang bersifat indah dan menyenangkan dalam hidupnya.

Hakikat Seni

Pada dasarnya seni adalah hasil keindahan kreasi manusia. Jadi keindahan alam tidak termasuk dalam pengertian seni, walaupun ada hubungannya, karena keindahan alam itu selalu mempengaruhi perasaan keindahan manusia dan senantiasa menjadi sumber keindahan. Oleh karena itu perbuatan atau pekerjaan manusia erat hubungannya dengan pikiran. Sekalipun dasar perbuatan itu adalah perasaan, akan tetapi dalam seluruh proses pekerjaan seni tidak hanya ditentukan oleh perasaan saja, melainkan bertalian erat dengan pikiran. Halus dan jernihnya perasaan serta tajamnya pikiran merupakan syarat-syarat untuk dapat menciptakan perwujudan seni yang tinggi mutunya. Pikiran menentukan benar atau salahnya perwujudan dan yang menentukan bagus atau tidaknya perwujudan seni adalah perasaan. Berhubung perasaan manusia itu berbeda-beda maka sering kali perwujudan seni dianggap baik oleh seseorang dan dianggap jelek oleh orang lain. Penentuan ini sifatnya sangat individual dan subyektif. Walaupun demikian, ada ukuran-ukuran sebagai hasil penyelidikan yang dilakukan dalam bidang sei yang pada umumnya dapat dipakai sebagai pedoman untuk menentukan rendah atau tingginya mutu seni.



Sumber:http://www.membumikanpendidikan.com/2015/03/pengembangan-seni-di-taman-kanak-kanak.html

Ini Contoh Kegiatan Pengembangan Kemampuan Seni di TK

Contoh-Contoh Kegiatan Pengembangan Kemampuan Seni di TK. Sehingga dimungkinkan guru dapat mengembangkan sendiri sesuai dengan kondisi guru, anak didik, sarana prasarana, dan kondisi lingkungan setempat, dan sebagai bahan rujukan penyusunan Satuan Kegiatan Mingguan (SKM) dan Satuan Kegiatan Harian (SKH).

Sebagai makhluk yang merasa dan memikir, anak mempunyai kebutuhan untuk menyatakan perasaan dan pikiran dengan berbagai macam cara menurut keinginannya sendiri. Dalam meyatakan perasaan dan pikiran atau berekspresi itu anak menghayati berbagai macam perasaan tentang hal-hal atau peristiwa yang dialami, seperti perasaan senang, perasaan puas, perasaan keindahan dan sebagainya.

Pendidikan TK memberi kesempatan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan berekspresi dengan berbagai cara dan media kreatif (alat untuk berkreasi), seperti kegiatan-kegiatan dengan menggunakan kertas, pensil berwarna, krayon, tanah liat, bahan alam, bahan bekas dan lainnya. Di dalam kegiatan pengembangan seni terdapat bermacam-macam kegiatan yaitu seni corak/gambar, seni lukis, seni bentuk, seni musik, seni suara dan seni tari. Seni kanak-kanak sangat terbatas dan amat sederhana, baik bentuk, perwujudannya maupun isinya, namun dapat dikatakan memenuhi syarat-syarat keindahan. Ciri-ciri keindahan yang khas sesuai jiwa anak yang masih sangat muda, selalu mengharapkan segala sesuatu yang bersifat indah dan menyenangkan dalam hidupnya.

Pengertian Seni

Pada dasarnya seni adalah hasil keindahan kreasi manusia. Jadi keindahan alam tidak termasuk dalam pengertian seni, walaupun ada hubungannya, karena keindahan alam itu selalu mempengaruhi perasaan keindahan manusia dan senantiasa menjadi sumber keindahan. Oleh karena itu perbuatan atau pekerjaan manusia erat hubungannya dengan pikiran. Sekalipun dasar perbuatan itu adalah perasaan, akan tetapi dalam seluruh proses pekerjaan seni tidak hanya ditentukan oleh perasaan saja, melainkan bertalian erat dengan pikiran. Halus dan jernihnya perasaan serta tajamnya pikiran merupakan syarat-syarat untuk dapat menciptakan perwujudan seni yang tinggi mutunya. Pikiran menentukan benar atau salahnya perwujudan dan yang menentukan bagus atau tidaknya perwujudan seni adalah perasaan. Berhubung perasaan manusia itu berbeda-beda maka sering kali perwujudan seni dianggap baik oleh seseorang dan dianggap jelek oleh orang lain. Penentuan ini sifatnya sangat individual dan subyektif. Walaupun demikian, ada ukuran-ukuran sebagai hasil penyelidikan yang dilakukan dalam bidang sei yang pada umumnya dapat dipakai sebagai pedoman untuk menentukan rendah atau tingginya mutu seni.

Seni merupakan ciptaan manusia, oleh sebab itu senantiasa ada kesesuaian dengan sifat-sifat manusia yang menciptakannya. Demikian juga halnya dengan seni kanak-kanak. Keindahan yang terdapat dalam berbagai perwujudan seni kanak-kanak ada kesesuaiannya dengan jiwa dan perasaan anak, yang minat dan perhatiannya senantiasa tertuju kepada segala sesuatu yang bersifat indah dan menyenangkan baginya. Jiwa dan sifat anak-anak tercermin dalam “perbuatan seni”-nya dan mempunyai keindahan yang khas. Kenyataan ini menuntut pengertian, penghargaan dan penilaian yang lain sifatnya dalam pendidikan.

Di Taman Kanak-kanak pemenuhan kebutuhan anak untuk berekspresi itu mendapat bimbingan dan pembinaan secara sistematis dan berencana agar kesempatan berekspresi yang diberikan kepada anak benar-benar mempunyai arti dan bermanfaat baginya. Jika mulai sejak dini anak diberikan bimbingan dan pembinaan yang sebaik-baiknya untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif dan menghayati emosi yang bergejolak dalam dirinya, maka daya fantasi atau imajinasi, daya kreasi dan perasaan estetis, anak memperoleh rangsangan untuk berkembang dengan anak. Setiap anak mempunyai keinginan untuk menciptakan sesuatu. Hasrat dan kemampuan yang ada dirangsang dan dibina sehingga memperoleh kesanggupan untuk menciptakan sesuatu dan merasa puas akan hasil ciptaannya. Rasa puas akan hasil ini merupakan dorongan bagi anak untuk ingin selalu menciptakan sesuatu yang baru yang mendorong anak menjadi lebih kreatif.


Sumber:http://www.membumikanpendidikan.com/2015/10/contoh-contoh-kegiatan-pengembangan-kemampuan-seni-di-tk.html

Tujuan dan Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Tujuan dan Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) - Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk satuan pendidikan pada jenjang pendidikan anak usia dini yang pada hakekatnya adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak.

PAUD adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak (kompetensi).

Tujuan dan Ruang Lingkup PAUD

Tujuan PAUD, pada umumnya tujuan PAUD adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tujuan PAUD antara lain adalah:
Kesiapan anak memasuki pendidikan lebih lanjut
Mengurangi angka mengulang kelas
Mengurangi angka putus Sekolah (DO)
Mempercepat pencapaian Wajib belajar Pendidikan Dasar 9 tahun
Meningkatkan Mutu Pendidikan
Mengurangi angka buta huruf muda
Memperbaiki derajat kesehatan & gizi anak usia dini
Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Selain tujuan di atas, menurut UNESCO (2005) tujuan PAUD antara lain berdasarkan beberapa alasan:
Alasan Pendidikan: PAUD merupakan pondasi awal dalam meningkatkan kemampuan anak untuk menyelesaikan pendidikan lebih tinggi, menurunkan angka mengulang kelas dan angka putus sekolah.
Alasan Ekonomi: PAUD merupakan investasi yang menguntungkan baik bagi keluarga maupun pemerintah
Alasan sosial: PAUD merupakan salah satu upaya untuk menghentikan roda kemiskinan
Alasan Hak/Hukum: PAUD merupakan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang dijamin oleh undang-undang.

PAUD juga bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi anak agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Sedangkan Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, dan cakap.

Minggu, 01 Januari 2017

Mendikbud: Berbanggalah Menjadi Guru Pamong, dan Tenaga Kependidikan

Jakarta, PAUD dan Dikmas. “Berbanggalah menjadi seorang guru”, ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat memimpin upacara bendera. Memperingati Hari Guru Nasional (HGN) 2016 dan HUT ke-71 Persatuan Guru Republik Indonesia, di halaman komplek Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).belum lama ini.

Sebab di tangan para Guru, Pamong, dan Tenaga Kependidikan, masa depan bangsa kita menjadi taruhan. Melalui anak-anak peserta didik di sekolah dan di sanggar-sanggar belajar kita akan menentukan masa depan bangsa, Tidak ada sosok sukses yang tidak melewati sentuhan seorang guru.

Kita bisa berdiri tegak saat ini juga karena pernah ditempa oleh para guru, ujar Mendikbud dihadapan peserta upacara yang terdiri pegawai di lingkungan Kemendikbud, pendidik dan tenaga kependidikan serta para undangan. Selain itu, Mendikbud juga menyampaikan Pemerintah selama ini telah mengupayakan banyak hal agar para guru semakin profesional.

Namun upaya itu akan sia-sia belaka tanpa keinginan keras dari pihak guru itu sendiri, serta Pemerintah telah bertekad meningkatkan kesejahteraan guru melalui pemberian tunjangan profesi dan tunjangan, khusus bagi guru yang sudah bersertifikat pendidik.

Oleh sebab itu Mendikbud berharap hal ini berimplikasi nyata bagi perbaikan kompetensi dan kinerja guru, dibuktikan dengan peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa. (SICC). (KS/Tim Warta/MHF)


Sumber:https://www.paud-dikmas.kemdikbud.go.id/berita/8754.html

Apresiasi Presiden Joko Widodo Bagi Guru, Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Bogor, PAUD dan Dikmas. “Satu orang hebat bisa melahirkan beberapa karya hebat, tapi satu guru hebat bisa melahirkan ribuan orang hebat”. Ujar Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, saat Puncak acara Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2016 sekaligus Hut Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke 71. Sentul International Convention Center (SICC), Minggu (27/11)

Pada acara yang mengangkat tema “Guru Mulia Karena Karya”, Presiden Joko Widodo juga menyampaikan apresiasinya kepada para guru, pendidik dan tenaga kependidikan (GTK). Serta menyampaikan komitmennya untuk memperhatikan kesejahteraan para guru, salah satunya dengan cara mensertifikasi para guru honorer guna menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Bahkan Presiden yang pada saat itu didampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dan Menteri Agama (Menag), memberikan penghormatan khusus dengan cara membungkukkan badan dihadapan para guru atau pendidik dan tenaga kependidikan yang hadir, serta menyematkan Tanda Kehormatan Satya Lencana Pendidikan kepada 15 dari 52 guru atau pendidik penerima penghargaan.

Selain acara seremoni, puncak acara tersebut diramaikan juga dengan simposium yang mengangkat 10 topik pembahasan, yaitu : Penguatan Pendidikan Karakter di Satuan Pendidikan, Optimalisasi Pendidikan Inklusi, Revitalisasi SMK dalam Menghadapi Daya Saing Ketenagakerjaan, Membangun Budaya Literasi di Satuan Pendidikan, dan Profesionalitas GTK melalui GTK Pembelajar.

Perlindungan GTK, membangun sekolah yang aman dan nyaman untuk warga sekolah, peningkatan mutu dan akses pendidikan di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), teknologi informasi sebagai media dan sumber belajar, dan penilaian kinerja GTK.

Termasuk pameran pendidikan berupa penampilan program dan produk – produk yang ada di unit utama di lingkungan Kemdikbud, salah satunya Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas). Dengan membagikan buku panduan PAUD, buku tentang pendidikan keaksaraan dasar dan keaksaraan, buku usaha mandiri, serta membagikan poster dan souvenir. (KS/Tim Warta/MHF)


Sumber:https://www.paud-dikmas.kemdikbud.go.id/berita/8756.html

GURU MULIA KARENA KARYA

Bogor-PAUD dan Dikmas. “Guru Mulia Karena Karya” menjadi tema rangkaian kegiatan yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional dan Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) 2016, dengan puncak pelaksanaan di Sentul Internasional Confention Center (SICC). Minggu (28/11)

Pada acara puncak tersebut turut hadir Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saefuddin, Kepala Daerah Tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kotamadya, beserta 13 pelimpahan Asosiasi guru dan ribuan Guru dari seluruh pelosok Indonesia.

Dibuka Mendikbud, Muhadjir Effendy menyampaikan peran guru yang sangat mulia dan yang sangat strategis, sehingga dirinya mengajak seluruh guru dan tenaga Kependidikan Indonesia untuk bangga pada profesi tersebut. “Hari ini adalah harinya orang-orang mulia yang menyiapkan generasi masa depan yang lebih cemerlang’, ujarnya.

Sementara itu masih pada acara yang sama Presiden Joko Widodo menyematkan Tanda Kehormatan Satya Lencana Pendidikan, kepada 15 guru dari 52 penerima penghargaan, Selain itu Presiden juga menyampaikan 3 pesan kepada para guru yang hadir, yaitu : Pertama Peran guru sangat penting dalam memenuhi pemahaman keberagaman pada anak didik, kedua agar para guru menanamkan nilai-nilai, karakter pada anak didik, seperti kerja keras, kejujuran, kedisiplinan dan optimisme.

Dan yang ketiga mengenai etika dalam menggunakan media social saat ini sudah sangat terbuka dan tidak bisa kita hambat dengan cara apapun. Sayangnya media sosial justru digunakan untuk saling hujat, menjelekkan antar anak bangsa , saling memaki memfitnah,adu domba, semua ini ada di media social (medsos). Ini bukan tata nilai bangsa Indonesia, “ Kata Jokowi. (KS/Tim Warta/MB/MHF)


sumber :https://www.paud-dikmas.kemdikbud.go.id/berita/8757.html

Senin, 26 Desember 2016

Perlukah Ibu Mengarahkan Kehidupan Sosial Anak

Jakarta Kehidupan sosial sering kali menimbulkan kekhawatiran akan hal-hal berbau intimidasi dan perkelahian pada anak. Hal ini bisa membuat anak menjadi pribadi yang sulit bersosialisasi, bahkan tak bisa menangani masalahnya sendiri.

Mengutip laman Modern Mom, ditulis Jumat  baru-baru ini .
tentunya orangtua sebagai orang terdekat bisa membantu juga mengarahkan anak untuk menjalin tali pertemanan yang baik. Sebab, menjalin hubungan pertemanan bisa jadi sebuah tantangan bagi anak.

Berikut langkah yang perlu diperhatikan orangtua, terutama para ibu, untuk mengatasi konflik yang terjadi pada lingkungan sosial anak. Bahkan peran ibu mampu mendorong anak menjadi sosok yang aktif dan menyenangkan di segala situasi dan kondisi.

# Langkah 1

Tanyakan kepada anak apakah ia memiliki masalah dengan temannya. Jika anak menampakkan perubahan, seperti menarik diri atau bahkan tidak tertarik lagi bergabung bersama temannya dalam suatu aktivitas yang ia lakukan, mungkin saja anak mengalami konflik bahkan depresi.

Pertimbangkan kemungkinan berkonsultasi kepada terapis untuk mengetahui lebih lanjut jika anak benar mengalami depresi guna menemukan solusi untuk mengatasinya. Sebab, dampak yang akan terjadi pada anak di kemudian hari ialah rasa malu, rendah diri, keterampilan sosial yang buruk atau kesulitan lainnya.

# Langkah 2

Membangun pembicaraan hangat dengan anak seperti apa yang terjadi di sekolah atau lingkungan barunya. Terkadang, langkah ini dapat menjadi pilihan dalam menangani konflik yang melanda anak pada lingkungan sosial mereka.

Orangtua, Jangan Sebut 6 Kalimat Terlarang Ini di Depan Anak

Jakarta Tidak semua orangtua menyadari bahwa kata atau kalimat yang kerap digunakan saat berkomunikasi dengan anak pengaruhnya sangat besar terhadap masa depan si buah hati. Pasalnya, mereka yang tidak tahu dampaknya pada anak cenderung lebih sering berkata, berkomunikasi atau memberikan perintah pada anak tanpa pikir panjang akan konsekuensinya.

Setiap orangtua wajib menyadari, anak cenderung mencontoh gerak-gerik, gaya berbicara, filosofi hidup dan perilaku orangtua mereka. Tidak hanya menjadikan orangtua sebagai panutan saja, anak-anak juga menilai setiap omongan orangtua mereka sebagai tolak ukur akan suatu hal.

Terlebih, anak juga sangat mungkin memasukkan kalimat apa pun yang keluar dari mulut orangtuanya ke dalam hati. Ini semua membuktikan keistimewaan sosok orangtua di mata anak. Mengetahui fakta ini, para orangtua dianjurkan untuk selalu menunjukan perilaku baik agar anak mengadopsi karakter serupa.

Orangtua juga disarankan untuk selalu berhati-hati menggunakan kata dan kalimat saat berbicara dengan anak. Hati mereka masih rapuh dan apa pun yang ingin diutarakan orangtua pasti dianggap serius dan disimpan dalam memorinya seumur hidup.

jadi, alangkah baiknya jika orangtua berpikir dua kali sebelum melontarkan kalimat yang berpotensi menyakiti hati atau mengecewakan sang anak. Seperti apa kalimat-kalimat terlarang yang orangtua wajib hindari saat sedang asik mengobrol dengan si buah hati? Berikut contohnya seperti dilansir dari Womansday, baru -baru ini

1. "Nilai tes kamu bagus nak, tapi kenapa baru kali ini setelah mama dan papa desak kamu untuk belajar baru nilainya bagus?"

Hindari mengombinasikan kalimat positif dan negatif. Cukup memujinya soal nilai tes saja, tanpa harus menggunakan kata sambung 'tapi' atau 'tetapi'. Kata tersebut mampu mengubah pandangan positif menjadi negatif dalam waktu singkat. Jangan buat anak merasa ia tidak becus lantaran harus didesak terlebih dahulu untuk mencapai suatu hal di hidupnya. Jangan pula membuat dirinya merasa tidak mampu mendapatkan nilai bagus karena ia kemungkinan besar tumbuh menjadi sosok yang kurang percaya diri dengan kemampuan otaknya.

2."Mama dan papa bangga kamu ranking dua, tapi bakal jauh lebih bangga lagi kalau ranking satu!"

Ketika anak sudah meraih posisi tergolong tinggi, jangan terus-menerus menaikkan ekspektasi. Ini akan menumbuhkan karakter terlalu perfeksionis padanya. Karakter ini umumnya dipuja atau diidolakan orang lain karena menjadi perfeksionis berarti segala sesuatu yang ada atau terjadi dalam hidupnya menghampiri sempurna dan kesuksesan dianggap suatu hal yang wajib. Meski terkesan menarik namun menjadi terlalu perfeksionis, khususnya soal kedudukan atau posisi akan membuatnya kesulitan merasa puas dan bersyukur soal apa pun. Anak cenderung akan tumbuh menjadi sosok yang sering ketar-ketir, merasa panik, terlalu kompetitif sampai tidak punya banyak teman dan kemungkinannya sangat besar diserang penyakit kejiwaan seperti depresi.

3. "Kamu tuh ya bikin mama dan papa emosi!"

Usahakan untuk tidak menunjukan amarah di depan anak karena hal tersebut sangat menular dan sang anak sangat mungkin mencontoh cara pelampiasan amarah yang diperlihatkan oleh orangtuanya.

4. "Ayo makannya jangan kebanyakan nanti kamu gendut loh!"

Tubuh anak tengah berkembang dan membutuhkan asupan nutrisi dari makanan dan minuman sehat sebanyak-banyaknya. Belum waktunya untuk mereka memikirkan berat badan sampai segitunya. Jika orangtua kerap mengatakan hal ini berulang kali, sang anak kemungkinan akan menjadi terbiasa tidak makan atau mengonsumsi makanan hanya dalam porsi kecil saja. Ia bisa menjadi sering sakit kedepannya dan secara psikis tidak akan puas dengan bentuk badannya.

5. "Kamu jangan lari ke yang tidak-tidak seperti narkoba, kalau sampai iya kamu tidak akan disayang oleh mama dan papa lagi!"

Ketika orangtua berupaya melindungi anaknya dari hal-hal negatif dan juga orang-orang jahat, mereka semestinya menjelaskan alasannya kenapa sang anak tidak diperbolehkan melakukan hal tersebut dan mengapa orang-orang dianggap berbahaya tertentu patut dijauhi. Ketika yang diberikan hanya sebuah instruksi dan ganjaran yang tidak jelas maksudnya apa, sang anak cenderung akan lebih memilih untuk membangkang dan mengikuti rasa penasarannya. Lebih parahnya lagi, sang anak kemungkinan besar menggunakan aksi ini sebagai senjatanya melawan orangtua yang tidak sepaham dengannya soal sesuatu. *

Strategi Besarkan Anak Yang Pemalu

Jakarta -Membesarkan sekaligus mendidik anak merupakan pekerjaan paling sulit bagi semua orang.

Saat usia anak masih tergolong sangat muda yaitu di bawah 10 tahun, tanggapannya pada hal-hal yang berada di sekitarnya sangat penting lantaran berpotensi menjadi karakter yang akan mendarah daging hingga dewasa nanti.

Umumnya, ada tiga jenis respon yang ditunjukan oleh anak ketika dirinya dihampiri atau dihadapi akan suatu hal yang masih asing di pandangan dan juga pikirannya.

Ada yang percaya diri atau mencerminkan sikap pemberani, ada pula yang penakut dan ada juga yang pemalu. Respon pemberani biasanya dipicu oleh rasa penasaran, penakut oleh rasa tidak aman akan ancaman atau rasa sakit. Sementara pemalu merupakan produk dari dua rasa yaitu, ketidakpercayaan diri sekaligus ketakutan.

Memiliki seorang anak berjiwa pemalu memang tidak mudah. Pasalnya kedua orangtua akan dihadapi serangkaian tantangan mulai dari ketidaknyamanan anak pada hal-hal baru, tangisan tiada henti yang diakibatkan rasa takut atau sakit dan masih banyak lagi.
Berikut cara bantu anak atasi jiwa pemalunya, seperti dilansir dari Live Science,baru-baru ini.

Hindari sikap protektif

Melindungi anak merupakan hal yang wajar. Namun ketika dilakukan secara berlebihan akan membuat sang anak merasa terlalu nyaman dan tidak biasa dengan adanya hal-hal baru suatu hari nanti.

Bantu anak melawan sifat kurang Percaya diri

Biarkan anak melalui hal-hal yang kurang nyaman dengan sifat aslinya yaitu, pemalu. Ini mungkin merupakan tantangan berat baginya tapi ketika ia melaluinya, ia akan merasakan keuntungan besar yang mana bisa memicu keinginan untuk berubah. Contohnya saat ia harus tampil di depan kelas, jangan berdiri di sampingnya seperti biasanya.

Biarkan dirinya merasa grogi tanpa ada Anda untuk memeluknya, tonton sang anak dari jauh. Berikan dirinya senyuman dan motivasi, ia akan pelan-pelan merasa termotivasi, atau setidaknya perasaan terpaksa untuk melakukan hal tersebut dengan harapan apapun itu cepat berakhir dan ia bisa kembali ke pelukan Anda. Tentu Anda akan berikan pelukan setelah itu, tetapi ingat untuk selalu ajarkan dirinya untuk lalui tantangan terlebih dahulu. Tidak ada apa pun bisa didapatkan secara cuma-cuma.*

Senin, 19 Desember 2016

Konten Edukatif di Gatget Belum Tentu Efektif untuk Anak

Jakarta Saat ini mungkin banyak konten edukatif untuk anak yang bisa diunggah gratis melalui gawai (gadjet). Namun siapa sangka kalau penggunaan gawai tanpa pendampingan orangtua tidak mempengaruhi perkembangan anak.

"Orangtua harus paham kalau gawai itu hanya tools (alat pelengkap) dalam membimbing anak. Jadi tetap saja butuh komunikasi dua arah antara orangtua dan anak saat si kecil main gawai," kata Psikolog dari Rainbow Castle, Devi Raissa M.Psi, saat ditemui Liputan6.com di kawasan Bangka, Jakarta Selatan, ditulis Sabtu (15/10/2016).


Bahkan menurut penelitian, kata Devi, isi permainan yang mendidik atau edukatif di gatget sama sekali tidak mempengaruhi otak anak bila tidak ada pendampingan dari orangtua.

"Kalau anak cuma diberi gadjet saja, tanpa pendampingan dia enggak akan dapat apa-apa. Tapi beda kalau ada pendampingan, komunikasi itu yang dibutuhin sama anak kecil."

Devi menambahkan, penggunaan wajar gawai pada anak hanya 30 menit sampai satu jam. Itupun waktunya dipecah, misalkan siang 15 menit, malam 10 menit dan sebagainya.

"Ada banyak dampak buruk gadjet pada anak, seperti misalnya anak-anak jadi kurang atensinya, menyita perhatian ataupun bisa memaksa otak anak bekerja lebih keras. Jadi kalau dia main game misalnya, itu kan cepat atau video bisa di forward, saat masuk ke dunia nyata, dia akan menganggap segala hal di sekelilingnya lambat, butuh waktu, jadi dia butuh stimulasi tambahan. Makanya dia suka lari-larian, enggak fokus, enggak dengerin orangtua," pungkasnya.*

Siasat Ibu Bekerja Isi Liburan Sekolah Anak

Jakarta Liburan sekolah sudah tiba. Bagi anak-anak, ini adalah waktu yang menyenangkan karena terbebas dari beban pelajaran. Sementara bagi orangtua, harus putar otak agar liburan sekolah anak jadi berkualitas.

"Kalau musim liburan sekolah, sudah banyak orangtua curhat, 'Haduh anakku udah mulai libur, ngapain ya?'. Baik orangtua yang bekerja maupun tidak sama pusingnya. Kan biasanya anak sibuk di sekolah, sekarang harus memberikan aktivitas buat anak," kata psikolog Carmelia Riyadhni.

Mengisi liburan sekolah makin jadi tantangan bagi orangtua yang keduanya bekerja. Terlebih akhir tahun biasanya beban pekerjaan malah semakin tinggi. Seperti harus membuat laporan dan evaluasi kerja.

Menanggapi hal ini Carmel menyarankan agar orangtua bisa menciptakan liburan seru di rumah, misalnya menonton film. Sediakan beberapa pilihan film yang pas dengan anak. Beri mereka pilihan film A, B, atau C. Selagi Anda bekerja, anak bisa menonton film tadi.

"Saat Anda sudah pulang, ajak anak membahas film tadi. Misalnya menonton Garuda di Dadaku. Tanyakan padanya, 'Gimana filmnya?'. 'Kegagalannya apa saja dialami di cerita film itu?', 'Biar enggak gagal seperti apa, Dek?'," jelas Carmel saat diskusi media bersama HOOQ ditulis Senin (19/12/2016).


Kamis, 15 Desember 2016

TA 41 Adakan Renang bersama Siswa

Anak-Anak Siswa TK B antusias gembira bersama mengikuti kegiatan sekolah TK TA 41  di kolam renang Semarang pada hari kamis 15/12/2016














MULTI TAB 1

Pentas Seni & Perpisahan

Pentas Seni & Perpisahan

MULTI TAB 2

Kegiatan Kartinian

Kegiatan Kartinian

MULTI TAB 3

anoman

anoman

MULTI TAB 4

perpisahan

perpisahan

MULTI TAB 5

kartinian 2

kartinian 2


MULTI TAB 6

1

Entri Populer

MULTI TAB 7

Headline

">

MULTI TAB 9

Buku Tamu

MULTI TAB 10

Daftar Blog Saya

MULTI TAB 11




 
KEMBALI KEATAS
') }else{document.write('') } }